Benarkah Bermedia Sosial Kita Telah Moderat?

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 19/01/2026 – 30 Rajab 1447 H

Dr. Dri Santso, M.H. (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam/Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)

Coba diingat-ingat, kapan terakhir ada debat agama yang sengit di media sosial dan FYP? Saya lupa persisnya. Karena belakangan ini media sosial memang terasa sangat tenang dan damai. Tidak mudah menemukan narasi keagaman yang keras penuh kemarahan, atau tuduhan kekafiran. Bahkan seruan tidak mengucapkan selamat hari raya kepada penganut agama lain tidak lagi terdengar. Muncullah pertanyaan yang menggelitik, mungkinkah kampanye moderasi kita telah berhasil sehingga tidak tampak lagi kelompok yang saling berebut klaim kebenaran? Atau justru hal ini menunjukkan bahwa kita tidak lagi peduli terhadap agama?

Kerja Media Sosial

Tidak seperti bekerja pada ruang publik pada umumnya, media sosial berbeda. Ia bekerja dengan menghadirkan bukan yang penting, tetapi apa yang disukai oleh penggunanya. Dan poin ini harus kita garisbawahi. Algoritma media sosial membaca kebiasaan kita dengan penuh kecermatan. Apa yang sering kita tonton, durasinya, itulah yang banyak ditampilkan. Konten yang buru-buru kita skip akan mereka catat dan tidak akan pernah kembali ditampilkan.

Kalau kita menyukai hiburan, tarian, humor, dan gaya hidup maka kecil kemungkinan ada konten ceramah dan diskusi kegamaan. Konten agama itu bukan hilang, hanya saja tidak ditampilkan. Dan semakin banyak orang yang selalu melewati setiap ada konten agama, maka kecil kemungkinan akan trending dan menciptakan ruang diskusi agama yang mencerahkan.

Sampai di sini, sepinya narasi ekstrem bisa dibaca dengan dua lensa. Lensa pertama menampilkan pertanda baik, husnudzon lebih tepatnya. Sedikitnya konten agama dengan narasi kekerasan mengurangi dampak seperti polarisasi yang secara historis bisa kita jejak dari masa ke masa dan juga konflik keagamaan. Media sosial menjadi tempat yang aman dari konflik yang berbasiskan ágama. Kita bisa menyimpulkan kerja kita mempromosikan moderasi dalam beragama telah mendapatkan momentumnya. Kulminasi perjuangan.

Tetapi ada lensa lain yang perlu kita ambil dan sebagai pilihan kedua untuk melihat persoalan ini. Sepinya perdebatan yang diakibatkan oleh pemaksaan pemahaman yang ekstrem dan kontra narasinya bukan karena moderasi telah menjadi paradigma dalam beragama. Melainkan bisa dibaca bahwa agama mungkin tidak lagi dianggap relevan bagi sebagian besar orang. Bila ini yang terjadi maka sebetulnya tidak sedang dicapainya moderasi, melainkan pengosongan.

Esensi Moderasi

Moderasi beragama bukan berarti ketiadaan ágama dalam percakapan di ruang publik. Sebaliknya tetap hadir secara proporsional. Jika ágama benar-benar menghilang dari percakapan generasi, maka ia juga berisiko menjadi hanya identitas administratif. Walaupun saat ini mungkin masih dianggap berlebihan berspekulasi tentang ini, tapi jika tanpa adanya antisipasi bukan tidak mungkin bisa terjadi pada satu atau dua dekade mendatang.

Algoritma media sosial yang sangat personal—yang hanya menampilkan apa yang kita inginkan—tidak menyebabkan seperti yang diuangkapkan sebelumnya, konten-konten pemahaman ágama yang ekstrim itu akan benar-benar hilang. Bisa jadi, ia muncul pada orang-orang tertentu. Dengan kata lain, ketenangan media sosial ini bisa jadi hanya bersifat semu dan tidak dihasilkan dari pendidikan dan diskusi yang sehat melainkan hanya berdasarkan kecenderungan pengguna media sosial.

Tantangan Moderasi Beragama

Kalau itu yang terjadi, justru tantangan memperkenalkan moderasi ágama menemui jalan terjal, berliku, dan penuh dengan halangan. Moderasi tidak berhadap hadapan dengan narasi ekstrimisme yang diucapkan secara lantang, melainkan berhadapan dengan kesunyian dan kesendirian. Maksudnya, jika paham ekstremisme yang viral itu dapat didiskusikan dan diperdebatkan. Tetapi bagaimana dengan ekstrimisme yang hanya menghampiri segelintir orang karena kesunyian? Itu jauh lebih berat.

Pada titik ini moderasi beragama perlu dipahami secara ulang, dipikirkan strateginya jika ágama tidak lagi dibicarakan di ruang publik.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.