metrouniv.ac.id – 31/03/2026 – 11 Syawal 1447 H
Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA. (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
Lebaran bukan sekadar perayaan kemenangan spiritual setelah puasa Ramadan, tetapi juga momentum emosional yang mempertemukan hati-hati dan tulang-tulang yang lama terpisah. Di balik tradisi kunjungan dari rumah ke rumah, tersimpan dinamika psikologis yang dalam: antara rasa hormat kepada yang lebih tua dan kebutuhan emosional untuk merasa terhubung, diakui, dan dicintai. Tradisi yang muda mengunjungi yang tua, baik karena alasan umur, nasab, maupun keilmuan, adalah warisan nilai yang sarat makna. Namun, di tengah perubahan zaman, muncul pertanyaan: apakah silaturahmi masih menjadi “gayung bersambut dengan saling mengunjungi”, atau justru mulai kehilangan keseimbangan, yaitu kunjungan yang bertepuk sebelah tangan?.
Silaturahmi: Perintah Ilahi dan Kebutuhan Jiwa
Dalam ajaran Islam, silaturahmi bukan hanya anjuran, tetapi perintah yang berdampak langsung pada keberkahan hidup: “…dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan (silaturahmi)…”(QS. An-Nisa: 1). Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”(HR. Bukhari dan Muslim). Secara psikologis, silaturahmi dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia akan keterikatan (attachment). Ia menghadirkan rasa aman, mengurangi kesepian, dan memperkuat identitas diri yang diakui dan dihormati sebagai bagian dari suatu keluarga besar atau komunitas.
Yang Muda Mengunjungi yang Tua: Antara Adab dan Makna Psikologis
Dalam budaya kita, sudah menjadi kelaziman bahwa yang muda mendatangi yang lebih tua: anak kepada orang tua, murid kepada guru, mahasiswa kepada dosen, santri kepada kyai. Ini bukan sekadar formalitas, melainkan latihan kerendahan hati dan penghormatan. Ada dialog yang sering terdengar di hari lebaran dari seorang ibu ke putranya, “Nak, sudah ke rumah guru-gurumu belum?”, Sang anak menjawab, “InsyaAllah sore ini, Bu, bareng teman-teman.”
“Bagus…nak, jangan lupa, itu bukan sekadar silaturahmi, tapi juga tetap jaga adab dan sopan santun.” Dari sisi psikologi, tindakan ini membentuk karakter anak unutk berempati dan membangun kesadaran relasional yang sehat. Yang muda belajar bahwa hubungan tidak selalu setara secara peran dan jabatan, tetapi tetap setara dalam nilai-nilai kemanusiaan secara wajar.
Silaturahmi yang Tak Selalu Berbalas: Antara Ikhlas dan Luka Batin
Namun, realitas tidak selalu ideal. Ada fenomena yang cukup sering terjadi: kunjungan yang tidak berbalas. Satu pihak rutin datang, sementara pihak lain tidak pernah mengunjungi balik. Dalam percakapan santai, hal ini kadang muncul, “Kita tiap tahun ke sana, tapi mereka nggak pernah ke sini ya…” “Iya… mungkin sibuk. Tapi ya, rasanya kok lama-lama capek juga, kita yang selalu mengunjungi, sementara si dia tak pernah sekalipun.” Di sinilah terjadi tarik-menarik antara nilai keikhlasan dan kebutuhan emosional akan timbal balik (reciprocity). Secara psikologis, manusia memiliki harapan untuk dihargai dan diingat. Ketika itu tidak terpenuhi, bisa muncul rasa lelah emosional, bahkan kekecewaan yang terpendam. Padahal, idealnya silaturahmi itu seperti “gayung bersambut” yaitu saling menyapa, saling mengunjungi, dan saling menghidupkan hubungan semua anggota keluarga dan generasi-generasi mudanya.
Fenomena “Kepaten Obor”: Ketika Silaturahmi Terputus Antar Generasi
Dalam istilah Jawa dikenal ungkapan “kepaten obor”, yaitu terputusnya silaturahmi hingga generasi cucu dan cicit berikutnya tidak lagi mengenal hubungan kekerabatan. Ironisnya, fenomena ini semakin sering terjadi. Anak-anak tidak diajarkan untuk melanjutkan hubungan yang telah dibangun oleh orang tua mereka. Akibatnya, satu generasi hilang, maka hilang pula jalinan silaturahmi itu. Bayangkan percakapan ini di masa depan seperti ungkapan“Kita sebenarnya masih saudara?”, “Katanya sih… dulu orang tua kita sering ketemu. Tapi sekarang sudah tidak tahu lagi gimana urutannya kok masih saudara.”. Ini bukan sekadar kehilangan relasi sosial, tetapi juga kehilangan identitas keluarga. Dalam perspektif psikologi sosial, hal ini bisa melemahkan rasa memiliki (sense of belonging) dan mempersempit jaringan dukungan emosional.
Peran Orang Tua dan Generasi Muda: Menjaga Nyala Obor Silaturahmi
Orang tua memiliki peran penting dalam “mewariskan relasi”. Anak-anak perlu dikenalkan, diajak, dan dibiasakan untuk berkunjung, mengenal saudara, guru, dan tokoh yang berjasa dalam kehidupan keluarga. Rasulullah ﷺ bersabda:“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.” (HR. Tirmidzi). Sementara itu, generasi muda juga perlu memahami bahwa silaturahmi bukan hanya tentang kewajiban sosial, tetapi investasi emosional jangka panjang. Dialog sederhana bisa menjadi awal perubahan. “Dek, nanti ikut ya ke rumah Pakde X.” “Memangnya kita masih saudara ya?”.
“ya, kalau kita sambungkan, nantinya pasti tidak tahu kalua masih saudara?”
Menjadikan Silaturahmi sebagai Ruang Penyembuhan
Lebaran seharusnya menjadi ruang rekonsiliasi yaitu ikhtiar antar keluarga untuk memperbaiki hubungan yang renggang, menyambung status hubungan keluarga yang nyaris terputus, dan mewariskan nilai-nilai kekerabatan dan karakteristik masing-masing keluarga dengan keunikan para pendahulu nenek moyang mereka. Silaturahmi antar keluarga dan antar teman serta kolega, bukan hanya sekadar tradisi, tetapi merupakan terapi jiwa. Ketika dilakukan dengan kesadaran, ia mampu menyembuhkan luka lama, mengurangi prasangka, dan menumbuhkan kembali rasa cinta dalam keluarga besar.
Penutup: Menjaga Agar Obor Tetap Menyala
Silaturahmi lintas generasi adalah jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ia bukan hanya tentang siapa yang datang lebih dulu, tetapi tentang siapa yang bersedia menjaga hubungan tetap hidup. Jangan sampai kita menjadi generasi yang memutus rantai itu. Jangan sampai anak-anak kita tumbuh tanpa mengenal akar keluarganya sendiri. Mari kita hidupkan kembali semangat “gayung bersambut” yaitu saling mengunjungi, saling mengingat, saling menguatkan. Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan hanya formalitas lebaran, tetapi kehangatan hati yang terus menyala, dari satu generasi ke generasi berikutnya.
اللَّهُمَّ احْفَظْ أُسْرَتَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَأَدِمْ بَيْنَنَا الْمَحَبَّةَ وَالرَّحْمَةَ وَصِلَةَ الرَّحِمِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتَزَاوَرُونَ وَيَتَوَاصَلُونَ وَيَتَرَاحَمُونَ، وَلَا تَجْعَلْ بَيْنَنَا قَطِيعَةً وَلَا خُصُومَةً.
وَاجْمَعْنَا دَائِمًا عَلَى الْخَيْرِ وَالْبِرِّ وَالتَّقْوَى. آمِين.
Ya Allah, jagalah keluarga dan keturunan kami, serta langgengkan di antara kami cinta, kasih sayang, dan hubungan kekerabatan.nYa Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang saling berkunjung, saling berkomunikasi, dan saling menyayangi, serta jangan Engkau biarkan ada perpecahan dan permusuhan di antara kami. Dan kumpulkanlah kami selalu dalam kebaikan, kebajikan, dan ketakwaan. Aamiin ya Allah ya mujibassailin.