Lampung Timur, metrouniv.ac.id — Hari pertama di kampus tidak selalu tentang mengenal gedung, ruang kuliah, atau nama-nama dosen. Bagi mahasiswa baru, hari pertama juga menjadi pintu masuk untuk mengenal cara berpikir yang berbeda—lebih kritis, lebih tenang, dan lebih bertanggung jawab.
Pesan itu mengemuka dalam pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung, yang mulai dilaksanakan hari ini, Minggu (30/8), di Gedung Academic Center (GAC), Kampus 2 UIN Jurai Siwo Lampung.

Sebanyak 1.127 mahasiswa baru mengikuti rangkaian PBAK tahun ini. Dari jumlah tersebut, 950 mahasiswa mengikuti kegiatan secara luring, sementara peserta lainnya mengikuti secara daring. Sebagaimana yang disampaikan oleh Wakil Rektor III UIN Jurai Siwo Lampung, Dr. Aria Septi Anggaira, yang sekaligus menjadi ketua pelaksana. Ia menyampaikan bahwa jumlah tersebut berasal dari mahasiswa baru dengan pilihan program studi yang beragam.
Selanjutnya mewakili Rektor UIN Jurai Siwo Lampung yang sedang melaksanakan tugas luar, Wakil Rektor Bidang I, Prof. Dr. Dedi Irwansyah, menyambut mahasiswa baru dengan sebuah cerita sederhana tentang soal ujian. Cerita itu kemudian menjadi pintu masuk untuk berbicara tentang cara berpikir seorang mahasiswa.
Ia mengisahkan seorang mahasiswa yang mendapat soal dari dosennya: “Sebutkan lima cara mengatasi persoalan bangsa dan negara.”
Sebagian mahasiswa langsung menulis jawaban. Namun, seorang mahasiswa justru mengumpulkan lembar jawaban tanpa menuliskan satu pun solusi. Ia hanya mencantumkan nama dan NPM.
Ketika mendapat nilai nol, mahasiswa tersebut mendatangi dosennya dan mempertanyakan alasannya.
“Saya mendapat nilai nol, mengapa, Pak?” demikian kira-kira pertanyaan mahasiswa itu.
Jawaban dosen sederhana: mahasiswa tersebut memang tidak menjawab pertanyaan. Ia hanya menulis identitas.
Tetapi mahasiswa itu kemudian mengkritisi soal tersebut.

“Di soal disebutkan sebutkan, bukan tuliskan,” katanya.
Cerita tersebut mungkin terdengar sederhana, bahkan menggelitik. Tetapi di situlah Prof. Dedi ingin menunjukkan satu hal penting: mahasiswa tidak cukup hanya mampu menjawab; mereka juga harus mampu membaca persoalan, mempertanyakan, dan menggunakan logika.
Memasuki perguruan tinggi, mahasiswa dihadapkan pada dunia yang tidak selalu menyediakan jawaban dalam bentuk pilihan ganda. Mereka dituntut membaca lebih banyak, memahami lebih dalam, menguji informasi, dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan.
Untuk menggambarkan sikap tersebut, Prof. Dedi mengutip pemikiran penyair dan filsuf Persia, Jalaluddin Rumi, tentang bunga yang tumbuh bukan karena petir, melainkan karena hujan.
Petir hadir dengan kilatan dan suara yang menggelegar. Ia dapat menjadi metafora bagi sikap yang mudah meledak, berbicara dengan nada tinggi, dan tergesa-gesa merespons keadaan.
Sebaliknya, hujan datang dengan kesejukan. Ia tidak gaduh, tetapi memberi kehidupan dan menumbuhkan.
“Jangan meledak- ledak seperti petir,” pesan yang tersirat dari perumpamaan tersebut. Mahasiswa justru perlu belajar menjadi seperti hujan: tenang, tetapi memberi dampak; tidak tergesa-gesa, tetapi mampu menumbuhkan gagasan.
Di titik itulah PBAK tidak sekadar menjadi agenda penyambutan mahasiswa baru. Ia menjadi semacam pengantar menuju perubahan cara berpikir—dari siswa menjadi mahasiswa.
“Karena Anda sudah berada di level mahasiswa,” pesan Prof. Dedi, mahasiswa perlu mulai membiasakan diri membuka simpul-simpul kritis. Membaca buku, memperluas pengetahuan, mengedepankan logika, dan tidak terburu-buru dalam membuat keputusan merupakan bagian dari proses tersebut.
Kampus, dalam konteks ini, bukan hanya tempat untuk memperoleh gelar. Ia adalah ruang untuk menguji gagasan, mempertajam nalar, dan belajar menyikapi perbedaan dengan kedewasaan intelektual.
Di tengah suasana pembukaan yang berlangsung tertib dan penuh antusiasme, ribuan mahasiswa baru itu pun memulai langkah pertamanya sebagai bagian dari sivitas akademika UIN Jurai Siwo Lampung.
Dengan mengucapkan bismillah, PBAK 2026 secara resmi dibuka oleh Prof. Dr. Dedi Irwansyah mewakili Rektor. ( )