metrouniv.ac.id – 27/01/2026 – 8 Sya’ban 1447 H
Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA. (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Internasionalisasi pendidikan tinggi merupakan salah satu agenda strategis perguruan tinggi di Indonesia dalam merespons globalisasi dan persaingan akademik internasional. Peningkatan jumlah mahasiswa asing dari berbagai kawasan dunia. Asia, Afrika, Timur Tengah, hingga Eropa menjadi indikator keberhasilan institusi dalam membangun reputasi global. Kehadiran mahasiswa asing tidak hanya memperkaya keragaman budaya akademik, tetapi juga diproyeksikan mampu meningkatkan mutu pembelajaran, riset, dan jejaring internasional. Demikian pula dengan UIN Jurai Siwo Lampung telah memulai program Internasionalisasi pendidikan tinggi dengan memiliki satu mahasiswa angkatan 2024 dari Sudan dan tiga mahasiswa asing angkatan 2025 yaitu satu dari mahasiswi dari Sudan dan dua mahasiswa dari Nigeria pada prodi S1.
Namun demikian, di balik tuntutan internasionalisasi tersebut, realitas akademik di perguruan tinggi Indonesia menunjukkan berbagai tantangan yang dihadapi mahasiswa asing dalam proses adaptasi akademik, sosial, dan administratif. Bahkan, dinamika ini juga berdampak pada relasi sosial dengan mahasiswa lokal, termasuk munculnya kecemburuan dan persepsi ketimpangan layanan. Artikel ini membahas problematika utama mahasiswa asing, strategi penyesuaian yang mereka lakukan, serta implikasinya terhadap iklim akademik di perguruan tinggi Indonesia.
Problematika Mahasiswa Asing dalam Konteks Akademik dan Sosial
Mahasiswa asing di perguruan tinggi Indonesia menghadapi beragam problematika yang bersifat multidimensional. Salah satu tantangan utama adalah hambatan bahasa dan komunikasi. Meskipun sebagian program telah menggunakan bahasa Inggris, praktik pembelajaran dan interaksi sehari-hari masih didominasi oleh Bahasa Indonesia, bahkan bahasa daerah dan bahasa gaul. Hal ini menyulitkan mahasiswa asing dalam memahami materi perkuliahan, diskusi kelas, maupun komunikasi informal dengan dosen dan mahasiswa lokal. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, banyak mahasiswa asing mengandalkan komunikasi non-verbal seperti bahasa tubuh dan ekspresi wajah, meskipun sering kali berpotensi menimbulkan salah tafsir. Selain bahasa, mahasiswa asing juga mengalami gegar budaya (culture shock). Perbedaan norma sosial, kebiasaan makan, cara berpakaian, serta etika pergaulan menjadi sumber ketidaknyamanan. Dalam konteks akademik, perbedaan sistem pendidikan seperti metode pembelajaran berbasis diskusi, tugas kelompok, dan penilaian berkelanjutan menuntut penyesuaian yang tidak mudah bagi mahasiswa yang berasal dari sistem pendidikan yang lebih terstruktur dan hierarkis.
Tantangan Administratif dan Birokrasi Keimigrasian
Permasalahan administratif, khususnya terkait visa dan izin tinggal, menjadi tantangan serius bagi mahasiswa asing. Prosedur pengurusan dan perpanjangan visa pelajar yang harus dilakukan secara berkala sering kali dirasakan rumit dan memakan waktu. Kurangnya sosialisasi mengenai prosedur visa berbasis daring serta keterbatasan pendampingan institusional menyebabkan sebagian mahasiswa asing mengalami keterlambatan administrasi yang berdampak pada status akademik mereka. Dalam beberapa kasus, mahasiswa terpaksa menghentikan studi sementara atau menghadapi sanksi administratif akibat kendala tersebut.
Adaptasi Sosial dan Dampak Psikologis
Di luar aspek akademik dan administratif, mahasiswa asing juga menghadapi tantangan adaptasi sosial dan psikologis. Stres akulturatif, rasa kesepian, serta homesickness menjadi pengalaman yang umum dialami, terutama pada masa awal studi. Kesulitan membangun pertemanan dengan mahasiswa lokal dan keterbatasan ruang interaksi lintas budaya menyebabkan sebagian mahasiswa asing cenderung membentuk komunitas eksklusif dengan sesama mahasiswa internasional dari negara asal yang sama. Kondisi ini, meskipun memberi rasa aman emosional, berpotensi menghambat proses integrasi sosial yang lebih luas di lingkungan kampus.
Strategi Penyesuaian Mahasiswa Asing
Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, mahasiswa asing mengembangkan beragam strategi penyesuaian. Strategi problem focused coping dilakukan melalui upaya aktif seperti belajar Bahasa Indonesia, mengikuti kursus bahasa, mencari bantuan dari dosen, tutor, atau kantor urusan internasional, serta memanfaatkan jejaring mahasiswa senior. Sementara itu, emotion focused coping diwujudkan melalui sikap menghargai budaya lokal, membangun dukungan emosional dengan sesama mahasiswa internasional, dan mengembangkan penerimaan diri terhadap perbedaan budaya yang dihadapi.
Kecemburuan Mahasiswa Lokal dalam Dinamika Internasionalisasi
Internasionalisasi perguruan tinggi tidak hanya berdampak pada mahasiswa asing, tetapi juga memengaruhi pengalaman mahasiswa lokal. Salah satu fenomena yang muncul adalah kecemburuan mahasiswa lokal terhadap mahasiswa asing yang dianggap memperoleh perlakuan lebih istimewa. Mahasiswa asing sering mendapatkan fasilitas khusus seperti pendamping akademik, layanan administrasi terpisah, serta toleransi akademik terkait kendala bahasa dan adaptasi budaya. Di sisi lain, mahasiswa lokal yang menghadapi kesulitan serupa merasa kurang mendapatkan perhatian yang setara. Dalam konteks akademik, toleransi dosen terhadap keterbatasan mahasiswa asing kerap dipersepsikan sebagai standar ganda dalam penilaian. Secara sosial, mahasiswa asing dipandang sebagai “tamu istimewa” yang dipromosikan dalam narasi internasionalisasi kampus, sementara mahasiswa lokal merasa terpinggirkan. Kecemburuan ini bukan semata persoalan emosional, melainkan mencerminkan ketimpangan struktural dalam kebijakan dan distribusi layanan akademik.
Internasionalisasi dan Kesiapan Institusional
Berbagai problematika tersebut menunjukkan bahwa internasionalisasi pendidikan tinggi tidak cukup dimaknai sebagai peningkatan jumlah mahasiswa asing semata. Perguruan tinggi dituntut memiliki kesiapan institusional yang komprehensif, mulai dari kebijakan bahasa, sistem pendampingan akademik, layanan konseling lintas budaya, hingga tata kelola administrasi keimigrasian yang efisien dan ramah mahasiswa. Selain itu, transparansi kebijakan dan pemerataan layanan menjadi penting untuk mencegah friksi sosial antara mahasiswa asing dan mahasiswa lokal.
Sebagai penutup, perlu disikapi bahwa mahasiswa asing di perguruan tinggi Indonesia berada di persimpangan antara tuntutan internasionalisasi dan realitas akademik yang belum sepenuhnya inklusif. Tantangan bahasa, budaya, birokrasi, serta adaptasi sosial menjadi bagian dari pengalaman akademik mereka. Di sisi lain, dinamika ini juga memunculkan kecemburuan mahasiswa lokal yang perlu dipahami sebagai sinyal evaluatif terhadap kebijakan internasionalisasi kampus. Dengan pendekatan yang adil, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan seluruh mahasiswa, internasionalisasi pendidikan tinggi dapat menjadi ruang kolaborasi lintas budaya yang produktif, bukan sumber ketegangan dalam kehidupan akademik.