Sopir dan Profesor

9. Sopir Profesor-Cover Artikel 2025 HUMAS_07052026

metrouniv.ac.id – 7/05/2026 – 20 Dzulqo’dah 1447 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan/ Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)

Improvisation is too good to leave to chance.
(Paul Simon)

Banyak alasan mengapa seseorang bisa melekat dalam ingatan. Salah satunya adalah cerita. Tentu saja, bukan cerita kosong yang hanya menghabiskan waktu, melainkan cerita yang memiliki pesan kuat, padat, dan bermanfaat. Seperti cerita dari seorang sahabat sekaligus guru dari Semarang berikut ini.

Dahulu, sebelum media sosial ramai seperti sekarang, hiduplah seorang profesor dengan jadwal “manggung” yang sangat padat. Ke mana pun ia diundang, sang profesor selalu diantar oleh sopirnya yang sederhana dan bersahaja.

Dalam setiap seminar, pelatihan, kuliah umum, dan workshop, sang profesor selalu meminta sopirnya ikut masuk ke majelis ilmu. Sopir itu pun sering duduk di belakang, mendengarkan sang profesor berbicara dari satu acara ke acara lainnya.

Suatu hari, sang profesor kembali diundang menjadi keynote speaker dalam sebuah seminar. Ketika sudah mendekati venue, sang profesor merasa sangat lelah. Ia merasa harus beristirahat sebentar untuk recovery. Sementara itu, rundown seminar sudah tidak mungkin diubah.

Profesor berkata, “Mas Sopir, tolong gantikan saya menjadi keynote speaker. Saya harus istirahat satu atau dua jam.”

Sopir menjawab, “Mohon maaf, Prof. Sepertinya itu tidak mungkin. Profesor tahu, saya hanya lulusan sekolah dasar.”

Profesor berkata lagi, “Ayolah. Engkau sudah sering melihat aku perform. Engkau hadir hampir di setiap seminar yang aku isi. Engkau pasti bisa menggantikan aku.”

Sopir tetap ragu. “Ampun, Prof. Saya sungguh-sungguh tidak bisa.”

Profesor lalu berkata, “Baiklah. Jika engkau tidak mau, saya mungkin terpaksa membatalkan seminar ini. Dampaknya, bisa saja tidak ada lagi orang yang mengundang saya. Jika begitu, mungkin saya juga tidak akan membutuhkan jasa seorang sopir lagi.”

Sesaat, ada jeda kosong tanpa kata. Hanya terdengar tarikan napas berat sang sopir. Tampaknya ia sedang berpikir keras.

Sopir berkata, “Kalau pun saya bisa, mereka pasti tahu bahwa saya bukan seorang profesor. Penampilan saya tidak meyakinkan.”

Profesor menjawab, “Tenang. Itu mudah. Kita akan bermain peran. Engkau pakai jas, dasi, kacamata, dan arlojiku. Nanti aku yang membawakan tas ke ruang seminar. Aku akan berjalan di belakangmu.”

Sopir berkata pelan, “Semoga saya bisa, ya, Prof.”

Profesor menjawab, “Absolutely! You just need to dress, think, and talk like a professor. Engkau hanya perlu berpakaian, berpikir, dan berbicara seperti seorang profesor sungguhan.”

Long story short, seminar berjalan lancar. Sang professor-pengganti berhasil membangun premis, mengembangkan narasi, dan menarik kesimpulan dengan baik. Penjelasannya mengalir dan solid. Para peserta seminar tampak kagum.

Lalu tibalah sesi question and answer. Ada tiga pertanyaan pada termin pertama. Ketiganya mirip dengan pertanyaan-pertanyaan dalam serial seminar sebelumnya. Karena itu, sang professor-pengganti dapat menjawabnya dengan baik.

Namun, kemudian terjadilah klimaks. Seorang peserta, yang juga seorang profesor, mengajukan pertanyaan yang sangat sulit.

Peserta itu berkata, “Saya punya pertanyaan yang sangat sukar. Pertanyaan ini sudah saya ajukan kepada beberapa pakar. Mereka hanya mampu memberi respons, tetapi belum pernah memberikan jawaban yang memuaskan. Baiklah, saya akan menanyakannya juga kepada Anda. Meskipun, saya yakin, Anda juga mungkin hanya mampu memberi respons, bukan jawaban.”

Lalu pertanyaan sulit itu pun disampaikan. Sungguh, itu pertanyaan yang amat berat. Sang professor-pengganti belum pernah mendengar pertanyaan semacam itu sebelumnya. Jelas, ia tidak sanggup menjawabnya.

Namun, ia tetap tenang.

Profesor-pengganti berkata, “Terima kasih atas pertanyaannya. Saya harus mengakui bahwa itu pertanyaan yang bagus. Tetapi, saya juga perlu menyampaikan bahwa itu bukan pertanyaan yang sukar. Sebaliknya, pertanyaan itu sangat mudah dijawab.”

Peserta seminar berkata, “Don’t tell me. Show me! Saya masih ragu Anda bisa menjawabnya.”

Profesor-pengganti menjawab, “Baik. Sekali lagi, itu pertanyaan yang sangat mudah. Bukan pertanyaan yang sulit. Untuk membuktikan betapa mudah dan sederhananya pertanyaan Saudara, saya akan mengundang ‘sopir’ saya untuk menjawabnya.”

Dan begitulah. Sejak saat itu, nama dan reputasi sang profesor dari Semarang itu semakin harum. Bagaimana tidak? Bahkan sopirnya pun dianggap sebagai orang yang sangat pintar dan berwawasan luas.

Syahdan, sang profesor dan sopirnya mengajarkan kepada kita peralihan dari ATM menuju ATI. Dalam belajar, manusia dapat berkembang melalui kegiatan Amati, Tiru, dan Modifikasi. Namun, sang sopir-profesor membuatnya menjadi lebih menarik: Amati, Tiru, dan Improvisasi.

Improvisasi, kata Paul Simon, tidak lahir dari kebetulan dan keberuntungan semata. Ia lahir dari persiapan dan latihan. Wallahu a’lam bish-shawab.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.