(Sebuah Catatan Perjalanan di Makassar)
Oleh: Haris Setiaji
Perjalanan ke Makassar kali ini bukan hanya soal seminar, rapat, atau agenda pekerjaan. Ada satu hal yang justru tertinggal cukup lama di kepala saya: jajanan pasarnya.
Saat kunjungan ke Makassar kami dihidangkan banyak sekali makanan khas Makassar. Mejanya penuh warna. Ada barongko yang lembut dengan aroma pisang dan santan, ada es pisang ijo yang tampil mencolok dan segar, ada jalangkote yang bentuknya mirip pastel, dan ada songkolo, beras ketan putih yang disajikan dengan kelapa parut dan dicampur gula merah. Saya memperhatikan satu hal menarik.
Di meja itu, semua makanan sebenarnya sama-sama enak. Sama-sama punya sejarah. Sama-sama punya penggemar. Tapi ketika orang mulai memilih, ternyata pilihan tiap orang berbeda.
Saya sendiri justru paling banyak menghabiskan songkolo dan es pisang ijo. Sementara teman saya lebih menikmati barongko dan es pisang ijo. Ada juga yang hanya mencoba sedikit-sedikit lalu berhenti. Ada yang memilih berdasarkan rasa. Ada yang memilih karena tampilannya menarik. Ada juga yang memilih karena sudah pernah mendengar namanya sebelumnya.
Di situ saya sejenak menerawang jauh dipikiran, dunia pendidikan tinggi sebenarnya tidak jauh berbeda dengan meja jajanan pasar itu.
Hari ini kampus memiliki begitu banyak program studi, ada prodi keagamaan juga ada prodi umum. Semuanya punya nilai. Semuanya punya sejarah akademik. Semuanya penting. Tetapi ketika calon mahasiswa datang, mereka akan memilih berdasarkan persepsi yang paling kuat di kepala mereka.
Dan menariknya, sekarang banyak calon mahasiswa, baik yang berasal dari sekolah umum maupun sekolah berbasis agama, justru lebih banyak memilih prodi umum. Bukan berarti prodi keagamaan tidak baik. Sama sekali bukan itu persoalannya. Persoalannya sering kali ada pada positioning keilmuan.
Dalam dunia pendidikan, kualitas saja tidak cukup. Sebuah program studi juga harus mampu menjelaskan mengapa ia relevan untuk masa depan.
Saya jadi teringat songkolo tadi. Secara rasa, songkolo mungkin tidak se-“ramai” es pisang ijo. Tampilannya sederhana. Tidak terlalu fotogenik. Bahkan sebagian orang luar Makassar mungkin belum pernah mendengarnya. Tapi bagi orang yang paham, songkolo punya karakter kuat, mengenyangkan, punya filosofi budaya, punya identitas. Masalahnya, tidak semua orang tahu itu.
Begitu juga dengan banyak program studi keagamaan hari ini. Sering kali sebenarnya memiliki fondasi keilmuan yang dalam, nilai filosofis yang kuat, bahkan kontribusi sosial yang besar. Tetapi sayangnya, sebagian calon mahasiswa belum melihat hubungan langsung antara keilmuan tersebut dengan kebutuhan masa depan mereka. Sebaliknya, prodi umum sering tampil lebih jelas positioning-nya.
Ketika orang mendengar Sistem Informasi, Teknik Informatika, Bisnis Digital, atau Data Science, calon mahasiswa langsung membayangkan pekerjaan, industri, teknologi, dan masa depan ekonomi. Ada gambaran konkret di kepala mereka.
Sedangkan ketika mendengar beberapa prodi keagamaan, yang muncul kadang masih persepsi lama: menjadi guru, menjadi ustaz, atau pekerjaan yang dianggap terbatas. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Di sinilah pentingnya repositioning keilmuan. Bukan mengubah identitas keilmuan agama menjadi kehilangan ruhnya. Tetapi menjelaskan ulang relevansinya di era baru.
Misalnya, bagaimana studi Islam dapat beririsan dengan Artificial Intelligence dan etika teknologi, ekonomi digital syariah, kesehatan mental berbasis spiritual, komunikasi dakwah digital, halal industry, cyber ethics, moderasi beragama di era media sosial, hingga tata kelola masyarakat berbasis nilai. Karena sebenarnya dunia sedang bergerak ke arah multidisiplin.
Hari ini, tantangan manusia bukan lagi sekadar “siapa paling religius” atau “siapa paling teknologis”. Dunia membutuhkan orang yang mampu menghubungkan nilai, teknologi, kemanusiaan, dan peradaban sekaligus. Dan di situlah sebenarnya peluang besar prodi keagamaan berada.
Program studi tidak cukup hanya eksis. Ia harus mampu menjelaskan posisi dan kontribusinya di tengah perubahan zaman. Saya juga sadar, pilihan orang sering dipengaruhi oleh apa yang paling sering terlihat.
Es pisang ijo hampir selalu muncul di media sosial ketika orang membahas kuliner Makassar. Songkolo tidak sebanyak itu. Bukan karena songkolo kalah enak, tetapi karena eksposurnya berbeda.
Hal yang sama terjadi pada program studi. Ada prodi yang sangat aktif membangun narasi masa depan. Aktif menunjukkan karya mahasiswanya. Aktif menjelaskan prospek karier. Aktif hadir di ruang digital. Akhirnya mudah dikenali dan dipilih.
Sebaliknya, ada prodi yang sebenarnya bagus, tetapi terlalu diam. Ia berharap masyarakat memahami nilainya dengan sendirinya. Padahal di era digital hari ini, persepsi sering dibentuk lebih dulu sebelum kualitas sempat dibuktikan.
Karena itu, pertanyaan penting bagi perguruan tinggi hari ini bukan sekadar “Apakah prodi kita bagus?” tetapi, “Apakah masyarakat benar-benar memahami keunggulan dan relevansi prodi kita?”
Makassar mengajarkan saya satu hal sederhana: di meja yang penuh pilihan, orang tidak selalu memilih yang paling baik. Orang cenderung memilih yang paling mereka pahami, paling mereka kenal, dan paling jelas manfaatnya di kepala mereka.
Mungkin itulah tantangan terbesar pendidikan tinggi hari ini. Bukan hanya membangun keilmuan yang kuat, tetapi juga membangun makna dan positioning yang dapat dipahami oleh generasi masa depan.
Barangkali yang mulai ditinggalkan bukanlah rasa dari sebuah ilmu, melainkan cara menyajikannya kepada zaman. Seperti songkolo di sudut meja jajanan itu—tenang, sederhana, dan nyaris tak dipanggil namanya—padahal di dalamnya tersimpan kenyang yang lebih lama daripada sekadar manis yang cepat memikat lidah. Sebab masa depan tidak selalu memilih yang paling ramai diperbincangkan, tetapi sering kali memilih yang mampu memberi makna, arah, dan alasan untuk terus bertahan di tengah perubahan dunia. ( )
*Pranata Komputer pada UIN Jusila