Metro, metrouniv.ac.id — Kunjungan resmi Duta Besar Palestina untuk Indonesia, H.E. Abdalfatah A.K. Al-Sattari, ke UIN Jurai Siwo Lampung dirangkaikan dengan kegiatan guest lecture yang berlangsung khidmat dan penuh makna, Selasa (21/4). Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga momentum penguatan solidaritas kemanusiaan antara Indonesia dan Palestina.

Usai penandatanganan MoA dengan fakultas yang ada, Rektor UIN Jurai Siwo Lampung, Prof. Dr. Ida Umami dalam sambutannya menyampaikan penerimaan hangat atas kunjungan resmi tersebut. Ia menegaskan bahwa kehadiran Duta Besar Palestina merupakan kehormatan sekaligus bagian dari tindak lanjut nota kesepahaman yang telah ditandatangani sebelumnya.

“Kami menyambut dengan penuh kehormatan kunjungan resmi Duta Besar Palestina di kampus ini. Ini bukan hanya agenda akademik, tetapi juga bentuk nyata komitmen kami dalam memperkuat kerja sama dan solidaritas kemanusiaan,” ujar Ida Umami.
Ia juga menegaskan bahwa dukungan terhadap Palestina merupakan bagian dari nilai kemanusiaan yang terus dijaga oleh civitas akademika.
“Doa dan dukungan kami selalu untuk Palestina, khususnya rakyat Gaza. Sebagai bukti kecintaan terhadap Palestina justru tidak pernah surut,” tambahnya.

Dalam sesi guest lecture, Al-Sattari menyampaikan pidato tanpa teks, dengan gaya yang lugas dan penuh ketulusan didampingi mudir ma’had UIN Jusila, Dr. Taufid Nazar sebagai penerjemah. Ia mengaku memilih berbicara dari hati karena merasakan kedekatan yang kuat dengan masyarakat Indonesia.
“Saya tidak menyiapkan teks. saya hanya menuliskan nama-nama yang hadir untuk disebutkan”, selorohnya disambut gelak peserta. “Saya ingin berbicara dari hati. Karena saya merasa kita ini satu. Saya merasa berada di rumah sendiri,” lanjutnya.

Momentum kunjungan di kampus 1 tersebut yang bertepatan dengan Hari Kartini turut disorot dalam penyampaiannya. Ia menilai Indonesia sebagai negara yang memuliakan perempuan dan memberikan ruang yang setara dalam berbagai bidang.
“Di antara yang saya hormati dari Indonesia adalah bagaimana perempuan dimuliakan. Perempuan diberi kesempatan yang setara, dan itu adalah kekuatan bagi sebuah bangsa,” tegasnya.
Al-Sattari juga mengungkapkan bahwa kunjungan ini merupakan pengalaman pertamanya ke luar Jakarta sejak bertugas di Indonesia, yang meninggalkan kesan mendalam atas sambutan yang diberikan.
Dalam pemaparannya, ia turut menyinggung kondisi yang dihadapi rakyat Palestina. Sebagai putra asli Gaza, yang keluarganya juga menjadi korban perang, ia menegaskan bahwa hingga saat ini perjuangan kemerdekaan masih terus berlangsung.

“Di saat banyak negara telah maju, sampai hari ini masih ada bangsa yang terus berjuang untuk kemerdekaannya,” ujarnya.
Terkait tawaran program beasiswa sebagaimana disampaikan rektor, ia menyampaikan akan menyebarkan informasi beasiswa bagi masyarakat Palestina melalui jaringan internet dengan sistem seleksi. Namun, ia juga mengungkapkan tantangan besar di lapangan yang dihadapi pelajar di Gaza.
“Banyak generasi muda kami yang cerdas, tetapi tidak mendapatkan kesempatan yang layak. Bahkan untuk sekedar keluar dari Gaza pun sangat sulit, dan itu menjadi hambatan besar bagi pendidikan mereka,” jelasnya.
Menurutnya memang Israel mengkondisikan demikian karena kekhawatirannya terhadap perkembangan Palestina ke depan. Bahkan menurutnya itulah alasan mereka menghabisi para pemuda dan anaka-anak.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, ia menegaskan keyakinan rakyat Palestina.
“Karena kami yakin, suatu saat penjajahan ini akan berakhir,” katanya dengan penuh keyakinan.

Menanggapi isu terkait Hamas sebagaimana dipertanyakan salah satu peserta, Al-Sattari menegaskan bahwa perjuangan rakyat Palestina tidak dapat dipersempit oleh pelabelan tertentu.
“Siapa pun yang mendukung kemerdekaan Palestina adalah bagian dari perjuangan. Narasi tentang radikalisme sering digunakan untuk membenarkan tindakan yang tidak adil, bahkan untuk memecah belah kami,” tegasnya.

Kegiatan berlangsung penuh semangat solidaritas. Sebagaimana tergambar diawal kehadiran Duta Besar Palestina disambut antusias oleh para mahasiswa yang melambaikan bendera Indonesia dan Palestina. Momentum ini menjadi penegas kuatnya hubungan emosional dan dukungan masyarakat Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina. ( )