metrouniv.ac.id – 25/01/2026 – 6 Sya’ban 1447 H
Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA. (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Dalam beberapa hari terakhir, aktivitas pembimbingan akademik menunjukkan dinamika yang beragam. Sejumlah mahasiswa aktif mengajukan calon judul skripsi, tesis, dan disertasi serta secara konsisten melakukan konsultasi akademik. Di sisi lain, terdapat pula mahasiswa yang menunjukkan tingkat keaktifan yang berbeda, mulai dari yang masih terbatas intensitas bimbingannya hingga yang belum memulai proses pembimbingan dengan berbagai latar belakang dan alasan akademik maupun personal. Keragaman ini merupakan realitas wajar dalam proses pendidikan tinggi, yang mencerminkan perbedaan kesiapan akademik, motivasi, serta kemampuan manajerial mahasiswa dalam mengelola studi dan penelitian.
Perbedaan progres mahasiswa tersebut juga tidak dapat dilepaskan dari proses penyesuaian terhadap arahan dosen pembimbing utama maupun dosen pendamping. Pembimbingan akademik pada hakikatnya merupakan ruang dialog ilmiah yang menuntut kesabaran, keterbukaan, dan kesungguhan dari kedua belah pihak. Mahasiswa dituntut mampu merespons arahan pembimbing secara konstruktif, sementara dosen pembimbing berperan mengarahkan, memfasilitasi, dan menjaga kualitas ilmiah penelitian sesuai dengan standar akademik yang berlaku.
Dalam konteks ini, penting bagi dosen dan mahasiswa untuk memiliki pemahaman yang sama mengenai menjaga marwah akademik dalam pembimbingan skripsi, tesis, dan disertasi. Marwah akademik tercermin dalam komitmen terhadap kejujuran ilmiah, etika akademik, profesionalisme, serta tanggung jawab intelektual. Proses bimbingan tidak sekadar diarahkan pada penyelesaian administrasi akademik, tetapi pada pembentukan sikap ilmiah, kemandirian berpikir, dan integritas keilmuan mahasiswa. Oleh karena itu, pembimbingan akademik idealnya dipandang sebagai proses kolaboratif yang menjunjung tinggi nilai dialog ilmiah, saling menghargai, dan keterbukaan terhadap kritik konstruktif. Dengan menjaga marwah akademik tersebut, pembimbingan skripsi, tesis, dan disertasi tidak hanya menghasilkan karya ilmiah yang layak secara akademik, tetapi juga melahirkan insan akademik yang bertanggung jawab, beretika, dan siap berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Pembimbingan skripsi, tesis, dan disertasi merupakan tahap krusial dalam proses pendidikan tinggi yang menentukan kualitas akademik lulusan. Di PTKIN, pembimbingan skripsi, tesis, dan disertasi tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter ilmiah yang beretika, bertanggung jawab, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman. Oleh karena itu, interaksi sosial psikologis antara dosen pembimbing dan mahasiswa harus dijaga dalam koridor marwah akademik, profesionalisme, dan humanisme. Interaksi tersebut menjadi ruang dialektika ilmiah, pembinaan intelektual, serta internalisasi etika akademik. Tantangan kontemporer, termasuk perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), menuntut redefinisi pola pembimbingan skripsi, tesis, dan disertasi agar tetap relevan tanpa mengorbankan integritas akademik.
Marwah Akademik dalam Pembimbingan skripsi, tesis, dan disertasi
Marwah akademik mencerminkan kehormatan, kredibilitas, dan integritas institusi perguruan tinggi. Dalam konteks pembimbingan skripsi, tesis, dan disertasi, marwah akademik terwujud melalui proses ilmiah yang jujur, transparan, dan bertanggung jawab. Dosen pembimbing memegang otoritas keilmuan yang dijalankan secara proporsional, sementara mahasiswa bertanggung jawab atas keaslian gagasan dan kualitas ilmiah karya yang dihasilkan. Menjaga marwah akademik berarti menghindari praktik-praktik yang mereduksi nilai ilmiah, seperti plagiarisme, manipulasi data, atau pembimbingan yang bersifat formalitas. Di PTKIN, marwah akademik juga terikat pada nilai amanah dan keadilan sebagai bagian dari etos keilmuan Islam.
Interaksi Sosial Psikologis Dosen dan Mahasiswa
Interaksi sosial psikologis dalam pembimbingan skripsi, tesis, dan disertasi mencakup relasi interpersonal, komunikasi ilmiah, dan dinamika emosional antara dosen dan mahasiswa. Interaksi yang sehat ditandai dengan dialog terbuka, saling menghargai, dan orientasi pada pengembangan kapasitas akademik mahasiswa. Dosen pembimbing berperan sebagai fasilitator dan mitra intelektual, bukan sebagai pihak yang mendominasi proses berpikir mahasiswa. Sebaliknya, mahasiswa dituntut memiliki kesiapan psikologis, kemandirian berpikir, dan sikap terbuka terhadap kritik ilmiah. Relasi ini membentuk iklim akademik yang kondusif dan produktif.
Profesionalisme dalam Pembimbingan skripsi, tesis, dan disertasi
Profesionalisme dosen pembimbing tercermin pada kompetensi keilmuan, konsistensi metodologis, serta komitmen waktu dan tanggung jawab akademik. Pembimbingan yang profesional tidak hanya berfokus pada hasil akhir skripsi, tetapi juga pada proses pembelajaran ilmiah yang dialami mahasiswa. Di sisi lain, profesionalisme mahasiswa tercermin pada kedisiplinan, etos kerja ilmiah, serta kepatuhan terhadap pedoman akademik. Hubungan profesional ini menjadi fondasi penting bagi terwujudnya pembimbingan skripsi yang bermutu dan berintegritas.
Pendekatan Humanis dalam Pembimbingan
Pendekatan humanis menempatkan mahasiswa sebagai subjek pembelajaran yang memiliki latar belakang, kemampuan, dan dinamika psikologis yang beragam. Pembimbingan yang humanis menuntut empati, kesabaran, dan komunikasi yang konstruktif tanpa mengurangi standar akademik. Dalam konteks PTKIN, pendekatan humanis sejalan dengan nilai tarbiyah yang menekankan pembinaan akal, sikap, dan moral secara seimbang. Pendekatan ini mendorong tumbuhnya kepercayaan diri akademik dan kemandirian intelektual mahasiswa.
Tanggung Jawab Akademik dan Etika Ilmiah
Tanggung jawab akademik dalam pembimbingan skripsi, tesis, dan disertasi bersifat timbal balik. Mahasiswa bertanggung jawab atas keaslian karya, ketepatan metodologi, dan integritas data. Dosen pembimbing bertanggung jawab memberikan arahan ilmiah yang jelas, koreksi yang objektif, serta pengawasan akademik yang berkesinambungan. Etika ilmiah menjadi landasan utama dalam menjaga kualitas skripsi, tesis, dan disertasi dan kehormatan institusi. Ketaatan pada etika akademik merupakan manifestasi dari nilai kejujuran dan tanggung jawab intelektual.
Penggunaan Artificial Intelligence dalam Penyusunan skripsi, tesis, dan disertasi
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) membuka peluang baru dalam penyusunan skripsi, tesis, dan disertasi, seperti membantu penelusuran literatur, perbaikan bahasa akademik, dan pengorganisasian ide. Namun, dalam konteks PTKIN, penggunaan AI harus ditempatkan sebagai alat bantu akademik, bukan sebagai pengganti proses berpikir ilmiah mahasiswa. Penggunaan AI harus mematuhi prinsip transparansi, kejujuran, dan tanggung jawab ilmiah. Mahasiswa wajib memastikan bahwa gagasan, analisis, dan temuan penelitian merupakan hasil pemikiran mandiri. Dosen pembimbing berperan mengarahkan dan mengawasi penggunaan AI agar tidak melanggar etika akademik dan marwah keilmuan.
Kebebasan Mimbar Akademik di Era Digital
Kebebasan mimbar akademik merupakan prinsip fundamental dalam perguruan tinggi yang menjamin kebebasan berpikir dan berekspresi ilmiah. Dalam pembimbingan skripsi, tesis, dan disertasi, kebebasan ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan perspektif dan argumentasi ilmiah secara mandiri. Namun, kebebasan tersebut harus dijalankan secara bertanggung jawab dalam koridor metodologi ilmiah dan etika akademik. Di era digital dan AI, kebebasan mimbar akademik menuntut kedewasaan intelektual agar teknologi tidak menggantikan peran refleksi kritis dan nalar ilmiah.
Sebagai penutup, penting bagi dosen dan mahasiswa untuk konsisten menjaga marwah akademik dalam pembimbingan skripsi, tesis, dan disertasi di PTKIN yang menuntut keseimbangan antara interaksi sosial psikologis yang sehat, profesionalisme, pendekatan humanis, tanggung jawab akademik, dan pemanfaatan teknologi secara etis. Dengan menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai landasan, pembimbingan skripsi, tesis, dan disertasi tidak hanya menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas, tetapi juga membentuk lulusan yang berintegritas, kritis, dan bertanggung jawab secara akademik dan moral.