PEMBERITAANANTARA FAKTA DAN NORMA
(Oleh :Prof. Dr. Enizar, M.Ag.)
A.Pendahuluan
Denganperkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini, berbagai mediadapat digunakan untuk menyampaikan informasi oleh siapa saja dan kapan saja.Namun pada saat yang sama sulit untuk dicek kebenaran informasi yang disajikanmedia. Pada kenyataannya, berita yang disampaikan di media massa baikelektronik atau cetak, atau media sosial kadang tidak sesuai dengan kenyataanyang sebenarnya, kadang menyesatkan. Hal itu terlihat dari banyaknya komplaindari pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan tersebut. Di satu sisi denganberlindung di balik UU ITE ada pihak yang membawa kasusnya ke meja hijau,karena seseorang atau media yang menyajikan berita yang dianggap mencemarkan namabaik.
Berita yangdikonsumsi oleh masyarakat saat ini lebih banyak di posting olehpenulisnya tanpa ada peninjauan tentang kebenaran berita, kadang jugamenyampaikan kembali berita hoax yang diterimanya dan berita yang dapatmendatangkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. Bahkan berita yangmenyangkut SARA dapat memicu timbulnya disintegrasi di tengah-tengahmasyarakat. Untuk itulah perlu diketahui ketentuan Islam dalam maasalahpemberitaan.
Berita(Arab: khabar) jika disebutkan secara vis a vis dengan insya’ yang menjadikajian bahasa, maka khabar sebenarnya mempunyai potensi untuk benar dan salah.Oleh sebab itu, untuk menghindari dari berita bohong, maka berita yangdisampaikan kepada massa diharapkan berita yang sudah terseleksi.
Selektifitasberita tersebut dapat dilakukan terhadap sumber berita, isi berita, dankelayakan penyampaian berita. Di samping itu, berita yang adadapat diseleksi oleh penyampai dan atau penerima berita. Meskipun seleksiberita pada umumnya, namun dapat diikuti proses penyeleksian berita yangbersumber dari pendengar hadis Rasul dalam menyampaikan hadis. Kegiatan seleksi hadis tersebut sudah dilakukan oleh para ulama dan dapatdijadikan acuan dalam upaya seleksi berita.
B. SeleksiSumber Berita dan atau Penyampai Berita
Setiapmenerima berita, tidak boleh menerima saja secara mentah-mentah. Bahkansejarah telah membuktikan bahwa Hadis yang datang dari Rasul sejak Rasul wafatsampai hadis dibukukan pun mengalami seleksi yang luar biasa oleh parapemerhati hadis. Hal itu dilakukan karena penyampaian hadis dari mulut kemulut dan panjangnya rentang waktu antara pasca wafatnya Rasul denganpembukuannya. Realitas itu kemudian menyebabkan ulama hadis sepakat untukmelakukan seleksi terhadap berita yang dinyatakan sebagai hadis Rasul. Namun untuk hadis Rasul, kebenaran sumber tentu saja tidak diragukankebenarannyan (Q.S. al-Najm/53: 3-4)
Dalampemberitaan biasa, seleksi terhadap sumber atau pembawa berita perlu dilakukan. Dalam seleksi sumber atau penyampai berita harus diperhatikan dandijadikan perhatian tentang kualitas pribadi. Hal itu sudah diisyaratkanoleh Allah dalam Q.S. al-Hujurat/49: 6 berikut:
ÙØ§ Ø£ÙÙØ§Ø§ÙذÙ٠آ٠ÙÙØ§ إ٠جاءÙÙ Ù?Ø§Ø³Ù Ø¨ÙØ¨Ø£ Ù?تبÙÙÙØ§ Ø£Ù ØªØµÙØ¨Ùا ÙÙ٠ا Ø¨Ø¬ÙØ§ÙØ© Ù?تصبØÙا عÙ٠٠اÙ?Ø¹ÙØªÙ ÙØ§Ø¯Ù ÙÙ
Haiorang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatuberita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibahkepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesalatas perbuatanmu itu.
Kata Ù?اس٠dalam ayat menunjukkan bahwa sumber beritamempunyai kualitas pribadi yang tidak baik (bohong) Dengan demikiantidak ada toleransi untuk menyampaikan berita bohong, karenakebohongan merupakan salah satu indikator dari kemunafikan, yang dapatmenimbulkan fitnah dan meresahkan. Berita yang disampaikan bermanfaat bagipenerima berita dengan menyampaikan kebaikan dan diungkapkan sesuai dengakenyataan (jujur).
Dalam sebuahhadis, Rasulullah Saw. menyuruh orang mukmin untuk mengatakan sesuatu kebaikanyang artinya : Abu Syuraih menyatakan bahwa ia mendengar Rasulullah sawbersabda “…. Siapa yang beriman kepada Allah danpercaya adanyahari akhir, hendaklah ia bertutur kata yang baik atau diam.
Realisasidari ketentuan di atas, dalam hadis lain Rasulullah menjadikan kemampuanmenjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain sebagai indikator ke-Islamanseseorang. Sehingga muslim tidak akan memfitnah, mengadu domba,memprovokasi, yang dapat memicu munculnya prilaku anarkhis. Ia tidak akanmemfitnah yang dapat mencemarkan nama baik orang tersebut . Ia tidak akanmengadu domba antara orang-orang yang berbeda inspirasi dan kepentinganuntuk mencapai kepentingannya sendiri. Dia tidak akan mengambil keuntungan darisituasi yang tidak baik, seperti kata pepatah: “tidak menangguk di airkeruh”.
Untukmengantisipasi agar orang tidak melakukan kebohongan, Rasul juga melarangmenyampaikan sesuatu yang tidak diketahui pasti kebenarannya, Rasulullah bersabda:
عÙÙÙ?اÙÙÙ Ù?غÙ?ÙØ±ÙØ©Ù? بÙÙÙ? Ø´Ù?Ø¹ÙØ¨Ùة٠عÙÙÙ Ø±ÙØ³Ù?ÙÙÙ? اÙÙÙÙÙÙ? صÙÙÙÙ٠اÙÙÙÙÙÙ? عÙÙÙÙÙÙÙ?ÙÙØ³ÙÙÙÙÙ Ù ÙÙØ§Ù٠إÙ?ÙÙ٠اÙÙÙÙÙÙ Ø¹ÙØ²ÙÙ ÙÙØ¬ÙÙÙÙ … ÙÙØ±Ù?ÙÙ ÙÙÙÙ?Ù Ù Ø«ÙÙÙØ§Ø«Ùا ÙÙ?ÙÙÙÙÙÙÙØ§ÙÙ ÙÙÙÙØ«ÙØ±ÙØ©Ù Ø§ÙØ³ÙÙ?Ø¤ÙØ§ÙÙ? ÙÙØ¥Ù?Ø¶ÙØ§Ø¹Ùة٠اÙÙÙ ÙØ§ÙÙ?
Hadisditerima dari al-Mughirat bin Syu’bah, Rasulullah saw. bersabda: Allah SWT. …mmbenci untukmu tiga hal, yaitu banyak membicarakan sesuatu yang tidak jelassumbernya, banyak tanya dan boros (konsumtif)
Terkaitdengan ketentuan di atas, dalam merespon pemberitaan yang ada di media sosialatau pun di media IT lainnya, hanya akan mempertimbangkan berita yang ditulisoleh orang yang jelas identitasnya. Misalnya ketika membaca tulisan tentanghukum Islam, hanya dipercaya ketika ditulis oleh penulis yang memilikipengetahuan hukum Islam (pakar hukum Islam).
C. SeleksiIsi Berita
Berita yangdisampaikan dalam media massa dapat membentuk citra seseorang atau membentukopini publik. Oleh sebab itu, berita yang disampaikan harus berita yang benar. Dalam hal ini penyampai berita dan semua penerima berita harus dapatmenyeleksi berita yang disampaikan dan diterimanya. Allah dalam ayat yang lalu(Q.S.al-Hujurat/49:6) telah memerintahkan orang mukmin untuk dapat melakukanpenilaian dan selektif terhadap isi berita secara lengkap.
Ayat initurun disebabkan oleh peristiwa tentang Zaid bin Uqbah yang ditugasi untukmemungut zakat ke suatu daerah, karena merasa takut sebelum sampai ke tempattujuan, ia sudah kembali lagi ke Madinah. Ia melaporkan kepada RasulullahSaw. bahwa umat Islam di sana tidak mau membayar zakat, bahkan mereka mengancamakan membunuhnya. Akhirnya Rasulullah Saw. mengutus utusan lagi untukmengingatkan mereka. Akan tetapi, kenyataan yang sebenarnya ternyata Zaidbin Uqbah tidak datang untuk mengambil zakat yang sudah mereka kumpulkan untukdibawa ke Medinah.
Dalammenyeleksi kebenaran berita, di samping dilihat dari sumber beritanya, jugaharus ada klarifikasi dengan sumber berita atau bukti pendukung, karena diakhir ayat tersebut mengisyaratkan agar penerima berita tidak langsungmempercayai berita yang ada sebelum ada hasil penyelidikan dan klarifikasitentang masalah yang diberitakan dan sebelum ada bukti pendukung. Menkominfomenyampaikan bahwa sebelum posting di medsos harus tabayyun 3 kali karenaterkai dengan UU ITE.
Kehati-hatiandalam menerima dan menyampaikan sesuatu, bukan berarti menutup kesempatanuntuk menyampaikan sesuatu kebenaran. Dalam sebuah hadis Rasulmenjelaskan bahwa kebenaran harus diungkapkan meskipun pahit. Bahkan dalam hadis lain, Rasulullah Saw. mendorong orang untukmenyampaikan kebenaran tanpa takut resiko yang muncul. Berita yangdisampaikan dapat mempengaruhi pembaca atau penerima berita. Oleh sebab itu,kebenaran isi berita merupakan keniscayaan.
Terkaitdengan kondisi hari ini, banyak berita yang dapat diperoleh, jangan cepatpercaya dan terpengaruh dengan berita yang ada, abaikan saja berita yang belumtentu benar. Sikap kritis dan selektif menerima berita yangdibatasi pada berita yang benar.
D. SeleksiKelayakan Penyampaian Berita
Dalampemberitaan harus ada pertimbangan dari dampak berita yang disampaikan,meskipun berita tersebut benar. Ada pertimbangan alur dan patut dalam pemberitaan.Kebenaran isi berita saja tidak cukup apabila kemudian berita itu berdampaknegatif. Seleksi kelayakan penyampaian berita pernah dilakukan oleh Umar binKhatab tentang hadis yang sering disampaikan Mu’az bin Jabal (w.18 H ) yangartinya:
Dari Anasbin Malik, ketika Mu’az bin Jabal melakukan perjalanan bersama Rasul,Rasulullah memanggilnya sampai 3 kali dan bersabda: “Siapa yang di akhirhayatnya mengucapkan kalimat la ilaha illallah, pasti masuk surga, lalu Mu’azmenanyakan bolehkah aku beritakan hadis ini kepada orang banyak untukmemberikan kabar gembira, Rasul mejawab: jangan, saya khawatir mereka akankurang beramal.”
Hadis diatas muncul ketika Umar menanyakan kepada Rasul tentang hadis dimaksudbenar-benar dari Rasulullah, Rasul menjawab: “benar” Rasulullah pernahmenyabdakannya. Ketika Rasulullah bertanya kepada ‘Umar bin Khatab tentangalasannya mempertanyakannya, lalu ‘Umar menyatakan bahwa dengan pemahaman hadisitu, masyarakat jadi berkurang gairah ibadahnya. Menanggapi konfirmasi tersibutlalu Rasul bersabda: kalau hadis tersebut membawa pengaruh tidak baik sepertiitu, maka jangan disampaikan.
Adakeharusan untuk mempertimbangan bahwa berita tersebut bermanfaat bagi penerima/ pembaca. Hal ini untuk mengantisipasi dampak negatif yang akan muncul ketikaberita tersebut disampaikan. Ketika berita yang benar itu pun akan berdampaknegatif bagi penerima berita, maka tidak boleh disampaikan.
E.Kesimpulan
Berdasarkanketentuan yang sudah diungkapkan ada tiga tabayyun yang harus dilakukan,tabayun sumber berita, tabayyun kebenaran isi berita dan tabayyun kemanfaatanberita yang disampaikan. Dalam pemberitaan selalu terkait dengan sumber berita,penyampai berita, dan penerima berita, maka :
- Sebagai sumber berita tabayyun dilaksanakan dengan hanya menyampaikan berita yang benar dan tidak berdampak negatif bagi penerima berita, bukan berita bohong apalagi berita provokasi yang memicu terhadinya perpecahan.
- Sebagai pembawa berita tabayyun dilakukan dengan hanya menyampaikan berita yang sudah jelas sumber dan kebenarannya dan layak untuk diberitakan. Karena ada juga berita yang benardan tidak pantas untuk diberitakan dan menjadi konsumsi publik.
- Sebagai penerima berita tabayyun dilakukan dengan cara tidak gegabah menerima berita apa lagi kemudian mempercayainya. Harus melakukan seleksi sumber dan kebenaran isi beritanya.