SERPONG, metrouniv.ac.id – Penguatan karakter generasi muda membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada penanaman norma, tetapi juga memahami dinamika psikologis, perkembangan kepribadian, dan lingkungan sosial individu. Perspektif ini disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung, Prof. Dr. Ida Umami, Kons., dalam Dialog Ahli Bersama Stakeholders yang diselenggarakan Kementerian Agama Republik Indonesia di Atria Hotel Gading Serpong, Tangerang, Selasa (27/10/2026).
Forum tersebut mempertemukan pemangku kepentingan Kementerian Agama, pimpinan perguruan tinggi keagamaan negeri (PTKN), dan para ahli untuk membahas isu Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, dan Queer (LGBTQ), termasuk strategi edukasi, penguatan karakter, serta peran agama dan keluarga dalam merespons dinamika sosial kontemporer.

Sebagai akademisi sekaligus konselor, Ida Umami menekankan pentingnya memahami individu secara utuh dalam proses pembinaan. Menurutnya, pendidikan karakter perlu mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan pendekatan psikologis yang tepat agar proses pendampingan berlangsung efektif dan berkelanjutan.
“Pembinaan generasi muda perlu berangkat dari pemahaman terhadap individu, bukan sekadar penyampaian norma. Pendidikan harus menumbuhkan kesadaran diri, kematangan emosional, dan tanggung jawab moral yang berlandaskan nilai-nilai agama,” ujarnya.
Ia memandang pendidikan agama dan pendekatan psikologis dapat saling melengkapi dalam membangun kepribadian generasi muda. Penanaman nilai perlu diperkuat melalui keteladanan, dialog edukatif, pendampingan, serta lingkungan keluarga dan kampus yang kondusif.

Dalam konteks perguruan tinggi keagamaan Islam, pembentukan karakter merupakan bagian integral dari proses pendidikan. Kampus tidak hanya bertanggung jawab mengembangkan kompetensi akademik mahasiswa, tetapi juga memfasilitasi kematangan pribadi, integritas moral, dan kepedulian sosial.
“Perguruan tinggi harus menjadi ruang pembelajaran sekaligus pembentukan kepribadian. Persoalan sosial perlu disikapi secara proporsional melalui pendidikan, pendampingan profesional, dan penguatan nilai, dengan tetap menghormati martabat manusia serta mencegah perundungan dan diskriminasi,” tegasnya.
Ida Umami menambahkan, kolaborasi antara keluarga, institusi pendidikan, dan pemangku kepentingan menjadi kunci dalam membangun pembinaan generasi muda yang konsisten. Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui penguatan literasi keagamaan, layanan konseling, pendidikan karakter, dan pengembangan budaya akademik yang sehat.
Partisipasi UIN Jurai Siwo Lampung dalam forum ini menegaskan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam pendidikan karakter. Integrasi nilai keagamaan, wawasan psikologis, dan tanggung jawab pendidikan diharapkan dapat mendukung terbentuknya generasi muda yang berintegritas, berakhlak, matang secara pribadi, dan mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab. ( )