socio
eco-techno
preneurship

RAMADHAN: BELAJAR DARI METAMORFOSIS SEMPURNA KUPU-KUPU

RAMADHAN: BELAJAR DARI METAMORFOSIS SEMPURNA KUPU-KUPU

11. RAMADHAN 01042024. cover

metrouniv.ac.id – 01/04/2024 – 21  Ramadhan 1445 H

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Perjalanan spiritual seorang muslim dalam siklus sebelum Ramadhan, selama Ramadhan dan sesudah Ramadhan mungkin bisa dibaratkan seperti metamorfosis sempurna kupu-kupu. Dalam siklus sempurna kupu-kupu ada empat tahapan proses yang harus dilalui sampai menjadi kupu-kupu yang sempurna, yaitu dari telur, kemudian menjadi ulat, terus kepompong dan terakhir menjadi kupu-kupu cantik yang menawan.

Pada bulan-bulan sebelum Ramadhan, terkadang manusia itu menjadi seperti ulat. Anda tentu sudah tahu ulat itu seperti apa. Ulat adalah binatang kecil yang bertubuh lunak. Bagi sebagian besar orang binatang ini sungguh menjijikkan, membikin geli jika merambat di bagian tubuh manusia. Banyak orang tidak menyukainya.

Ulat juga termasuk binatang yang merusak, ia menjadi hama bagi tanaman, musuh bagi para petani. Ulat yang berada di daun, ia akan menggerogoti daun tersebut hingga berlubang-lubang bahkan daun itu bisa hancur berkeping-keping. Ulat yang masuk dan berkembang ke kacang panjang, ia akan merusakkan teksturnya. Masuk ke buah-buahan, akan merusak buah-buahan itu hingga tidak  bisa dikonsumsi lagi. Masuk ke gigi manusia akan membikin lubang gigi dan membuat sakit gigi. Begitu kata dokter gigi. Pendek kata binatang yang bernama ulat itu cenderung merusak, kecuali hanya sebagian kecil saja ulat yang bisa memberi manfaat seperti ulat sutra.

Gambaran perilaku ulat sebagaimana di atas bisa digunakan untuk menganalogikan gambaran perilaku manusia yang sedikit atau banyak cenderung memproduksi dosa. Bulan-bulan sebelum Ramadhan ketika  bergelut dengan aktivitas duniawi sebagian manusia memiliki perilaku seperti ulat. Hidupnya merugikan orang lain karena ia menjadi problem bagi manusia lainnya. Tidak ada satupun manusia yang suka  dengan orang yang suka membuat masalah dengan manusia lainnya. Manusia dalam gambaran ulat dimanapun ia berada selalu menyebarkan kejahatan dan kemunkaran. Begitulah manusia dalam rupa ulat: menjijikkan dan merugikan.

Memasuki bulan Ramadhan, keadaan manusia dapat digambarkan seperti kepompong, tahapan lebih lanjut setelah melewati masa ulat. Masa kepompong adalah masa pertapaan, berdiam dan menarik diri dari kehidupan. Seperti makhluk yang mati padahal tidak, masih hidup. Entah apa yang dilakukan makhluk hidup yang sedang menjadi kepompong. Secara kasat mata, ia hanya diam saja, kalau dipegang ia akan bergeleng-geleng, sebagai tanda adanya kehidupan meskipun dalam bungkusan yang tertutup dan gelap. Kepompong sesungguhnya sedang mempersiapkan diri untuk menjadi makhluk lain yang benar-benar berbeda.

Begitulah Ramadhan menjadikan manusia seperti kepompong. Hari-harinya disibukkan dengan memperbanyak ibadah. Mengurangi kesibukan duniawi dan memperbanyak tafakkur serta tadzakkur. Tidak mengherankan jika selama bulan Ramadhan, kita menyaksikan begitu semaraknya suasana peribadatan. Dimana saja , dimana ada kaum muslimin maka selama Ramadhan maka lingkungan sosialnya begitu semarak dengan suasana religius. Sering kita menyebut, Ramadhan adalah bulan madrasah dan kawah candradimuka, waktu dan tempat untuk memperbanyak mohon ampun dari segala dosa, waktu untuk memperbanyak ibadah dan amal shalih. Ramadhan juga menjadi bulan untuk bermuhasabah dan berkontemplasi.

Berakhirnya Ramadhan akan membawa kepada bulan baru yang bernama syawal. Syawal secara bahasa bermakna peningkatan yang berarti bulan dimana ada semangat baru untuk berbuat lebih baik dari sebelumnya. Ramadhan yang terlewati dengan baik akan melahirkan manusia baru yang dalam sebuah hadits digambarkan seperti kelahiran seorang bayi yang bersih suci dan belum membawa dosa apapun. Begitulah manusia pada bulan syawal, seperti seekor kupu-kupu yang cantik, elok dipandang mata, menyenangkan siapapun yang melihatnya.  Hinggap dimanapun tidak ada manusia yang keberatan karena menawannya. Orang justru ingin memegangnya. Dulu ketika dalam bentuk ulat, ia dijauhi oleh banyak orang, namun setelah menjadi makhluk baru yang bernama kupu-kupu semua orang menyukai dan ingin mendekatinya.

Apakah ada kepompong yang gagal menjadi kupu-kupu? Bisa jadi ada, itulah kepompong yang kopong. Ia mati sebelum berhasil menjadi kupu-kupu. Kepompong yang tidak menjadi kupu-kupu itu sama seperti manusia yang gagal memanfaatkan ramadhan.  Melewati ramadhan tetapi gagal menjadikannya sebagai madrasah, sehingga ketika memasuki bulan syawal ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja. Ramadhan tidak menjadikannya lebih baik. Tetap sama saja, seperti ulat. Wallahu a’lam bishawab. (mh.01.04.24).
diposting: ss_humas

Artikel Terkait

SYIRIK KECIL

metrouniv.ac.id – 28/03/2024 – 17 Ramadhan 1445 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro) Beberapa hari menjelang  Idul

Puasa adalah untuk ‘AKU’

metrouniv.ac.id – 23/03/2024 – 12 Ramadhan 1445 H Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro) Ibadah Puasa

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.