Tadris atau Pendidikan?

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 30/04/2026 – 13 Dzulqoddah 1447 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum.
(Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan/ Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)

Just my two cents. Any flaws and mistakes found herein are solely mine
(Refleksi)

Ia membaca tabel pada jurnal itu pelan-pelan: pendidikan Barat berpusat pada manusia (human-centered), sedangkan pendidikan Islam berorientasi pada Tuhan (God-centered) (Sahin, 2018). Ia berhenti sejenak. Bertanya pada diri: apakah pembagian itu tidak terlalu sederhana? Apakah dunia ini bisa dibelah antara Barat dan Islam? antara manusia dan Tuhan? Antara satu istilah teknis dengan istilah teknis lainnya?

Pertanyaannya itu tidak lahir dari penolakan. Melainkan dari kegelisahan kecil yang biasa muncul pada persona yang memiliki pembacaan terbatas, seperti dirinya. Baginya, pembagian yang terlalu sederhana bisa membuat orang lupa. Lupa pada lorong-lorong kecil di belakangnya. Lupa pada pengalaman-pengalaman yang sifatnya individual. Lupa pada hal-hal yang partikular.

Untuk itu, ia  menyusur lorong retensi miliknya. Tiba pada satu rak yang agak berdebu, ia temukan istilah yang pernah ramai dibincangkan, Islamization of knowledge (Al-Attas (1977); Al-Faruqi (1981). Ada masa di mana istilah ini terasa seperti panggilan besar untuk membaca ulang, membersihkan, dan mengarahkan ilmu modern yang lahir dari rahim Barat. Ilmu-ilmu itu perlu diselaraskan dengan prinsip dan nilai yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits. Istilah ini seperti menyulut semangat menjadi penafsir, alih-alih sekedar peminjam konsep; menjadi produsen dan bukannya sekedar konsumen pengetahuan;  dan menjadi subjek aktif yang terus mengembara mencari jawab: di mana posisi wahyu, hadits, tauhid, dan adab dalam bangunan ilmu-ilmu modern itu?

Bagi pengajar Muslim yang mengajar ilmu modern di institusi pendidikan Islam, Islamization of knowledge itu penting dan perlu. Sebab di sana, seorang pengajar tidak hanya penting mengajar (teaching), tetapi juga perlu berdakwah (preaching). Ia tidak hanya mengajar matematika, tetapi juga menanamkan kejujuran dalam menghitung. Ia tak berhenti pada mengajar biologi, namun juga menumbuhkan ketakjuban pada Pencipta kehidupan. Ia  mengajar bahasa Inggris, dan pada saat yang sama mewartakan etiket Islami (adab) dalam berkomunikasi.  Pada level pendidikan tinggi, semangat Islamisasi ilmu pengetahuan ini tampak, antara lain, dalam penggunaan istilah tadris. Baginya, istilah ini  menyiratkan penyelarasan ilmu modern dengan konfigurasi nilai ke-Islaman.

Pada jarum jam yang terus bergerak maju, ia melihat gagasan Islamization of knowledge bergulir dan diuji oleh kenyataan. Hingga pada satu detak, muncul pertanyaan-pertanyaan lain. Apakah semua ilmu harus diberi label Islam agar menjadi lebih bermakna? Apakah bahasa Inggris, misalnya, lebih mendekatkan pada Tuhan melalui  Islamic English? Jika Anda pengajar bahasa Inggris di sekolah umum yang heterogen, adakah pilihan selain Islamization of knowledge?

Syahdan, dari Indonesia muncul istilah Islamisasi niat (Islamization of intention) (Kuntowijoyo, 2006), sebuah istilah yang barangkali membuka tabir jawab atas ragam pertanyaan di atas. Istilah ini menegaskan bahwa ilmu-ilmu modern yang bersifat objektif, tidak selalu harus secara eksplisit dikaitkan dengan prinsip dan nilai Islam. Terhadap ilmu-ilmu seperti itu, yang lebih perlu ‘di-Islamisasi’ adalah niat pengajar dan pemelajarnya. Misalnya, mengajar atau belajar bahasa Inggris dengan niat me-nadabburi Q.S. [30]: 22, dan Q.S. [49]: 13, yakni membaca keragaman bahasa dan bangsa sebagai tanda kebesaran Tuhan. Dengan semangat Islamisasi niat, ilmu modern dan objektif akan tetap berada dalam  koridor God-centered, meskipun ia bernaung di bawah payung-istilah pendidikan secara umum, bukan secara langsung di bawah payung tadris.  

Baginya, Islamization of knowledge tentu tak sama dengan Islamization of intention. Sebagaimana Tadris Bahasa Inggris tidak sepenuhnya sama dengan Pendidikan Bahasa Inggris. Namun, perbedaan tidak selalu berarti pertentangan, seperti aliran sungai yang berangkat dari mata air yang berbeda, namun bergerak menuju muara yang sama. Demikian pula Islamization of knowledge dan Islamization of intention. Keduanya mungkin bertolak dari dermaga yang berbeda, tetapi bukan mustahil berlayar menuju pelabuhan yang sama. Pelabuhan itu, dalam imaji keimanan, bernama lillahi atau God-centered. Sedang di atas pemarkahnya terukir firman Tuhan: Qul inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin. Katakanlah: sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Ia belum sampai di ujung lorong retensi. Dalam benaknya, garis batas antara tadris dan pendidikan belum sepenuhnya benderang. Maka, di dinding logorn itu, ia guratkan sebuah catatan kecil: ini sekedar pendapat, segala kekurangan dan kekeliruan sepenuhnya berasal dariku. Wallahu a’lam bis-sawab.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.