• Telp : 0725-41507
  • Fax : 0725-47296
Diposting oleh Tgl 15-11-2017 & wkt 01:53:43 dibaca Sebanyak 553 Kali

Organisasi pada dasarnya merupakan satu kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang memiliki tujuan tertentu. Berbicara tentang organisasi apapun tidak akan lepas dangan apa yang disebut politik, karena suatu organisasi terlepas dari tujuan utamanya justru malah dijadikan lapngan politik oleh para suborganisasi itu sendiri.

Lalu dewasa ini kenapa yang disebut dengan politik sarat akan nilai-nilai yang praktiknya mengarah kepada hal yang kurang baik? Sedangkan definisi politik itu sendiri sebenarnya baik. Max Weber misalnya, mendefinisikan politik sebagai sarana perjuangan untuk sama-sama melakukan perjuangan untuk mempengaruhi pendistribusian kekuasaan.

Seperti yang diketahui bahwa pada realitas yang terjadi di setiap organisasi apapun maka akan ada yang namanya disorientasi politik oleh para oknum dalam organisasi tersebut. Timbulnya disorientasi politik pada diri mereka mungkin karena salah tafsir atas definisi politik oleh Plato dan Aristoteles.

Kedua superior tersebut mengartikan politik sebagai suatu usaha untuk mencapai masyarakat politik yang terbaik dalam politik, manusia akan hidup bahagia karena memiliki peluang untuk mengembangkan bakat hidup dengan rasa kemasyarakatan yang akrab dan hidup dalam susana moralitas.

Oknum-oknum yang menjadi pilar suborganisasi kemunginan besar menafsirkan “…manusia akan hidup bahagia karena memiliki peluang untuk mengembangkan bakat hidup…” adalah untuk dirinya sendiri karena mengingat dirinya juga seorang manusia. Selain itu, fanatis dan egoisme politik dalam suatu organisasi mengindikasikan kemunduran dari organisasi itu sendiri.

Bagaimana tidak, mereka yang berkecimpung dalam organisasi serta tetap memelihara fanatis dan keegoisannya justru tidak akan mampu menyerap nilai-nilai kebaikan dalam organisasi itu sendiri. Mereka hanya akan menjadi orang yang tidak memiliki tujuan yang jelas dan bisa hampir dipastikan tidak progresif.

Organisasi yang baik seharusnya menerapkan pola desain yang baik untuk mengantisipasi masuknya para curut-curut dalam struktur organisasinya. Organisasi dengan basis kebersamaan akan jauh lebih baik daripada berisikan orang-orang yang ‘’sok hebat’’. Namun organisasi yang kredibel-pun minim jumlahnya untuk saat ini.

Para cecurut inilah yang justru menggerogoti tubuh organisasi itu sendiri, menyebar isu-isu buruk, melakukan tindakan-tindakan kotor, hingga merubuhkan pondasi organisasi itu sendiri. Binatang!

Ini dikarenakan banyaknya curut yang ada didalamnya yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi tanpa berpikir tentang kemajuan organisasi itu sendiri. Imbasnya adalah kini merebaknya rasa pesimis terhadap kader-kader organisasi tersebut oleh para pengamat dan pemerhati organisasi, bahkan orang awam-pun mulai paham akan borok dari organisasi yang tidak lain disebabkan oleh para “bakteri” yang ada.

Toh, organisasi yang pada masa rekruitmen kadernya saja sudah menjelek-jelekan organisasi lain sudah kentara bahwa organisasi tersebut sudah tidak mengajarkan nilai-nilai toleransi dan menghargai satu sama lain. Selain itu, organisasi dengan kader-kader yang kompeten dan progresif pasti paham akan koridor-koridor penyampaian aspirasi dan melakukan kerja nyayta.

Akan lebih luar biasa organisasi tersebut apabila pilar-pilar suborganisasinya mampu melakukan hal-hal yang murni untuk kemajuan organisasi dengan cara yang lebih akademis. Kemandirian organisasi dalam hal apapun juga menjadi salah satu kunci penting untuk tidak berpihak kesiapapun. Organisasi yang seperti itulah yang diidamkan banyak orang.

Julianto Nugroho (Pegiat Jurai Siwo Corner)

Berita Lainnya

Masukkan Komentar

dKNLC

Total Komentar (0)


Halaman :