: Kritik Psikologis terhadap Fenomena Takziah Selektif
Oleh: Aguswan Khotibul Umam
Takziah dalam tradisi Islam bukan sekadar kehadiran fisik di rumah duka, melainkan ekspresi empati, solidaritas, dan penguatan ukhuwah. Namun, realitas sosial menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan: munculnya “takziah selektif”, yaitu kecenderungan hadir hanya pada kematian orang-orang yang memiliki status sosial tinggi, atasan, tokoh, atau orang berpengaruh, sementara kematian tetangga biasa atau masyarakat kecil sering diabaikan. Fenomena ini bukan sekadar masalah sosial, tetapi juga masalah psikologis dan spiritual, karena menyangkut motif, empati, dan keikhlasan dalam beramal.
Takziah sebagai Manifestasi Ukhuwah Islamiyah
Dalam Islam, takziah merupakan bagian dari hak sesama Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda: “Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam… jika ia meninggal, maka iringilah (jenazahnya).” (HR. Muslim). Takziah juga menjadi sarana memperkuat ukhuwah, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (QS. Al-Hujurat: 10). Ayat ini menegaskan bahwa relasi antar-Muslim tidak dibangun atas dasar status sosial, melainkan atas dasar iman. Artinya, duka seorang muslim adalah duka bersama, tanpa diskriminasi.
Perspektif Psikologis: Mengapa Takziah Menjadi Selektif?
Fenomena takziah selektif dapat dijelaskan melalui beberapa pendekatan psikologi, pertama, Bias Status Sosial (Social Status Bias) yaitu manusia cenderung memberikan perhatian lebih kepada individu yang memiliki kekuasaan atau kedudukan tinggi. Dalam konteks takziah, kehadiran sering kali didorong oleh keinginan menjaga relasi dengan atasan, harapan mendapatkan keuntungan sosial. Akibatnya, empati menjadi tidak murni, melainkan bersyarat.
Motivasi Ekstrinsik vs. Intrinsik
Dalam psikologi motivasi, perilaku manusia bisa didorong oleh motivasi intrinsik, yaitu bertakziah karena nilai, iman, dan keikhlasan. Motivasi ekstrinsik bertakziah karena pencitraan, tekanan sosial, atau kepentingan . Takziah selektif menunjukkan dominasi motivasi ekstrinsik, yang secara perlahan mengikis keikhlasan spiritual.
Efek Timbal Balik Sosial (Reciprocity Effect)
Ada realitas yang sering terjadi Dimana seseorang yang semasa hidupnya jarang melayat, ketika wafat maka juga terjadi sepi pelayat. Ini selaras dengan prinsip psikologi sosial yaitu “Perilaku sosial cenderung dibalas dengan perilaku yang setara.” Dalam bahasa sederhana yaitu yang sering hadir maka akan dihadiri, yang abai maka cenderung diabaikan, yang biasa tidak melayat maka akan sepi pelayat atas dirinya. Fenomena ini bukan semata “balas dendam sosial”, tetapi bentuk refleksi hubungan sosial yang tidak terbangun.
Dampak Psikologis dan Spiritual Takziah Selektif
Terdampak dari takziah selektif, pertama: erosi empati, yaitu ketika empati hanya diberikan kepada pihak tertentu, maka empati itu sendiri kehilangan makna universalnya, kedua: menurunnya keikhlasan. Amal yang seharusnya bernilai ibadah berubah menjadi ajang pencitraan, simbol relasi sosial . Padahal Allah mengingatkan: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas…”. (QS. Al-Bayyinah: 5). Muncul pulanya fenomena retaknya kohesi sosial. Jika masyarakat terbiasa selektif maka akan terjadi hubungan bertetangga menjadi renggang, rasa saling memiliki melemah dan ukhuwah berubah menjadi formalitas.
Takziah sebagai Cermin Diri: Harapan Seorang Mukmin
Seorang mukmin idealnya tidak hanya berpikir: “Siapa yang pantas saya layati?”. tetapi juga: “Apakah saya ingin dilayat ketika saya wafat?”. Ada harapan batin yang sederhana namun dalam yaitu ketika kita wafat, orang datang dengan tulus dan bukan karena jabatan, tetapi karena kedekatan hati . Rasulullah ﷺ bersabda:“Barangsiapa meringankan kesulitan seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesulitannya di akhirat.”(HR. Muslim). Takziah adalah salah satu bentuk “meringankan beban” itu.
Membangun Budaya Takziah yang Ikhlas dan Inklusif
Pertama, menanamkan empati universal. Takziah bukan tentang “siapa dia”, tetapi tentang “apa yang ia alami”; kedua, Menghidupkan Kesadaran Kematian yaitu Kesadaran bahwa setiap orang akan mati dan setiap keluarga akan merasakan kehilangan serta akan melahirkan empati yang lebih tulus. Kedua, membiasakan diri tanpa pilih-pilih. Mulai dari lingkup terdekat yaitu keluarga. Tetangga, rekan kerja bahkan orang yang tidak terlalu dekat ; Ketiga, Meluruskan Niat. Takziah harus dikembalikan sebagai ibadah bentuk kasih sayang dan investasi akhirat .
Penutup:
Fenomena takziah selektif adalah cermin dari pergeseran nilai yaitu dari ukhuwah menuju kepentingan, dari keikhlasan menuju pencitraan. Jika dibiarkan, ia tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga menggerus kualitas iman. Sudah saatnya takziah dikembalikan pada hakikatnya yaitu sebagai perjumpaan empati yang tulus, tanpa memandang status, jabatan, atau kepentingan. Karena pada akhirnya, setiap kita akan sampai pada satu titik yang sama: menjadi jenazah yang berharap didoakan, dan dikenang bukan karena kedudukan, tetapi karena ketulusan hubungan yang pernah dibangun semasa hidup. Setiap diri tidak tahu dengan kondisi di akhir hayatnya maka mari terus berikhtiar menjadi manusia yang sholeh sholehah dan mendapat Ridha Allah Swt. Amien ya Rabbal Alamien. ( )
*Dosen pada UIN Jurai SIWO Lampung