• Telp : 0725-41507
  • Fax : 0725-47296
Diposting oleh Tgl 12-11-2017 & wkt 08:40:41 dibaca Sebanyak 69 Kali

Saya menemukan banyak tulisan sebuah kritik saran terkait pembangunan rehab tangga ada yang menyebutnya flayover, yang menurut saya kata ini terlalu berlebihan sehingga menyamakan rehab tangga dengan flayover yang ada di beberapa tempat. Kritik yang muncul menurut saya tidak berimbang hanya melihat dari satu sisi saja, kritis tanpa solusi. Banyak juga status dan statemen baik di group maupun di media sosial membicarakan hal ini hanya untuk kepentingan elit lah, buang-buang anggaran lah, fasilitas lain belum terpenuhi lah, menghabiskan lahan parkir dan lain sebagainya. Bisa jadi apa yang di bicarakan itu benar adanya, bisa juga salah tergantung perspektif mana yang digunakan. Sebenarnya sudah ada klarifikasi terkait hal ini, namun sepertinya belum memuaskan dan dianggap pembelaan diri.

Dari sekitan banyak kritik, komentar bahkan tulisan terkait hal ini ternyata muncul dari dosen atau pegawai juga mahasiswa yang secara usia masih muda, mungkin harus menunggu usianya di atas limapuluh tahun kali ya atau menunggu menggunakan kursi roda untuk mengatakan butuh akses atau tangga yang lebih ramah untuk menuju bangunan gedung.

Kita lupakan sejenak masalah rehab tangga, saya yakin banyak dari kita pernah ke bandara bahkan bandara internasional dimanapun dalam maupun luar negeri. Kita pasti menemukan lift yang di khususkan untuk lansia, wanita hamil dan penyandang disabilitas, space di dalam mobil pengangkut yang juga dikhususkan, ada eskalator datar yang jelas ditempel stiker diperuntukkan untuk lansia, wanita hamil dan penyandang disabilitas, ruang tunggu dan beberapa tempat istimewa lain yang juga sebenarnya khusus.

Tempat-tempat yang di sebutkan di atas dalam pengamatan saya penggunanya mungkin hanya 1 per seribu bahkan lebih, malah lebih banyak digunakan oleh orang normal seperti saya. Secara teoritis apakah tidak buang-buang anggaran, atau buang-buang tempat, untuk apa membuat fasilitas khusus dengan desain dan operasional tinggi padahal penggunanya sangat jarang. Menurut saya Itulah sebuah nilai, saya sebut nilai kemanusiaan. Mengapa demikian meskipun penggunanya sedikit, tapi ada hak istimewa bagi mereka yaitu hak yang diberikan oleh orang-orang normal dan waras kepada yang jumlahnya sedikit yaitu lansia, wanita hamil dan penyandang disabilitas. Dengan memberikan hak istimewa kepada beberapa orang dengan kebutuhan khusus tadi setidaknya inilah bentuk komitmen kemanusiaan kita, sebagai manusia beradab.

Kembali pada rehab tangga tadi, meskipun penggunanya sedikit bahkan mungkin nyaris tidak ada tapi inilah bentuk pemberian hak istimewa kepada mereka yang suatu saat membutuhkan akses dan fasilitas kepada yang berkebutuhan khusus. sama halnya seperti di bandara, di bus penumpang angkutan bandara yang menyediakan tempat khusus dan istimewa meskipun penggunanya sangat sedikit. Karena saya perhatikan di rehab tangga tersebut akan ada jalur khusus kursi roda atau disebut ram, dan desain anak tangga dengan tingkat kemiringan dan diberi anti selip agar pejalan kaki tidak terpeleset, hal ini tentu direncanakan oleh orang normal akan kebutuhan mereka yang butuh hak istimewa.

Saya teringat salah satu kalimat dalam pembukaan Undang-Undang yang menyatakan bahwa pri kemanusiaan disebutkan lebih dahulu daripada pri keadilan, karena nilai kemanusiaan menjadi point penting dalam kita memberikan treatmen dan pelayanan terutama terhadap yang memiliki kebutuhan khusus. Apalagi hampir semua pengguna tangga yang lama mengeluh, saya mendengar satpam dua kali terjerembab, mahasiswa pingsan karena terpeleset, puluhan bahkan ratusan pegawai, mahasiswa dan tamu mengeluh setelah menaiki tangga yang curam, beberapa bulan yang lalu kita juga kedatangan tamu dua orang tuna netra berkeliling Indonesia yang menyempatkan hadir ke Kampus IAIN Mero, terasa betapa dholimnya kita terhadap mereka. Memang no problem bagi kita yang masih muda, normal dan tau jalan alternatif melalui pintu belakang, tapi tidak semua dapat menggunakan akses tersebut.

Saya pikir tak perlu sampai menggunakan alat Gender Analisis Pathway (GAP) untuk menemukan solusi yang berkeadilan dalam desain sebuah bangunan yang ada saat ini, karena memang sudah tampak di depan mata, kita diwarisi sebuah gedung dengan potensi masalah dan perlu dicarikan solusi tanpa melupakan estetika dan desain arsitektural sejak awal. Artinya jika tidak ada keberanian untuk memulai, solusi itu tidak akan pernah terpecahkan sampai kapanpun. Sekarang tinggal kearifan kita menerima bahwa ini adalah sebuah solusi yang jika tidak hari ini pada masa mendatang pun harus tetap dilakukan, jadi tidak perlu menunggu kita tua, atau menunggu kita menggunakan kursi roda atau pun menunggu saat istri kita hamil tua dan ingin berkesempatan menemui pimpinan atau yang lain untuk membuat akses yang memudahkan mereka.

Terkait pembangunan dan fasilitas bangunan non perumahan sebenarnya sudah di atur dalam beberapa regulasi dan ini menjadi keharusan terpenuhinya standar pelayanan terutama untuk yang memiliki kebutuhan khusus, lansia, wanita hamil dan penyandang disabilitas, sebagaimana Peraturan Pemerintah Nomor 56 tahun 25 tentang Bangunan Gedung pada pasal 55 dalam pembangunan harus mempertimbangkan kemudahan hubungan ke, dari dan di dalam gedung. Salah satunya dari pasal tersebut meliputi tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat dan lanjut usia, kemudahan dimaksud yaitu Akses ke, dari dan di dalam bangunan. Selain itu secara teknis juga diatur dalam Permen PU Nomor 45 tahun 2007 tentang Pedoman teknis Pembangunan Gedung Negara.

Lalu bagaimana dengan fasilitas lain yang belum terpenuhi? Ini adalah pertanyaan yang jadi pembanding terkait penggunaan fasilitas dan anggaran. Perlu diingat bahwa belanja tahun ini pasti direncanakan pada tahun sebelumnya? Jika demikian adanya maka sebenarnya solusi kebutuhan pada tahun berjalan sudah dipenuhi ini hanya soal waktu. Namun jika kemudian masalahnya muncul saat ini maka tidak ada solusi lain selain merencanakan pada tahun berikutnya, tidak membiasakan berfikir instan saya pikir perlu. Jadi apa kebutuhan dan problem yang mungkin muncul pada tahun depan benar-benar sudah terakomodir pada rencana seblumnya. Jadi jika hari ini ada kekurangan fasilitas LCD, Papan tulis semestinya sudah terjawab pada rencana tahun sebelumnya, sehingga tidak menjustifikasi bahwa pembangunan flayover tidak tepat sasaran, karena sebenarnya sesuai usulan sudah ada perimbangan dalam penganggaran.

Sebagai tulisan orang awam tentu berbeda dengan tulisan lain yang berkualitas bahkan dengan dalil dan hukum, namun setidaknya saya menyadarkan diri sendiri bahwa kritik dan saran itu perlu untuk membangun, dan saya menjadi bermuhasabah bahwa jika saya bukan yang memberi solusi maka bisa jadi saya adalah masalah itu sendiri. Maka untuk menjaga bahwa sebenarnya masalahnya itu adalah saya, hal-hal yang berpotensi menimbulkan masalah itu saya hindari, seperti contoh karena saya tau sempitnya lahan parkir maka saya gunakan motor karena saya punya dan bisa mengendarainya.

Jadi saya dapat catat beberapa hal yang saya pikir dapat menjadi perhatian Pertama: Pembangunan yang ada terutama rehab tangga saya yakin sudah melalui pembahasan yang panjang sejak mulai pengusulan dengan memperhatikan saran dan masukan dari banyak pihak. Kedua: Pemenuhan fasilitas tambahan sebenarnya ada seperti penambahan lif namun dalam PP 36 Tahun 2017 Pasal 58 untuk standar bangunan harus di atas lima lantai, selain regulasi penggunaan lif juga menggunakan operasional yang tinggi. Ketiga: Space parkir di kampus satu ada ataupun tidak adanya penambahan tangga memang sudah sempit, sebelum ada rehab tangga pun sudah berjubel justru dengan adanya rahab ini ada beberapa tempat yang open space untuk tambahan parkir. Keempat: dengan kondisi rektorat yang sekarang adalah sebuah keharusan perlunya renovasi yang sesuai standar layanan. Kelima: Terkait kebutuhan sarpras lain dalam bentuk peralatan dan mesin sebenarnya sudah terpenuhi, namun pada pencatatan peralatan rusak dan pemeliharaan belum berimbang, dalam pengamatan saya setiap tahun selalu ada pengadaan terkait sarpras termasuk tahun ini.

Wallahu ‘Alamu.

Penulis: Supendi, M.Pd.I

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

HYCow

Total Komentar (0)


Halaman :