socio
eco-techno
preneurship

Puasa adalah untuk ‘AKU’

Puasa adalah untuk ‘AKU’

7. Puasa adalah untuk AKU cover

metrouniv.ac.id – 23/03/2024 – 12 Ramadhan 1445 H

Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro)

Ibadah Puasa ramadhan adalah kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah SWT kepada umat Islam dan atau orang-orang yang beriman. Ibadah ini bahkan telah diwajibkan kepada umat- umat terdahulu sejak Nabi Adam AS. Hanya saja tata cara, waktu dan bentuk pelaksanaannya yang berbeda antara satu umat dengan umat yang lainnya. Ibadah puasa dipastikan akan menghantarkan seseorang untuk meraih predikat mulia, predikat tertinggi di sisi Allah SWT, yaitu menjadi insan yang bertaqwa. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa (Q.S. Al-Baqarah : 183).

Firman Allah SWT ini menegaskan bahwa kewajiban ibadah puasa ramadhan bukanlah merupakan kewajiban baru dalam ajaran agama, tetapi ia merupakan kewajiban lanjutan yang telah ditetapkan sebelumnya bagi umat-umat terdahulu, hanya saja barangkali tata cara pelaksanaannya yang berbeda antara satu umat dengan umat lainnya, atau antara satu agama dengan agama yang lainnya. Ibadah Puasa Ramadhan merupakan satu ibadah yang sangat besar pahalanya di sisi Allah SWT, sampai-sampai Allah menegaskan dalam Hadits Qudusi:

Ash-shaumu liy wa Anâ ajziy bihi, yada’u syahwatahu wa aklahu wa syarbuhu min ajliy wa sh-shaumu junnatun wa lishshâimi farhatâni hîna yufthiru wa farhatun hîna yalqa Rabbahu wa lakhulûfi fami sh-shâimi athyabu ‘inda Allâhi min rîhi l-miski.

Puasa adalah untuk Aku dan Aku yang akan memberikan balasan terhadap orang yang melaksanakannya. Syahwatnya mengajak untuk makan dan minum di belakangKu (namun ia tidak melakukannya). Puasa adalah perisai bagi orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Dan bau mulut orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. (H.R. Bukhari).

Kehebatan ibadah puasa ini dibandingkan dengan ibadah yang lain adalah terletak pada keikhlasannya. Ibadah puasa hanya diketahui oleh diri yang berpuasa dengan Allah SWT. Sedangkan ibadah yang lain selain diketahui oleh diri yang berpuasa dan Allah SWT, juga diketahui oleh orang lain yang melihatnya. Oleh karena itulah maka Rasulullah SAW menjanjikan:

Man shâma Ramadhâna imânan wahtisâban ghufiralahu mâ taqaddama min dzanbihi.

Barang siapa yang melaksanakan ibadah puasa ramadhan dengan iman dan penuh pengharapan terhadap Allah SWT, maka diampuni segala dosanya yang telah lalu. (H.R. Bukhari).

 

Persoalannya sekarang adalah bagaimana sikap yang harus dilakukan dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan tersebut. Setidaknya ada lima sikap yang harus dilakukan seseorang dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan tersebut, sebagai berikut:

Pertama, bergembira dengan datangnya bulan suci ramadhan, sebab ramadhan datang untuk kita dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kita. Untuk itu ramadhan harus disambut dengan penuh sukacita, bukan dengan penuh dukacita atau ketidak sukaan. Dalam kenyataannya, bahwa ada sikap yang menunjukkan ketidaksukaan dengan datangnya bulan ramadhan. Sebab, kedatangan ramadhan akan menghambat dan menghalangi nafsu serakahnya. Padahal dia tak sadar bahwa sesungguhnya kehadiran ramadhan membawa manfaat besar bagi orang yang berpuasa. Nabi bersabda : “Berpuasalah kamu supaya kamu sehat.”

Kedua, mengulang-ulang kembali ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pelaksanaan puasa itu sendiri, sehingga yang bersangkutan dapat melaksanakan ibadah puasa ramadhan sesuai dengan ajaran agama Islam. Ilmu yang berkaitan dengan ibadah puasa itu adalah: syarat wajib puasa yaitu Islam, baliq, berakal, kuat berpuasa, suci dari haid dan nifas dan tidak sedang musafir. Syarat sah puasa yaitu Islam, mumayyiz, berakal, bersih dari haid dan nifas, puasa pada hari-hari yang boleh berpuasa. Rukun puasa yaitu niat dan imsak atau menahan diri dari makan, minum dan melakukan hubungan seksual suami istri pada siang hari. Sunnat-Sunnat puasa yaitu Ta’jil (bersegera berbuka puasa jika waktunya sudah masuk), berbuka dengan yang lunak-lunak dan manis, shalat maghrib terlebih dahulu baru makan. Melaksanakan shalat tarwih dan witir di tempat yang disenangi, mendengarkan kuliah ramadhan, memperbanyak membaca Al-Qur’an, memperbanyak infaq, shadaqah, dan membayar zakat, melaksanakan makan sahur dan mengakhirkannya. Hal-hal yang membatalkan puasa adalah makan/minum dengan sengaja, muntah dengan sengaja, melakukan hubungan suami/istri, datang haid dan nifas, gila, keluar air mani dengan sengaja. Kifarat adalah upaya menggnatikan puasa selama dua bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang fakir miskin.

Ketiga, bermaaf-maafan menjelang pelaksanaan ibadah puasa ramadhan, sehingga dengan demikian berada dalam keadaan bersih suci dari noda dan dosa serta sangkut paut yang bersifat negatif dengan orang lain. Ibadah puasa salah satu manfaatnya adalah membersihkan jiwa, sedangkan bermaaf-maafan atau meminta maaf dan memaafkan orang lain adalah sikap yang menunjukkan kesucian jiwa. Jiwa akan lebih suci lagi manakala bermaaf-maafan dilanjutkan dengan melaksanakan ibadah puasa. Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW sedang berkhutbah, tiba-tiba dia mengucapkan “Aamiin” sebanyak tiga kali. Ketika ditanya kenapa beliau mengucapkan Aamiin, Nabi menjawab bahwa Jibril as berdoa: Ya Allah jangan engkau terima puasa orang yang tidak meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Maka saya jawab “Aamiin”. Hal ini dilakukan oleh Jibril sebanyak tiga kali, maka saya pun mengaminkannya sebanyak tiga kali. Keterangan Rasulullah SAW ini menarik untuk direnungkan. Karena penjelasan ini menunjukkan kepada kita bahwa betapa pentingnya bermaaf-maafan, terlebih lagi kepada kedua orang tua. Karena di tangan kedua orang tua kita itulah terletak ridla dan rahmat (kasih sayang) Allah SWT.

Keempat, memperbanyak do’a kepada Allah SWT semoga kita berada dalam kesehatan yang prima sehingga dapat melaksanakan ibadah puasa RAMADHAN dengan baik dan mendapat predikat insan yang muttaqien. Jika diperhatikan firman Allah SWT yang berbicara tentang puasa ramadhan, adalah ditemukan dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 sampai dengan 187, di luar itu tidak diketemukan lagi. Di tengah-tengah ayat-ayat ini, tepatnya ayat 186, justru Allah SWT menyelipkan perintah tentang berdo’a, yang sebenaranya tidak ada sangkut pautnya dengan ibadah puasa. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya berdo’a pada bulan ramadhan sebab berdo’a di bulan itu akan diijabah (diperkenankan) Allah SWT.

Kelima, mempersiapkan fisik dan mental secara baik, sehingga dapat melaksanakan ibadah puasa ramadhan dengan sempurna, sesuai dengan syarat dan rukunnya. Persiapan fisik dan mental ini sangat penting, sebab menyangkut kesiapan seseorang untuk melaksanakan ibadah yang agung ini. Secara tradisional, banyak cara yang dilakukan dalam rangka mempersiapkan fisik dan mental tersebut. Orang Melayu melakukannya dengan Balimau Kasai, orang Mandailing melaksanakannya dengan cara Marpangir, orang Jawa melaksanakannya dengan Padusan atau Keramas. Bahkan ada berbagai tradisi lain yang lebih menarik. Kesemua tradisi itu terkait langsung dengan hal ihwal “mandi.” Artinya, menjelang puasa ramadhan diharuskan mandi supaya badan bersih dan sehat. Dalam ajaran agama Islam, menjelang puasa Ramadhan dan bahkan dalam setiap waktu diajarkan untuk mandi taubat, sehingga fisik dan rohani bersih dalam memenuhi perintah Allah SWT. Tradisi ini adalah sesuatu yang baik, hanya saja jangan lupa selesai Balimau, Marpangir, Padusan, Keramas, dan sebagainya, dilanjutkan dengan mandi taubat.

Apa yang dimaksudkan dengan “mandi taubat” itu? Boleh jadi ini sebuah istilah metaforis, di mana kata mandi dikaitkan dengan kata taubat. Kata mandi tentu saja secara harfiah berarti tindakan pembersihan jasmani atau anggota badan, sejak dari kepala sampai ke ujung kuku. Sedangkan kata taubat lebih dimaksudkan sebagai tindakan pembersihan “rohani” dari dosa-dosa. Lantas bagaimana memaknai idiom “mandi taubat” itu. Mungkin saja yang dimaksudkan di situ adalah bagaimana seseorang mampu membersihkan diri melalui mandi sebagai jalan pembersihan dosa dengan ritual-ritual tertentu yang dibenarkan agama dalam rangka bertaubat kepada Allah SWT. Jadi, “mandi taubat” yang  biasa diistilahkan sebagian masyarakat Islam Nusantara saat menyambut datangnya bulan suci ramadhan, hendaknya dipahami sebagai “peristiwa budaya” yang positif, bukan peristiwa agama. Sebab, dalam literatur keagamaan tidak ditemukan istilah “mandi taubat” itu. Islam hanya mengenal “mandi sunat” untuk melakukan salat jumat atau salat ‘Idain, dan “mandi wajib” bagi mereka yang berjunub maupun bagi wanita yang telah usai datang bulan berupa haid, atau bagi perempuan yang terkena darah nifas setelah melahirkan anak. Jadi, baik-baik saja bila masyarakat kita melakukan “mandi” dengan berbagai istilah yang telah disebutkan di atas, sepanjang istilah itu dimaksudkan untuk memberikan muatan spiritual pada kegiatan mandi, berupa pembersihan jasmani sekaligus dapat memberikan efek positif pada ikhtiar seseorang untuk melangkah lebih jauh dalam melakukan pembersihan rohaninya. Jasmani yang kotor dibersihkan dengan mandi, dan rohani yang kotor dibersihkan dengan zikir. Kalau ini yang dimaksud dengan istilah mandi taubat untuk menyambut kehadiran bulan suci ramadhan itu, kenapa tidak.

Wallahu a’lam.

Artikel Terkait

SYIRIK KECIL

metrouniv.ac.id – 28/03/2024 – 17 Ramadhan 1445 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro) Beberapa hari menjelang  Idul

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.