Akademisi Dalam Pentahelix Moderasi Beragama

oleh Dr. Siti Nurjanah, M.Ag. (Rektor IAIN Metro)

metrouniv.ac.id – Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin besar rasa toleransinya (Gus Dur). Barangkali petuah Presiden Ke-4 K.H. Abdurrahman Wahid tersebut dapat menjadi pengingat bagi para akademisi, sebagai kalangan yang menjaga tradisi keilmuan. 

Sebuah keniscayaan bahwa “Tingginya ilmu seseorang berbanding lurus dengan rasa toleransinya.” Diskursus perdebatan akademisi seharusnya didasari alasan keilmuan dan penuh kebijaksanaan, bukan prasangka buruk yang tendensi like and dislike.

Didasari tradisi keilmuan pula, agenda-agenda Peneguhan Moderasi Beragama didorong untuk menggalang kolaborasi berbagai kalangan. Dalam pembahasaan Kepala BNPT RI, Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H. menyebutnya sebagai Pentahelix Moderasi Beragama.

 

Peran Akademisi Dalam Pentahelix Moderasi Beragama

Pentahelix Moderasi Beragama ialah strategi memperkuat paham Moderasi Beragama dengan kolaborasi secara multipihak yang melibatkan 5 unsur penting yakni pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, dan media. Kolaborasi Pentahelix Moderasi Beragama diharapkan dapat menumbuhkan semangat dan nilai-nilai kepada seluruh jajaran komponen dan pemangku kepentingan terkait Moderasi Beragama.

Bermaksud mendukung konsep yang digulirkan BNPT RI tersebut, IAIN Metro dan Universitas Muhammadiyah Metro sebagai bagian unsur Pentahelix perwakilan dari akademisi di Lampung kemudian bersinergi dengan BNPT RI bersama-berjuang menjaga Pancasila sebagai Ideologi Negara yang sudah finish. 

Akademisi sebagai kalangan yang dianggap memahami persoalan dari sisi keilmuan harus memberikan tawaran solutif atas upaya meneguhkan Moderasi Beragama. Kegiatan FGD MKKM-MKKS Se-Provinsi Lampung, FGD Rektor PTN-PTKIS Se-Provinsi Lampung, FGD Rektor PTKIN Se-Indonesia bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat yang mengusung tema “Peneguhan Moderasi Beragama Dalam Sinergi Pencegahan Radikalisme dan Terorisme Untuk Menjaga NKRI”, telah menghasilkan rekomendasi untuk mendorong Pemerintah segera mengesahkan PERPPU tentang Pelarangan Terhadap Ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. 

Langkah yang sebelumnya diawali oleh BNPT RI melalui Gugus Tugas Pemuka Agama BNPT RI, selanjutnya dapat dibahas dan disusun dalam bentuk naskah akademik. Proses pembahasan dan penyusunan tersebut tentu saja membutuhkan kontribusi akademisi. Itulah mengapa Pentahelix Moderasi Beragama menyertakan akademisi sebagai unsur penting.

Bahkan kolaborasi tersebut juga mewujud pada terselenggaranya Shalawat Kebangsaan yang menjadi kegiatan pamungkas dari rangkaian agenda besar pada 6-7 Juni 2022 lalu. Sebagaimana kita sadari, Shalawat Kebangsaan jelas memberikan nilai positif pemersatu ummat. Ada pergumulan antara dimensi keilmuan dengan tradisi masyarakat yang konkret tidak sekadar himbauan semata. Sampai di sini, nampak bahwa akademisi bersama masyarakat dapat bergandengan tangan memupuk persatuan dan kesatuan menjaga NKRI. 

 

Fokus Implementasikan Gagasan Besar

Terlepas masih ada dinamika yang menjadi bumbu proses rangkaian kegiatan di atas, sosialisasi gagasan dan narasi Moderasi Beragama tetap harus dilakukan untuk membangun kesadaran bersama masyarakat Indonesia atas pentingnya memiliki cara pandang, sikap, dan perilaku beragama jalan tengah. 

Jika menilik Perguruan Tinggi sebagai unsur penting dalam Pentahelix Moderasi Beragama, maka seharusnya perdebatan akademisi mengarusutamakan dialog seputar strategi implementasi gagasan besar tersebut. Bukan justru sibuk diselimuti prasangka buruk atau pikiran inferior yang cenderung tidak bermanfaat.

Perlu diketahui, setiap gagasan besar pasti akan ada orang besar yang mewujudkannya. Lalu, siapakah orang besar tersebut? Jika bukan kita, maka tentu saja orang lain. Oleh sebab itu, kita harus sadar bahwa kita jangan sampai tertinggal momentum besar tanpa berperan aktif mewujudkan Peneguhan Moderasi Beragama di tengah masyarakat.

Sebagaimana sebuah hadis yang kita percayai keshahihannya. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (Hadits Riwayat ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Ausath, juz VII, hal. 58, dari Jabir bin Abdullah r.a.)