Lampung, metrouniv.ac.id – Tim Peneliti MORA The AIR Fund UIN Jurai Siwo Lampung menyelenggarakan Workshop Penyusunan Draf Profil Gender Desa sebagai bagian dari pengembangan model Village-Centered Child Protection Governance atau tata kelola perlindungan anak berbasis desa. Kegiatan yang berlangsung di Desa Rulung Raya dan Desa Bandarejo, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Kamis (30/07/2026), menjadi langkah strategis dalam memperkuat kapasitas desa membangun kebijakan yang responsif terhadap perlindungan perempuan dan anak, khususnya dalam upaya pencegahan dan penanganan perkawinan anak secara berkelanjutan.
Workshop yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari ini diikuti oleh kepala desa, sekretaris desa, perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kader PKK, tokoh masyarakat, serta perwakilan warga dari kedua desa. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam membangun tata kelola perlindungan anak berbasis desa yang berlandaskan data, partisipatif, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara UIN Jurai Siwo Lampung, pemerintah desa, dan NGO (Non Governmental Organization) Kalyanamitra. Selain menjadi ruang pembelajaran bersama, workshop juga memperkuat sinergi multipihak dalam penyusunan Profil Gender Desa sebagai instrumen perencanaan pembangunan yang responsif gender dan berpihak pada perlindungan anak.
Selama kegiatan berlangsung, tim peneliti secara intensif mendampingi proses diskusi, pemetaan data, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan. Kolaborasi akademik semakin kuat dengan keterlibatan akademisi dari Institut Daarul Fattah (INDAFA) Lampung, Ning Evy Ghozaly, yang turut bergabung dalam tim penelitian.
Berbagi Pengalaman Pendampingan Kasus
Kegiatan diawali dengan sesi berbagi pengalaman dari Tim Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak Desa Rulung Raya. Sodri dan Depisah menceritakan pengalaman mereka dalam mendampingi penanganan kasus kekerasan seksual di desa.
Keduanya mengungkapkan bahwa proses pendampingan sering menghadapi berbagai hambatan sosial dan budaya. Namun, melalui pendampingan bersama Kalyanamitra, penanganan kasus dapat dilakukan secara lebih terarah, berperspektif korban, dan mengedepankan pemulihan penyintas tanpa menimbulkan kekerasan baru.
Paparan Data Terpilah Gender
Pada sesi berikutnya, tim peneliti memaparkan data terpilah berdasarkan jenis kelamin yang mencakup sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, ketenagakerjaan, hingga partisipasi perempuan dalam pembangunan desa. Data tersebut merupakan hasil pengumpulan data lapangan melalui angket, wawancara mendalam, dan focus group discussion yang dilaksanakan sejak 11 Mei hingga 29 Juni 2026.
Salah satu anggota tim peneliti, Elfa Murdiana, menjelaskan bahwa dokumen yang dipresentasikan masih berupa draf yang memerlukan proses validasi bersama seluruh pemangku kepentingan.
“Data yang kami sajikan bukanlah sesuatu yang final dan tidak dapat berubah. Sangat mungkin masih terdapat kekeliruan dalam proses pengumpulan maupun tabulasi data. Karena itu, kami berharap memperoleh masukan, klarifikasi, dan validasi dari pemerintah desa serta seluruh pemangku kepentingan agar Profil Gender Desa benar-benar menggambarkan kondisi riil masyarakat,” ujarnya.
Ketua Peneliti Mufliha Wijayati menyampaikan sejumlah temuan strategis mengenai kondisi sosial masyarakat, relasi gender, serta faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya perkawinan anak di Desa Rulung Raya.
“Profil Gender Desa bukan hanya kumpulan angka, tetapi menjadi dasar pengambilan kebijakan. Dengan data yang valid, desa memiliki pijakan yang kuat untuk menyusun program perlindungan perempuan dan anak serta memperkuat komitmen bersama dalam mencegah perkawinan anak,” jelasnya.
Dorong Lahirnya Peraturan Desa
Suasana workshop semakin dinamis ketika Windi Zaskia bersama tim Kalyanamitra memfasilitasi diskusi kelompok. Para peserta diajak memetakan berbagai bentuk sikap, peran, dan langkah yang perlu dilakukan ketika terjadi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk praktik perkawinan anak.
Diskusi juga mengidentifikasi berbagai pihak yang harus terlibat dalam proses pencegahan, pendampingan korban, advokasi keluarga, hingga penyusunan regulasi desa yang mampu memberikan perlindungan bagi perempuan, anak, dan kelompok rentan.

Hasil diskusi menunjukkan adanya komitmen kuat dari peserta untuk mendorong lahirnya Peraturan Desa (Perdes) tentang pencegahan dan penanganan perkawinan anak. Regulasi tersebut diharapkan menjadi pedoman bersama dalam membangun desa yang ramah perempuan dan anak melalui mekanisme pencegahan, penanganan kasus, serta penguatan kelembagaan perlindungan di tingkat desa.
Pada sesi lanjutan, peserta juga membahas mekanisme penyusunan Perdes dan pihak-pihak yang harus dilibatkan. Pembahasan menegaskan bahwa penyusunan regulasi harus dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan BPD, pemerintah desa, kader PKK, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak sebagai mitra implementasi kebijakan.
Mahasiswa Terlibat Aktif dalam Penelitian
Kolaborasi dalam kegiatan ini tidak hanya melibatkan perguruan tinggi, pemerintah desa, dan organisasi masyarakat sipil, tetapi juga menghadirkan peran aktif mahasiswa UIN Jurai Siwo Lampung.
Mahasiswa terlibat sejak tahap pengumpulan data, wawancara lapangan, hingga pendampingan diskusi selama workshop berlangsung. Keterlibatan tersebut menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa dalam mempraktikkan metode penelitian sekaligus memahami proses pemberdayaan masyarakat berbasis desa.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang terlibat sejak tahap awal penelitian hingga pelaksanaan workshop turut memperkuat kontribusi UIN Jurai Siwo Lampung dalam riset dan pengabdian masyarakat.
Salah satu mahasiswa yang terlibat, Rara Khoirun Nisa, mengaku memperoleh pengalaman berharga selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan penelitian.
“Selama ini kami mempelajari teknik pengumpulan data di ruang kelas. Melalui kegiatan ini, kami bisa mempraktikkannya secara langsung bersama masyarakat. Pengalaman ini sangat berharga karena kami belajar memahami persoalan sosial sekaligus melihat bagaimana data dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan oleh Anugerah Putra dan Fajar Siddiq yang menilai keterlibatan mahasiswa dalam seluruh tahapan penelitian telah memperkaya kompetensi akademik sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap isu perlindungan perempuan dan anak.
Wujud Komitmen Pengabdian kepada Masyarakat
Melalui workshop ini, UIN Jurai Siwo Lampung menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan riset yang berdampak langsung bagi masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, NGO Kalyanamitra, dan masyarakat diharapkan menjadi fondasi dalam mewujudkan tata kelola perlindungan anak berbasis desa yang kuat, berkelanjutan, serta mampu mempercepat upaya pencegahan dan penanganan perkawinan anak.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata implementasi Tridharma Perguruan Tinggi melalui sinergi riset dan pengabdian masyarakat yang dilakukan dosen bersama mahasiswa. Selain menghasilkan pengetahuan akademik, UIN Jurai Siwo Lampung juga terus menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat desa melalui pendekatan berbasis data, partisipasi, dan keberlanjutan.
kontributor : elfa