Metro, metrouniv.ac.id — Rangkaian Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Metro resmi ditutup pada Kamis (23/04/2026). Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, sejak 20 hingga 23 April 2026 ini melibatkan peserta lintas instansi, sebagai wujud kolaborasi antar lembaga dalam memperkokoh nilai-nilai kebangsaan dan kerukunan.

Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada penguatan pemahaman, tetapi juga mendorong peserta untuk menerjemahkan nilai moderasi beragama ke dalam langkah konkret di lingkungan kerja masing-masing.
Diskusi, studi kasus, hingga penyusunan rencana aksi menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.

Acara penutupan dihadiri oleh sejumlah pimpinan institusi, di antaranya Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung, Prof. Dr. Ida Umami, M.Pd., Kons., bersama para wakil rektor, Kabiro AKU, Kepala Pusat Moderasi beragama. Juga Kepala Loka Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan Bandar Lampung, Agus Apriansyah, S.Kom., M.M., bersama perwakilan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kota Metro dan unsur akademisi.

Dalam sambutannya, Kepala Loka menegaskan bahwa ASN memiliki posisi strategis sebagai perekat sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Oleh karena itu, pelatihan ini diharapkan mampu memberikan penguatan tidak hanya pada aspek pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan dalam merawat harmoni serta mencegah potensi konflik berbasis perbedaan.

Sementara itu, Rektor UIN Jurai Siwo Lampung, Prof. Ida Umami, menyampaikan refleksi yang lebih luas dengan mengaitkan wawasan kebangsaan dan pentingnya moderasi beragama dengan dinamika global. Ia menyinggung situasi yang masih bergejolak di kawasan Timur Tengah, khususnya di Palestina, sebagai cermin betapa pentingnya menjaga persatuan.

Ia mengungkapkan bahwa sehari sebelum kegiatan penutupan, kampus UIN menerima kunjungan kehormatan dari Duta Besar Palestina. Dalam pertemuan tersebut Duta besar menuturkan bagaimana kekuatan eksternal kerap berupaya membenturkan berbagai faksi intern guna melemahkan perjuangan suatu bangsa.

“Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga bagi kita. Ketika persatuan melemah, maka celah untuk dipecah belah semakin terbuka,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa semangat nasionalisme dan jiwa kebangsaan di Indonesia harus terus dipupuk secara konsisten. Keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia justru harus menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.

“Moderasi beragama harus beriringan dengan penguatan komitmen kebangsaan. ASN sebagai pelayan publik memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga nilai persatuan, agar bangsa ini tetap kokoh dan tidak mudah diadu domba,” tegasnya.

Dengan berakhirnya kegiatan ini, para peserta diharapkan mampu mengimplementasikan hasil pelatihan secara berkelanjutan, sekaligus menjadi motor penggerak dalam memperkuat nilai toleransi, mempererat persatuan lintas sektor, dan menjaga keutuhan bangsa. ( )