PERJALANAN MENUJU BAITULLAH

bg dashboard HD

(KAJIAN FILOSOFIS MUSLIM DALAM BETRBAGAI FASE PANGGILAN HAJI)

Oleh:  Aguswan Khotibul Umam*

Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan batin menuju kedewasaan spiritual. Setiap muslim berada dalam fase yang berbeda dalam merespons panggilan haji yaitu ada yang sudah berhaji, sedang bersiap, menunggu giliran, mengumpulkan dana dan punya target mendaftar, hingga yang belum da bayangan untuk mendaftar porsi haji. Dalam perspektif psikologi, perjalanan ini mencerminkan dinamika motivasi, harapan, kecemasan, hingga transformasi diri. Abraham Maslow (1943) menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan bertingkat, dan spiritualitas (self-actualization bahkan transcendence) menjadi puncak pengalaman manusia. Haji, dalam hal ini, dapat dipahami sebagai bentuk aktualisasi dan transendensi spiritual seorang muslim. Allah SWT berfirman: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, datang dari segenap penjuru yang jauh.”(QS. Al-Hajj: 27). Ayat ini menegaskan bahwa haji adalah panggilan ilahi yang direspons manusia dengan kondisi dan kesiapan yang berbeda-beda.

Fase Belum Terencana: Prokrastinasi Spiritual dan Kesadaran Diri

Sebagian muslim secara finansial telah memiliki biaya untuk berhaji, namun belum memiliki dorongan kuat untuk mendaftar. Dalam psikologi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui konsep “prokrastinasi haji”, yaitu kecenderungan menunda mendaftar haji dan lebih fokus pada aspek lain. Piers Steel (2007) menyebutkan bahwa penundaan sering dipengaruhi oleh perasaan belum urgen untuk berhaji, dengan alasan bervariasi yang terkadang menjadi ranah privasi. Dalam konteks spiritual, jika tidak segera mendaftar akan bisa menjadi “kelalaian eksistensial dalam beragama”. Allah mengingatkan: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1). Namun demikian, hidayah bisa datang kapan saja. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Kesadaran kuat untuk berhaji sering kali dimulai dari sentuhan batin yang mendalam yaitu sebuah titik balik psikologis yang dialami seseorang ketika bertemu teman haji, mendengarkan ceramah agama, atau hal lainnya. Perlu dipertimbangkan pula dengan antrean daftar tunggu serta jika terjadi hal yang tidak diinginkan seperti musibah sakit, kecelakaan dan lainnya sehingga terkendala unutk berhaji.

Fase Mengumpulkan Dana: Motivasi, Harapan, dan Ketahanan Mental

Muslim yang mulai menabung untuk haji menunjukkan adanya motivasi intrinsik yang kuat. Dalam teori Self-Determination, Edward Deci & Richard Ryan (1985) menekankan bahwa motivasi yang berasal dari dalam diri (intrinsik) lebih tahan lama dan bermakna. Setiap rupiah yang dikumpulkan bukan sekadar tabungan, tetapi simbol harapan spiritual. Allah berfirman: “Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

(QS. At-Talaq: 2–3). Secara psikologis, fase ini juga melatih grit (ketangguhan) dalam menunaikan kewajiban beragama. Konsep Angela Duckworth (2016) ini, pada konteks haji, yakni kemampuan muslim untuk bertahan dan berupaya maksimal dalam tujuan untuk bisa segera mendaftarkan diri berhaji bersama pasangan dan keluarganya.

Fase Mendaftar dan Menunggu: Psikologi Harapan dan Kesabaran

Bagi mereka yang telah mendapatkan porsi haji, tantangan berikutnya adalah menunggu. Di Indonesia, masa tunggu bisa sangat panjang, bahkan puluhan tahun. Charles Snyder (1991) dalam Hope Theory menjelaskan bahwa harapan terdiri dari dua komponen yaitu agency (niat/keinginan) dan pathways (jalan menuju tujuan). Jamaah haji dalam masa tunggu hidup dalam harapan bahwa suatu hari panggilan itu benar-benar tiba. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). Menunggu menjadi ibadah tersendiri, yang mengasah kesabaran dan keteguhan iman. Trend saat ini, yaitu melaksanakan umrah terlebih dahulu, terutama bagi lansia karena khawatir usianya tidak sampai ketika datang waktu panggilan berhajinya.

Fase Persiapan Keberangkatan: Antara Kecemasan dan Tawakal

Menjelang keberangkatan, muncul dinamika psikologis berupa kecemasan, terutama bagi jamaah lansia yaitu kekhawatiran tentang kesehatan, kekuatan fisik, bahkan isu keamanan global, seperti saat ini adanya perang Iran dengan Amerika Serikat serta Israil. Menurut Richard Lazarus & Susan Folkman (1984), stres muncul dari penilaian individu terhadap situasi yang dianggap mengancam dan kemampuan dirinya dalam menghadapinya.Dalam Islam, kecemasan ini diimbangi dengan tawakal. Allah berfirman: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”. (QS. Ali Imran: 159). Rasulullah SAW bersabda: “Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi). Artinya, persiapan fisik dan mental harus berjalan beriringan dengan penyerahan diri secara ikhlas kepada Allah Swt.

Fase Pasca-Haji: Menjaga Kemabruran dan Transformasi Diri

Haji mabrur bukan sekadar gelar sosial, tetapi perubahan perilaku yang berkelanjutan. Tantangan terbesar justru dimulai setelah kembali ke tanah air. Dalam teori Behavior Change, B. J. Fogg (2009) menyebutkan bahwa perubahan perilaku membutuhkan tiga unsur: motivasi, kemampuan, dan pemicu (trigger). Rasulullah SAW bersabda: “Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kemabruran tercermin dari peningkatan akhlak, kepedulian sosial, dan konsistensi ibadah. Tanpa itu, pengalaman spiritual haji berpotensi memudar. Menjaga kemabruran haji dirasa sulit karena tantangan keistiqamahan yang tinggi pasca berhaji. Faktor penyebabnya terkait pergeseran motivasi, pengaruh lingkungan sosial, dan kelemahan dalam mempertahankan kuantitas dan kualitas ibadah sehari-hari.

Paradoks Harta dan Panggilan Haji: Refleksi Psikologis Singkat

Dalam realitas umat, ada muslim yang secara ekonomi sederhana namun nekat mendaftar haji. Di sisi lain, ada yang hartanya cukup, tetapi belum juga tergerak hatinya. Fenomena ini menunjukkan bahwa haji tidak semata soal kemampuan finansial, tetapi kesiapan hati dan skala prioritas berhaji. Daniel Kahneman (2011) menjelaskan bahwa keputusan manusia sangat dipengaruhi oleh nilai yang dianggap paling bermakna. Bagi yang mendahulukan akhirat, pengorbanan materi menjadi ringan. Keterikatan pada harta dapat menunda langkah spiritual. Tim Kasser (2002) menyebut orientasi harta berlebih dapat menggeser nilai batin. “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1). Intinya, haji bukan hanya tentang siapa yang mampu, tetapi siapa yang tergerak dan mendapat hidayah Allah Swt.

Penutup

Perjalanan berhaji ke Baitullah adalah perjalanan jiwa yang melewati berbagai fase psikologis yaitu dari ketidaksadaran, harapan, penantian, kecemasan, hingga transformasi diri. Setiap fase memiliki tantangan dan peluang spiritual masing-masing. Haji bukan hanya tentang siapa yang sudah sampai di Ka’bah, tetapi siapa yang terus bergerak menuju Allah Swt.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجَّنَا حَجًّا مَبْرُورًا، وَسَعْيَنَا سَعْيًا مَشْكُورًا، وَذَنْبَنَا ذَنْبًا مَغْفُورًا، وَعَمَلَنَا عَمَلًا صَالِحًا مَقْبُولًا.

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُسْتَقِيمِينَ بَعْدَ الْحَجِّ، وَلَا تَجْعَلْنَا نَعُودُ إِلَى الذُّنُوبِ بَعْدَ أَنْ طَهَّرْتَنَا.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَاجْعَلْ حَجَّنَا بَابًا لِلتَّغْيِيرِ نَحْوَ الْأَفْضَلِ فِي دِينِنَا وَدُنْيَانَا.

Ya Allah, jadikanlah haji kami haji yang mabrur, sa’i kami sa’i yang Engkau terima, dosa kami dosa yang Engkau ampuni, dan amal kami amal saleh yang diterima. Ya Allah, tetapkanlah hati kami dalam ketaatan kepada-Mu, jadikan kami istiqamah setelah haji, dan jangan Engkau kembalikan kami pada dosa setelah Engkau sucikan kami. Ya Allah, karuniakan kami keikhlasan dalam ucapan dan perbuatan, dan jadikan haji kami sebagai pintu perubahan menuju kebaikan dalam agama dan kehidupan kami. Amien ya Allah ya mujibassailin.

*Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.