DARI REKAN SEJAWAT KE ROLE MODEL :

WhatsApp Image 2026-05-07 at 10.35.31

BELAJAR MENGAPRESIASI GURU BESAR

Oleh: Aguswan Khotibul Umam

Di ruang-ruang kampus, kabar tentang seorang dosen yang meraih jabatan guru besar sering kali disambut dengan ucapan selamat, karangan bunga, dan seremoni akademik. Namun, di balik itu semua, ada dinamika psikologis yang jarang dibicarakan secara terbuka. Tidak semua orang merespons dengan perasaan yang sama. Ada yang tulus bangga, ada yang terinspirasi, tetapi tidak sedikit pula yang masih gamang, apakah bisa mencapai jabatan guru besar tersebut. Respons seperti ini wajar. Dalam perspektif psikologi, manusia cenderung menilai dirinya melalui perbandingan sosial. Leon Festinger (1954) menjelaskan bahwa individu secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain untuk mengukur posisi dan capaian. Ketika rekan sejawat mencapai guru besar, terjadi apa yang disebut “upward comparison” perbandingan dengan mereka yang berada di atas.

Masalahnya bukan pada perbandingan itu sendiri, melainkan pada cara kita memaknainya. Perbandingan dapat menjadi sumber motivasi, tetapi juga bisa berubah menjadi beban psikologis. Di sinilah kedewasaan emosi dan cara pandang memainkan peran penting. Alih-alih terjebak dalam rasa gamang, kita bisa memilih untuk menjadikan keberhasilan tersebut sebagai inspirasi untuk meniru jejak mereka. Dalam kerangka growth mindset yang diperkenalkan Carol Dweck (2006), keberhasilan orang lain harus dipahami bahwa bukti capaian tersebut diraih melalui proses yang tepat dan perjuangan yang berat. Guru besar bukan sosok yang “berbeda jenis”, melainkan mereka yang lebih dahulu menempuh jalan panjang dengan konsistensi dengan ikhtiar nyatanya.

Lebih jauh lagi, Albert Bandura (1997) melalui konsep “self-efficacy” menekankan pentingnya keyakinan diri. Salah satu cara membangun keyakinan itu adalah melalui “vicarious experience”, yaitu melihat orang lain yang serupa dengan kita berhasil mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks ini, keberhasilan rekan sejawat justru dapat memperkuat keyakinan bahwa kita pun mampu, selama bersedia menjalani prosesnya dengan berbagai ritual ikhitiar dan tirakat mereka. Di sinilah perubahan sudut pandang menjadi krusial yaitu dari sekadar “rekan sejawat” menjadi “role model”. Guru besar tidak hanya layak diapresiasi, tetapi juga layak diteladani. Kita bisa belajar dari etos kerja mereka, disiplin dalam meneliti, ketekunan menulis, hingga kemampuan menjaga konsistensi ikhtiar dalam jangka panjang.

Namun, ada satu aspek yang sering luput dari perhatian yaitu dimensi spiritual. Banyak kisah di balik capaian guru besar tidak hanya berisi kerja keras, tetapi juga ketekunan dalam berdoa, kesungguhan (tirakat), dan bakti kepada orang tua. Ini mengingatkan kita bahwa kesuksesan akademik tidak semata-mata hasil kecerdasan intelektual, tetapi juga kekuatan batin. Dalam perspektif Islam, respons terhadap keberhasilan orang lain telah diatur dengan sangat elegan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak boleh iri kecuali pada dua hal: seseorang yang diberi ilmu lalu ia mengamalkannya…” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini bukan iri dalam arti negatif (hasad), melainkan “ghibthah” yaitu keinginan untuk memiliki kebaikan serupa tanpa menghilangkan nikmat orang lain. Al-Qur’an pun mendorong kompetisi yang sehat: “Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148). Ayat ini menegaskan bahwa keberhasilan orang lain bukan untuk sekedar dikagumi, tetapi untuk dijadikan pemicu diri kita untuk beikhtiar maksimal mencapainya.

Bagi dosen yang belum mencapai jabatang guru besar, mari kita renungkan lebih dalam, yaitu setiap guru besar menyimpan “peta jalan” yang bisa dipelajari. Bagaimana mereka mengelola waktu, menghadapi penolakan jurnal terindeks Scopus, pembiayaan besar menghasilkan artikel di jurnal terindeks Scopus, membangun jejaring akademik, hingga menjaga konsistensi dalam berkarya. Semua itu adalah pelajaran berharga yang tidak tertulis dalam buku panduan mana pun. Mengapresiasi, dengan demikian, bukan sekadar formalitas. Ia adalah sikap mental. Ia adalah kemampuan untuk melihat keberhasilan orang lain sebagai cermin. Dari sana lahir energi untuk berbenah dan siap melanjutkan ikhtiar nyata untuk mencapainya.

Pada akhirnya, perjalanan menuju guru besar bukanlah lomba lari cepat, melainkan maraton panjang. Setiap orang memiliki ritme, tantangan, dan waktunya masing-masing. Namun satu hal yang pasti, tidak ada keberhasilan yang datang tanpa proses. Maka, ketika hari ini kita menyaksikan rekan sejawat mencapai puncak akademik, barangkali itu bukan sekadar cerita tentang mereka. Itu adalah pengingat bagi kita bahwa jalan itu ada, pernah dilalui, dan tetap terbuka. Tinggal satu pertanyaan sederhana, yaitu apakah kita siap berikhtiar seperti yang mereka jalani?. Ada kalimat yang menghibur diri “Sesuatu akan indah pada waktunya, usaha tidak menghianati hasil”. Selamat dan sukses untuk para sahabat atas capaian gubesnya dan semoga kami bisa menyusul capaian gubes pada masa-masa mendatang. Amien ya Allah ya mujibassailin. ( )

*Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.