Metro, metrouniv.ac.id — Di tengah krisis lingkungan yang makin mendesak, UIN Jurai Siwo Lampung tidak ingin hanya menjadi penonton. Melalui Workshop Pengolahan Sampah yang digelar pekan ini, kampus tersebut menegaskan bahwa gerakan Green Campus bukan sekadar serangkaian kegiatan seremonial, tetapi ikhtiar membangun peradaban ekologis yang berpijak pada nilai-nilai Ekoteologi Kementerian Agama.

Workshop ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang refleksi: bagaimana perguruan tinggi, sebagai produsen gagasan dan tempat lahirnya generasi intelektual, memaknai sampah bukan sekadar urusan kebersihan, tetapi cermin cara pandang sebuah komunitas terhadap bumi yang ditinggalinya.

Dua narasumber dihadirkan untuk menajamkan perspektif itu. Pada sesi pertama, Dr. Ir. Dwi Irawan, ST., MT., saintis biomassa yang telah lama berkutat dengan inovasi limbah menjadi energi terbarukan, menantang peserta untuk menggeser paradigma. Menurutnya, budaya bersih tidak dilahirkan oleh fasilitas, tetapi oleh karakter kolektif. “Green Campus harus menjadi disiplin bersama, bukan jargon,” tegasnya, seraya mengajak seluruh unsur kampus—mahasiswa, dosen, hingga tenaga kebersihan—membangun ekosistem yang sehat dan berkelanjutan dengan SOP yang jelas dan terukur. Antusiasme peserta terlihat dari diskusi interaktif mengenai kendala dan peluang pengelolaan sampah di lingkungan akademik.

Sesi berikutnya menghadirkan perspektif teknis dari Sugiyanto, S.P., penyuluh pertanian sekaligus aktivis lingkungan. Ia menekankan prinsip paling mendasar namun sering diabaikan: pemilahan sampah sejak dari sumber. Tanpa itu, kata Sugiyanto, pengolahan lanjutan hanya tinggal teori. Ia memaparkan langkah-langkah praktis—dari pembuatan kompos hingga pemanfaatan limbah organik—yang membuka mata peserta bahwa sampah justru menyimpan potensi keberlanjutan bila diperlakukan dengan benar.

Puncak kegiatan berlangsung pada Jumat, 28 November 2025, ketika Suhendi, M.Pd., mengukuhkan Kader Kampus Hijau. Para kader ini bukan sekadar tim relawan, tetapi agen perubahan yang dipersiapkan untuk menjadi motor gerakan ekologis kampus. Suhendi menegaskan bahwa pengukuhan ini adalah fondasi penyusunan roadmap pengelolaan sampah kampus yang terintegrasi dan berjangka panjang.
Ia menambahkan bahwa Green Campus harus melampaui aktivitas ad-hoc. Kampus, katanya, harus sanggup memberi teladan tentang keadaban lingkungan—sebuah nilai spiritual yang selaras dengan prinsip Ekoteologi. Salah satu langkah strategis yang didorong adalah asesmen jejak karbon (carbon footprint). Dengan memetakan emisi dari aktivitas akademik dan operasional, kampus dapat mengambil tindakan mitigasi yang lebih tajam dan berbasis data. Ini adalah bentuk nyata aksi iklim yang relevan dan terukur.

Lebih jauh, kegiatan ini menempatkan pelestarian lingkungan bukan sekadar isu ekologis, tetapi tanggung jawab moral dan spiritual. Inilah titik di mana nilai keagamaan, pengetahuan ilmiah, dan kesadaran ekologis dipadukan menjadi gerakan kolektif. Bagi institusi pendidikan Islam, pendekatan ini menjadi jawaban terhadap tantangan global yang semakin kompleks.
Panitia menegaskan bahwa keberhasilan Green Campus tidak bergantung pada teknologi semata, melainkan pada budaya partisipasi. Mahasiswa, dosen, dan tenaga kebersihan adalah satu ekosistem; perubahan hanya terjadi jika semua bergerak bersama.
Dengan workshop ini, UIN Jurai Siwo Lampung menunjukkan bahwa perguruan tinggi bukan hanya pusat pembelajaran, tetapi pusat perubahan sosial dan ekologis. Dari pemilahan sampah, pengurangan plastik sekali pakai, hingga pemanfaatan limbah organik—langkah-langkah kecil itu menjadi bagian dari komitmen besar membangun kampus yang berkeadaban hijau.
Ke depan, kampus merencanakan kegiatan ini menjadi program berkelanjutan, termasuk penguatan infrastruktur pemilahan sampah, peningkatan literasi lingkungan, hingga pembentukan Sekolah Kader Kampus Hijau. Dengan demikian, gerakan Green Campus tidak berhenti sebagai slogan, tetapi benar-benar hidup dalam tindakan sehari-hari sivitas akademika UIN Jurai Siwo Lampung.
Kontributor : pepen