Lampung Timur, metrouniv.ac.id – Senin (27/7), Aula Lantai 1 Perpustakaan UIN Jurai Siwo Lampung menjadi ruang perjumpaan lintas budaya ketika Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Tadris Bahasa Inggris (TBI) menyelenggarakan Visiting International Practitioner bertajuk “Religious Moderation in Action: Promoting Peace and Cultural Cohesion”. Melalui forum ini, mahasiswa tidak hanya berlatih menggunakan bahasa Inggris dalam situasi nyata, tetapi juga berdialog langsung dengan masyarakat internasional mengenai keberagaman, toleransi, dan kehidupan multikultural.
Menghadirkan delegasi Jemaat Protestan PERKI Belanda yang terdiri atas Dominique Kasandra Langen Asmoro, Johanna Delfi van Elk, Isadora Naomi Inangda Kerbusch, Sefanius Sutarno, Lucca Huberto Martua Kerbusch Silaban, serta didampingi oleh Swasti Indhirajanti-Tomasoa, kegiatan ini menjadi momentum yang mempertemukan perspektif Indonesia dan Belanda dalam suasana yang hangat, terbuka, dan penuh penghargaan terhadap perbedaan.

Kegiatan dihadiri oleh Wakil Rektor I, Wakil Rektor III, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), para Wakil Dekan FTIK, Ketua dan Sekretaris Program Studi Tadris Bahasa Inggris, dosen, serta mahasiswa Tadris Bahasa Inggris UIN Jurai Siwo Lampung. Kehadiran unsur pimpinan universitas menunjukkan dukungan terhadap penguatan internasionalisasi pendidikan dan pengembangan kompetensi global mahasiswa.
Dalam sambutannya, Ketua HMPS Tadris Bahasa Inggris menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar yang memperluas cakrawala mahasiswa sekaligus memperkuat nilai-nilai moderasi beragama. Di tengah masyarakat dunia yang semakin terhubung, kemampuan memahami keberagaman budaya dipandang sama pentingnya dengan penguasaan bahasa asing.
Suasana semakin semarak ketika mahasiswa Tadris Bahasa Inggris mempersembahkan berbagai pertunjukan budaya, mulai dari Tari Lampung, lagu daerah Lampung, storytelling, hingga pidato berbahasa Inggris. Penampilan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga menjadi bentuk diplomasi budaya yang memperkenalkan identitas lokal kepada tamu mancanegara. Kekayaan budaya Lampung berpadu dengan kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa, mencerminkan karakter lulusan yang mampu berpikir global tanpa kehilangan akar budaya.

Puncak kegiatan berlangsung dalam sesi sharing session yang menghadirkan dialog dua arah antara mahasiswa dan delegasi Belanda. Berbagai pengalaman mengenai kehidupan masyarakat multikultural di Belanda dibagikan, mulai dari budaya bersepeda, sistem pendidikan, pengelolaan air, hingga nilai-nilai sosial yang menopang kehidupan masyarakat yang beragam. Antusiasme mahasiswa terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, menunjukkan tingginya minat untuk memahami perspektif global sekaligus membandingkannya dengan konteks Indonesia.
Lebih dari sekadar forum berbagi pengalaman, Visiting International Practitioner menjadi implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengasah kemampuan komunikasi lintas budaya secara autentik, memperluas wawasan internasional, sekaligus merefleksikan pentingnya dialog sebagai jalan membangun perdamaian di tengah keberagaman.
Melalui kegiatan ini, HMPS dan Program Studi Tadris Bahasa Inggris UIN Jurai Siwo Lampung menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dengan perkembangan global. Pertemuan lintas negara tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi awal lahirnya jejaring kolaborasi internasional yang berkelanjutan serta memperkuat peran perguruan tinggi dalam mencetak lulusan yang unggul, berwawasan global, dan mampu menjadi duta perdamaian melalui pendidikan bahasa Inggris. ( )