socio
eco-techno
preneurship

SYIRIK KECIL

SYIRIK KECIL

10. SYIRIK KECIL 28032024. cover2

metrouniv.ac.id – 28/03/2024 – 17 Ramadhan 1445 H

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Beberapa hari menjelang  Idul Fitri biasanya kita menyaksikan para dermawan mulai membagikan zakat mal-nya. Zakat mal merupakan  kewajiban bagi setiap muslim yang mampu untuk mengeluarkan sebagian hartanya sesuai dengan ketentuan  syari’at. Sebagian umat Islam menyalurkan zakat mal itu ke lembaga-lembag amil zakat, infaq dan shadaqah yang sudah ada dan yang dikenal kredibel. Datang, bayarkan dan sudah selesai. Urusan penyaluran dan pembagiannya diserahkan kepada lembaga amil zakat. Selesai.

Sebagian yang lain, ada yang memilih membagikan zakat dengan caranya sendiri. Memasukkan uang dalam jumlah pecahan tertentu ke dalam amplop dan membagikannya sendiri kepada para mustahik (penerima zakat). Informasi pembagian zakat langsung itu secara getok tular dari mulut ke mulut. Akibatnya yang datang banyak dan membludak, sampai harus minta bantuan aparat keamanan untuk mengaturnya.

Fenomena pembagian zakat secara langsung dari muzaki ke mustahiq itu selalu muncul setiap tahun di beberapa tempat yang dapat diketahui lewat pemberitaan televisi, media online atau lewat sosial media. Terbaru kita menyaksikan seorang muzaki di Makasar membagikan amplop berisi uang dengan maksud membayar zakat (CNN.Indonesia, 26/03/2024).  Muzakinya duduk membagi amplop dengan pengawalan apara keamanan dan di depannya antrian yang mengular berdesak-desakan, himpit-himpitan dan dorong mendorong. Sebagian para mustahik yang kebanyakan fakir miskin itu menjerit terhimpit antrian dan ada pula yang menangis karena tergencet sana sini, ada pula yang sampai pingsan. Yang membagi hanya senyam-senyum tanpa ada rasa empati.

Saya selalu bersedih setiap menyaksikan peristiwa pembagian zakat seperti itu.  Bukan soal pembagian zakatnya, tetapi soal cara membagi zakat yang tidak memberikan penghormatan dan penghargaan terhadap rasa kemanusiaan. Siapa yang tidak bersedih menyaksikan saudara kita yang berhimpitan, berpeluh-peluh untuk lima puluh atau seratus ribu rupiah. Sementara yang membagikan “seperti senang” menyaksikan hal tersebut. Mereka yang datang itu mungkin memang sangat membutuhkan uang, namun apa tidak ada cara pembagian yang lebih manusiawi dibandingkan pembagian secara langsung seperti itu.

Meskipun mereka  miskin, sebagai manusia mereka juga punya harga diri. Karena keadaan dan kebutuhan saja yang membuat mereka merendahkan harga dirinya. Karena itu mereka yang kaya dan mampu membayar zakat sebaiknya menghormati harkat dan martabat para mustad’afin tersebut dengan cara pembagian zakat, infaq atau shadaqah yang lebih manusiawi. Antarkan dan berikan langsung dari rumah ke rumah, dari gubug ke gubug, atau dimanapun kediaman para mustad’afin itu berada dengan welas asih, kasih sayang dan memanusiakannya. Jika tidak bisa sendirian, minta bantuan orang untuk menjadi utusan. Atau kalau tidak bisa semuanya, percayakan kepada lembaga amil zakat, infaq dan shadaqah.

Apakah kita tidak takut pada suatu amalan yang membuat jatuh pada perilaku yang  disebut oleh Rasulullah sebagai perbuatan Syirik Kecil (asy-Syirk al-Ashgar) ? Syirik kecil adalah perbuatan baik yang dilakukan tetapi diniatkan tidak murni dan ikhlas hanya untuk Allah akan tetapi bercampur dengan motivasi lainnya yang salah satunya adalah untuk pamer atau riya. Disebut syirik karena  seseorang menduakan sebuah amalan yang tidak hanya diperuntukkan untuk Allah tetapi juga karena untuk  ingin dilihat oleh manusia lainnya. Menduakan amal ibadah bukan hanya untuk Allah tetapi juga untuk selain Allah.

Rasa bangga bisa berbagi, atau supaya terlihat dermawan, atau supaya dianggap peduli dengan fakir miskin, yang dibalut dengan pembayaran zakat bisa membawa orang terseret pada amaliah yang dikatagorikan syirik kecil. Karena itu berhati-hatilah, karena sikap riya sebagai syirik kecil itu sangat halus, tidak kelihatan karena ada di dalam hati. Hanya qalbu sendiri dan Allah jua yang mengetahuinya. Sungguh Rasulullah sangat mewanti-wanti hal tersebut.

Diriwayatkan dari Mahmud bin Labid, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh yang paling aku takuti atasmu adalah asy-Syirk al-Ashgar. Sahabat bertanya: Apa itu  asy-Syirk al-Ashgar itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Riya. Allah ketika membalas perbuatan manusia pada hari kiamat berfirman: “Pergilah kepada mereka yang engkau riya untuk mereka di dunia, dan lihatlah apakah engkau mendapatkan balasan pada mereka” (HR. Ahmad).

Rasulullah sangat menghormati dan menghargai orang-orang yang miskin. Banyak kisah yang menggambarkan betapa Rasulullah sangat memuliakan, menghargai dan menghormati para fakir miskin. Rasulullah sangat berhati-hati kepada mereka karena khawatir menyakiti hati dan perasaan kaum dhu’afa. Hati Beliau sangat lembut, penuh empati dan simpati  kepada para fakir  miskin. Hal itu pulalah yang Allah sampaikan dalam firman-Nya yang memberikan larangan bagi orang yang memberikan sedekah kepada orang lain tapi dengan cara yang menyakitkan penerimanya.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 263: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun” (QS.Al-Baqarah:263). Menyakiti penerima sedekah itu bisa dalam bentuk perkataan yang menyakitkan atau perbuatan yang menunjukkan akspresi meremehkan, tidak menghargai dan menghormati yang menerima sedekah.

Riya sebagai syirik kecil bukan saja terjadi pada orang kaya yang bersedekah, tetapi juga bisa terjadi pada orang yang berilmu, yang memiliki gelar dan pangkat berenteng-renteng, yang memiliki kekuatan fisik dan kesempurnaan fisik. Dengan segala kelebihannya itu ia merasa lebih dibandingkan yang lainnya, disitulah syirik kecil bersemayam. Karena itu sekali lagi berhati-hatilah. Aku nasehatkan ini pada diriku sendiri supaya tidak jatuh pada perilaku tersebut, semoga Allah menuntunku.

(mh.28.03.24).
diposting : ss_humas

Artikel Terkait

Puasa adalah untuk ‘AKU’

metrouniv.ac.id – 23/03/2024 – 12 Ramadhan 1445 H Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro) Ibadah Puasa

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.