Forum tersebut menjadi ruang strategis bagi pimpinan PTKIN untuk membahas arah pengembangan kelembagaan dan akademik, sekaligus mendorong agar berbagai kesepahaman kerja sama ant perguruan tinggi tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, tetapi ditindaklanjuti melalui program nyata.
Dalam forum tersebut, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), Prof. Sahiron, memaparkan arah kebijakan pengembangan PTKI. Materi yang disampaikan mencakup internasionalisasi perguruan tinggi, transformasi kelembagaan dari STAIN menjadi IAIN dan IAIN menjadi UIN, serta spesifikasi program studi dalam rumpun ilmu agama.
Pembahasan internasionalisasi kemudian diperdalam oleh H. Farid F. Saenong, dosen Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) sekaligus Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI. Ia menguraikan pentingnya internasionalisasi sebagai bagian dari penguatan kelembagaan pendidikan tinggi keagamaan Islam agar semakin mampu berkiprah di tingkat global.
Sementara itu, Asro’i, selaku Kasubdit Pengembangan Akademik Direktorat PTKI, mengulas pengembangan program studi akademik, vokasi, dan profesi dalam rumpun ilmu keagamaan Islam. Pembahasan ini menjadi bagian penting dalam mendorong pengembangan program studi yang memiliki kekhasan, relevansi, serta daya saing.

Pengalaman UIN Sunan Kalijaga dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta turut menjadi bahan diskusi terkait upaya percepatan pengakuan internasional. Pertukaran pengalaman antarkampus tersebut memberikan perspektif bagi peserta dalam merumuskan strategi pengembangan akademik di perguruan tinggi masing-masing.
Selain itu, sesi bersama narasumber dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan dan Ilmu Agama (LAMGAMA) melengkapi pembahasan melalui pemaparan kebijakan penjaminan mutu perguruan tinggi, khususnya dalam pengembangan dan peningkatan kualitas program studi di lingkungan PTKIN.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Jurai Siwo Lampung, Prof. Dedi Irwansyah, yang mengikuti kegiatan tersebut menyampaikan bahwa internasionalisasi menjadi kebutuhan strategis yang harus ditindaklanjuti secara konkret oleh perguruan tinggi.
Menurutnya, berbagai nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang telah ditandatangani perlu diterjemahkan ke dalam perjanjian kerja sama atau Memorandum of Agreement (MoA), sehingga memiliki arah implementasi yang lebih jelas dan menghasilkan program yang dapat dirasakan manfaatnya.
Hal tersebut sejalan dengan target Rektor UIN Jurai Siwo Lampung, Prof. Dr. Hj. Ida Umami, M.Pd., Kons., dalam mewujudkan UIN Jurai Siwo Lampung sebagai kampus global yang berdampak.
“Internasionalisasi bukan sekadar menjalin kerja sama atau menandatangani MoU, tetapi bagaimana kesepahaman tersebut dapat ditindaklanjuti melalui program nyata yang memberikan dampak bagi pengembangan akademik dan kelembagaan,” ungkap Prof. Dedi Irwansyah.
Salah satu pembahasan FGD adalah keikutsertaan kampus dalam berbagai pemeringkatan, dengan mempertimbangkan sumber daya yang tersedia. Di bidang penelitian, penekanan diberikan pada sitasi, di samping jumlah publikasi. Banyaknya penelitian perlu disertai perhatian terhadap sejauh mana karya tersebut dirujuk dalam pengembangan ilmu.
Pengembangan program studi, pengakuan internasional, dan penjaminan mutu menjadi bagian yang saling terkait dalam forum ini. Bagi kampus peserta, pengalaman yang dibagikan dapat menjadi bahan untuk menimbang prioritas pengembangan. Arah tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan kelembagaan dan sumber daya masing-masing.
Keikutsertaan UIN Jurai Siwo Lampung dalam forum nasional ini menjadi bagian dari upaya memperkuat arah pengembangan akademik dan kelembagaan di tengah dinamika pendidikan tinggi keagamaan Islam.
Berbagai gagasan dan pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui penguatan kerja sama internasional, pengembangan program studi yang memiliki kekhasan, peningkatan kualitas penelitian, serta pemilihan strategi pemeringkatan yang sesuai dengan kapasitas institusi.
Dari Bandung, forum tersebut membawa pesan penting bagi pengembangan UIN Jurai Siwo Lampung: memperkuat daya saing global harus disertai langkah nyata, mulai dari mengaktifkan kerja sama yang telah terjalin hingga meningkatkan kualitas akademik dan dampak penelitian.