Tinjauan Psikologi atas Kekhasan Akademik, Persepsi Publik, dan Tantangan Tata Kelola dalam Penerimaan Mahasiswa Baru 2026
metrouniv.ac.id – 28/01/2026 – 9 Sya’ban 1447 H
Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA. (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Memasuki tahapan PMB PTKIN 2026, fenomena prodi sepi peminat kembali menguat, terutama pada prodi keislaman klasik, humaniora, dan kependidikan yang sejatinya memiliki kekhasan akademik, nilai historis, dan peran strategis dalam pengembangan keilmuan Islam. Namun, keunggulan tersebut kerap tidak terartikulasikan secara efektif dalam ekosistem PMB yang semakin berorientasi pasar.
Dari perspektif psikologi pendidikan dan sosial, sepinya peminat prodi PTKIN dipengaruhi oleh persepsi, stigma sosial, dan ekspektasi karier calon mahasiswa serta orang tua, bukan semata rasionalitas akademik. Lemahnya branding, kurangnya inovasi kurikulum, dan strategi promosi yang tidak menyentuh aspek psikologis memperkuat pelabelan prodi sebagai kurang prospektif. Kondisi ini melahirkan paradoks institusional: prodi yang sejatinya “keren” dan strategis justru terpinggirkan, sehingga revitalisasi perlu diarahkan pada pendekatan psikologis dan kebijakan yang lebih kontekstual dan selaras dengan karakter generasi PMB PTKIN 2026
Kekhawatiran Kaprodi Sepi Peminat di PTKIN: Perspektif Psikologi Organisasi dan Emosi Akademik
Menjelang PMB PTKIN 2026, kaprodi pada prodi sepi peminat kerap mengalami kegelisahan laten yang dalam psikologi organisasi dipahami sebagai anticipatory stress, yakni kecemasan akibat ketidakpastian capaian mahasiswa baru. Meski meyakini kekhasan dan nilai strategis keilmuan Islam yang dikelola, kaprodi dihadapkan pada kekhawatiran apakah keunggulan tersebut mampu diterjemahkan secara komunikatif dan psikologis kepada calon mahasiswa di tengah persaingan antarprodi.
Kondisi ini diperberat oleh keterbatasan anggaran promosi, lemahnya dukungan branding institusional, stigma publik yang resisten, serta sempitnya peluang kerja yang secara eksplisit menyerap lulusan prodi tertentu. Faktor-faktor tersebut membentuk career risk perception pada calon mahasiswa dan orang tua, sehingga upaya kaprodi menarik peminat signifikan pada PMB 2026 sering terasa tidak sebanding dengan energi dan strategi yang telah dikerahkan.
Kerangka Teoretik: PMB PTKIN, Pasar Pendidikan, dan Persepsi Psikologis
Dalam perspektif psikologi pendidikan dan sosiologi pendidikan, pilihan program studi pada fase PMB PTKIN tidak hanya didasarkan pada minat akademik intrinsik, tetapi juga dipengaruhi oleh motivasi ekstrinsik, persepsi sosial-keagamaan, nilai ekonomi, serta orientasi masa depan (future orientation). Teori harapan dan nilai (expectancy and value theory) menjelaskan bahwa calon mahasiswa cenderung memilih prodi yang dipersepsikan memiliki peluang keberhasilan akademik dan karier yang jelas, terutama pada konteks ketidakpastian ekonomi pascapandemi dan transformasi dunia kerja. Seiring menguatnya logika pasar dalam sistem PMB PTKIN, prodi semakin dipersepsikan sebagai “produk”, sementara calon mahasiswa dan orang tua berperan sebagai “konsumen rasional”. Dalam kerangka psikologi konsumen, prodi yang tidak secara eksplisit menampilkan prospek kerja cepat dan terukur cenderung mengalami penurunan daya tarik. Paradigma ini sering kali menggeser mandat ideologis dan keilmuan PTKIN, sekaligus mengabaikan nilai intrinsik ilmu, kepuasan intelektual, serta peran prodi dalam pembentukan identitas religius dan sosial mahasiswa.
Problematika Prodi Sepi Peminat di PTKIN dalam Perspektif Psikologi
Problematika prodi sepi peminat di PTKIN pada PMB 2026 tampak nyata dalam praktik lapangan dan dipengaruhi oleh faktor struktural serta psikologis yang saling berkelindan. Empat persoalan utama menonjol, yaitu kuatnya stigma sosial terhadap prodi keislaman tertentu, lemahnya branding prodi dalam ekosistem PMB, persepsi kurikulum yang kurang adaptif terhadap tantangan zaman, serta minimnya dukungan kelembagaan terhadap prodi marginal.
Akumulasi persoalan tersebut membentuk persepsi negatif, menurunkan minat afiliasi calon mahasiswa, dan melahirkan self-fulfilling prophecy yang semakin menguat selama proses seleksi. Akibatnya, pilihan calon mahasiswa lebih didasarkan pada rasa aman psikologis dan persepsi peluang karier daripada minat dan potensi akademik, sehingga prodi yang sejatinya memiliki kekhasan dan mandat strategis bagi PTKIN tetap berada dalam kondisi sepi peminat.
Prodi Sepi Peminat di PTKIN sebagai Prodi “Keren” dan Unik
Dalam perspektif psikologi keilmuan dan pendidikan Islam, prodi sepi peminat di PTKIN sejatinya memiliki kekuatan yang tidak selalu dimiliki oleh prodi populer. Di lapangan, prodi-prodi ini umumnya menawarkan kedalaman kajian keislaman, ketekunan metodologis, serta pembiasaan berpikir reflektif dan kritis yang berkelanjutan. Kekhasan tersebut berkontribusi besar dalam membentuk makna hidup (meaning-making), identitas religius-intelektual, dan kematangan psikososial mahasiswa—dimensi penting dalam pendidikan Islam yang kerap luput dalam narasi penerimaan mahasiswa baru (PMB) yang terlalu berorientasi pasar.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa lulusan prodi sepi peminat di PTKIN sering memiliki fleksibilitas peran sosial yang tinggi, meskipun jalur kariernya tidak selalu bersifat linier. Banyak alumni berkiprah sebagai pendidik komunitas, penggerak literasi keagamaan, peneliti independen, pendamping sosial, konsultan keagamaan, hingga pelaku ekonomi berbasis nilai dan budaya. Namun, kontribusi ini jarang ditampilkan secara sistematis dalam materi promosi PMB, sehingga nilai keunikan prodi tidak terartikulasikan secara psikologis kepada calon mahasiswa dan orang tua. Dengan demikian, label “sepi peminat” tidak mencerminkan rendahnya kualitas prodi, melainkan ketidakselarasan antara kekhasan keilmuan Islam dan cara prodi tersebut dikomunikasikan dalam ekosistem PMB PTKIN. Prodi yang berfokus pada penguatan nilai, makna, dan identitas justru memerlukan pendekatan promosi dan kebijakan yang berbeda dari prodi yang berbasis pasar kerja semata.
Strategi Revitalisasi Prodi Sepi Peminat PTKIN Berbasis Psikologi
Revitalisasi prodi sepi peminat di PTKIN perlu dirancang secara kontekstual dengan memperhatikan fase pra-PMB, masa seleksi, dan pasca-PMB 2026. Strategi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan jumlah pendaftar, tetapi juga memperkuat identitas keilmuan dan keberlanjutan prodi.
Pertama, rebranding prodi berbasis makna dan identitas keilmuan Islam pada fase pra-PMB. Promosi yang selama ini bersifat normatif perlu dialihkan ke narasi misi, nilai, dan kontribusi sosial-keilmuan prodi, melalui kisah transformasi mahasiswa dan alumni, serta pengaitan keilmuan dengan isu-isu aktual yang relevan secara psikologis bagi generasi muda.
Kedua, inovasi kurikulum kontekstual berbasis psikologi belajar pada fase pra–pasca PMB. Kurikulum perlu dikemas lebih aplikatif dan bermakna tanpa kehilangan kedalaman keilmuan Islam, melalui pembelajaran berbasis proyek sosial-keagamaan, kolaborasi lintas disiplin, serta penguatan literasi digital dan kewirausahaan berbasis nilai.
Ketiga, penguatan role model alumni dan jejaring profesi alternatif pada masa seleksi PMB. Kehadiran alumni dengan jalur karier berdampak, meski nonkonvensional, penting untuk menjawab kecemasan calon mahasiswa terkait masa depan dan memperluas persepsi peluang lulusan prodi PTKIN.
Keempat, dukungan kebijakan institusional afirmatif dan berkelanjutan pada fase pra–pasca PMB. Revitalisasi prodi sepi peminat memerlukan keberpihakan pimpinan PTKIN melalui dukungan anggaran promosi khusus, fleksibilitas inovasi kurikulum dan strategi promosi, serta evaluasi prodi yang tidak hanya berbasis jumlah peminat, tetapi juga kualitas lulusan dan kontribusi sosial. Pendekatan ini penting untuk memutus siklus self-fulfilling prophecy yang selama ini melemahkan prodi sepi peminat.
Akhirnya semua stakeholders PTKI harus memahami bahwa dalam konteks penerimaan mahasiswa baru PTKIN 2026, fenomena prodi sepi peminat tidak dapat dipahami semata sebagai kegagalan akademik atau manajerial. Ia merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor psikologis calon mahasiswa, persepsi sosial-keagamaan, logika pasar pendidikan tinggi, dan kebijakan institusional PTKIN. Prodi-prodi yang sejatinya “keren”, unik, dan strategis bagi misi keilmuan Islam justru membutuhkan keberanian kebijakan serta pendekatan psikologis yang lebih humanis, reflektif, dan kontekstual. Dengan strategi revitalisasi yang tepat dan berkelanjutan, prodi sepi peminat di PTKIN tidak hanya berpotensi meningkatkan animo pendaftar, tetapi juga dapat berkembang menjadi pusat keunggulan akademik dan moral yang menjaga keberlanjutan tradisi keilmuan Islam serta relevan dengan tantangan masa depan pendidikan tinggi Indonesia.