metrouniv.ac.id – 11/04/2026 – 22 Syawal 1447 H
Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA. (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Lagu tradisional Jawa Gundul-Gundul Pacul yang dikaitkan dengan dakwah Sunan Kalijaga bukan sekadar tembang dolanan dan hamper semua anak Indonesia kenal dengan lagu tersebut. Ia adalah kritik halus namun mendalam terhadap kepemimpinan yaitu tentang tarik-menarik antara amanah (tanggung jawab moral) dan ego (kepentingan diri). Dalam Islam, konsep amanah bukan sekadar etika sosial, tetapi juga tanggung jawab spiritual. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…”(QS. An-Nisa: 58). Ayat ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hak istimewa, melainkan titipan yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Sekecil dan serendah apapun, setiap kita adalah pemimpin.
Gundul Tanpa Mahkota: Kerendahan Hati sebagai Fondasi Kepemimpinan
Makna “gundul” sebagai kepala tanpa mahkota menggambarkan pemimpin yang tidak melekat pada simbol kekuasaan. Ini selaras dengan konsep “servant leadership” dari Robert K. Greenleaf. Dalam Islam, sikap ini tercermin dalam larangan kesombongan, “Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong…”, (QS. Al-Isra: 37). Serta hadis Rasulullah ﷺ: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim), Secara psikologis, kerendahan hati menunjukkan kematangan emosi dan kemampuan “self-transcendence”, yaitu melampaui kepentingan diri demi kemaslahatan orang lain.
Pacul dan Papat Kang Ucul: Empati sebagai Indra Moral
Filosofi papat kang ucul menggambarkan hilangnya fungsi indra moral pada pemimpin. Dalam psikologi, ini disebut sebagai “kebutaan empati”. Daniel Goleman menegaskan bahwa empati adalah inti kepemimpinan efektif. Al-Qur’an juga mengkritik mereka yang tidak menggunakan indra untuk memahami kebenaran, “Mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk memahami, mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk melihat, dan mempunyai telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar…”. (QS. Al-A’raf: 179). Hadis Rasulullah ﷺ juga menekankan kepedulian sosial, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Pemimpin tanpa empati akan kehilangan arah moral dalam kebijakan dan tindakannya.
Gembelengan: Ketika Kekuasaan Melahirkan Kesombongan
Gembelengan menggambarkan sikap angkuh dan lalai. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan bias kekuasaan. Dacher Keltner menjelaskan bahwa kekuasaan dapat menurunkan empati dan meningkatkan perilaku egoistik. Islam secara tegas memperingatkan bahwa “Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di bumi dan tidak berbuat kerusakan…”(QS. Al-Qasas: 83). Rasulullah ﷺ juga bersabda “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kesombongan dalam kepemimpinan bukan hanya cacat moral, tetapi juga awal dari kehancuran sosial.
Wakul Ngglimpang: Gagalnya Amanah karena Lemahnya Kontrol Diri
Simbol wakul ngglimpang menggambarkan amanah yang jatuh akibat kelalaian. Dalam psikologi, ini terkait dengan kegagalan regulasi diri. Menurut Roy Baumeister, lemahnya kontrol diri dapat menyebabkan penyimpangan perilaku. Al-Qur’an mengingatkan bahwa “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu…”(QS. Al-Anfal: 27). Kegagalan menjaga amanah bukan hanya kesalahan administratif, tetapi juga bentuk pengkhianatan moral dan spiritual.
Segane Dadi Sak Ratan: Dampak Sosial dari Kepemimpinan yang Lalai
Ketika amanah jatuh, maka kesejahteraan rakyat atau bawahan pun hancur, segane dadi sak ratan. Ini menggambarkan dampak sistemik dari kepemimpinan yang buruk. Dalam psikologi sosial, kondisi ini dapat memicu hilangnya kepercayaan publik dan rasa tidak berdaya. Martin Seligman menyebutnya sebagai “learned helplessness”, yaitu kondisi ketika masyarakat merasa tidak lagi memiliki kendali atas nasibnya. Islam mengingatkan hubungan antara kepemimpinan dan kondisi Masyarakat, “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129). Artinya, kualitas pemimpin dan masyarakat saling terkait dalam satu sistem moral.
Amanah vs Ego: Ujian Psikologis dan Spiritual Kepemimpinan
Pada akhirnya, Gundul-Gundul Pacul menggambarkan konflik abadi antara amanah dan ego. Dalam perspektif psikologi disebutkan bahwa terdapat konflik antara dorongan ego dan kontrol moral (Sigmund Freud) dan tingkat kematangan moral seseorang menentukan perilakunya (Lawrence Kohlberg). Dalam Islam, konflik seperti ini adalah ujian keimanan, “Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.”(QS. An-Nazi’at: 40–41).
Penutup: Kepemimpinan sebagai Jalan Ibadah
Lagu gundul gundul pacul mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar peran sosial, tetapi juga media ibadah kepada Allah Swt. Pemimpin sejati adalah mereka yang mampu untuk tidak silau oleh kekuasaan, tidak tuli terhadap suara rakyat/bawahan, dan tidak lalai dalam menjaga amanah. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Pemimpin yang adil termasuk tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Di titik inilah, Gundul-Gundul Pacul menjadi lebih dari sekadar lagu, namun ia adalah cermin psikologis dan spiritual bagi setiap manusia yang diberi amanah kepemimpinan, serendah apa pun levelnya. Wallahu a’lam bish shawab.