Hilal Syawwal 1443 H : Media Uji Eksistensi Kriteria Imkanur Rukyah MABIMS Baru

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 01/05/2022 – 29 Ramadhan 1443 H

Moelki Fahmi Ardliansyah, M.H. (Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Metro)

Penentuan awal Ramadhan dan Syawwal merupakan informasi yang ingin diketahui oleh mayoritas umat muslim, oleh karenanya kepastian mengenai hal tersebut sangat dinantikan. Pasalnya selain ibadah sangat berkaitan dengan banyak hal, mulai dari aspek ekonomi hingga budaya (semisal: pulang kampung atau mudik).

Banyak pakar telah menuliskan prediksi mengenai awal Syawwal 1443 H. Prof. T. Djamaluddin memprediksi Syawwal akan seragam (2 Mei 2022 M) dengan berbagai argumen meskipun ada potensi berbeda. Secara perhitungan Model Kastner yang dihitung oleh J. Aria Utama juga ada potensi Hilal dapat dilihat (1 Mei 2022) dari P. Breueh di barat laut pulau sumatera, selama ~7 menit (sejak 13 menit pasca ghurub) tentu dengan syarat kondisi cuaca yang mendukung.

Di lain sisi Pemerintah pada 1 Mei 2022 akan melaksanakan Rukyatul Hilal di 99 titik di seluruh Indonesia, dan akan menggelar Sidang Itsbat untuk menentukan awal Syawwal 1443 H. Keberadaan Sidang Itsbat sendiri sesungguhnya untuk menemukan pengamal hisab dan pengamal rukyat, tanpa ada perlakuan khusus diantara keduannya. Sehingga keputusan sidang itsbat mengakomodir dari kedua motode tersebut.

Secara perhitungan astronomis telah terjadi ijtima’ / konjungsi pada tanggal 1 Mei 2022 M pada pukul 03:27 WIB, sedangkan posisi hilal di seluruh Indonesia berada pada ketinggian antara 3 – 5 derajat dan sudut elongasi antara 4 –  6,4 derajat. Sebagian dari wilayah Indonesia secara perhitungan astronomi telah memenuhi kriteria MABIMS baru, lebih-lebih apabila sudut elongasi dihitung secara Geosentris, maka banyak wilyah di Indonesia  telah  memenuhi kriteria.

Perhitungan sudut elongasi terjadi perdebatan di kalangan ahli. Apakah menggunakan sudut elongasi yang dihitung berdasarkan Geosentris atau Toposentris, karena hal ini akan berdampak pada acuan yang akan digunakan sebagai kriteria. Pada kesepakatan kriteria MABIMS Baru tidak disebutkan secara eksplisit mengenai hal tersebut.

Nahdlatul Ulama melalui Surat Keputusan Lembaga Falakiyah secara tegas menyatakan bahwa kriteria yang digunakan saat ini tinggi hilal menggunakan acuan Toposentris yakni 3 derajat, sedangkan sudut elongasi menggunakan acuan Geosentris yakni 6,4 derajat. Alasannya yang dikemukakan kurang lebih adalah karena tinggi hilal diamati saat rukyatul hilal, sedangkan elongasi tidak perlu diamati hanya cukup dihitung saja. Mengenai parameter lainya tidak perlu ditampilkan pada kriteria IRNU (Imkanur Rukyat Nahdlatul Ulama) karena bersinggungan erat dengan kedua kriteria di atas dan sudah terwakilkan.

Berdasarkan prediksi para ahli, gambaran posisi hilal di seluruh Indonesia, dan kriteria IRNU sebagai pengamal Rukyat. Dapat sangat dimungkinkan 1 Syawwal 1443 H akan bertepatan dengan tanggal 2 Mei 2022 M.  Sehingga Hari Raya Idul Fitri 1443 H akan seragam dan bersamaan dengan saudara-saudara kita dari organisasi Muhammadiyah yang telah awal menerbitkan ma’lumat bahwa 1 Syawwal 1443 H pada tanggal 2 Mei 2022 M.

Sesungguhnya eksistensi kriteria MABIMS baru, diuji pada kasus penentuan Syawwal 1443 H ini, karena sebagian wilayah Indonesia telah memenuhi kriteria. Sudah seharusnya apabila telah memenuhi kriteria maka dari wilayah tersebut ada yang melaporkan melihat hilal. Kita tunggu hasil rukyat sore nanti (1 Mei 2022 M), kalaupun tidak ada yang melaporkan melihat hilal, apakah sidang itsbat akan memutuskan tetap tanggal berdasarkan kriteria yang ada? karena sebagian wilayah sudah memenuhi kriteria.

Apabila melihat pada kondisi hilal di beberapa Negara yang menyepakati Kriteria MABIMS baru (Brunai Darussalam, Malaysia, Singapura) secara perhitungan astronomis belum memenuhi kriteria yang ada. Sangat dimungkinkan mereka akan menetapkan 1 Syawwal 1443 H pada 3 Mei 2022 M. Berbeda dengan Indonesia, sebagian wilayah telah memenuhi kriteria oleh sebabnya berlaku untuk seluruh Indonesia, dalam istilah fikih dikenal dengan konsep Wilayatul Hukmi.

Eksistensi kriteria MABIMS Baru, benar-benar diuji pada tahun pertama pengimplementasiannya, tergambar pada penentuan 1 Syawwal 1443 H. Harapannya adalah kriteria ini dapat menyeragamkan tidak hanya lingkup Indonesia saja, melainkan bisa seragam di beberapa Negara, dan dapat menjadi sarana terbentuknya penyatuan Kelender Hijriyah. Amiin.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.