Alam perlahan direduksi menjadi angka-angka dalam laporan investasi. Pohon dihitung sebagai carbon credit. Sungai dinilai berdasarkan potensi bisnisnya. Gunung dipandang sebagai cadangan material yang menunggu untuk ditambang. Kita berbicara tentang pertumbuhan, tetapi sering lupa bertanya: pertumbuhan untuk siapa, dan dengan biaya ekologis sebesar apa?
metrouniv.ac.id – 3/06/2026 – 16 Dzulhijah 1447 H
Suhendi, M.Pd. (Kepala Unit Pengembangan Karir UIN Jurai Siwo Lampung)
Selasa, 2 Juni 2026, perkuliahan Pendidikan Kearifan Lokal dan Etika Lingkungan memasuki pekan-pekan terakhir. Tinggal satu pertemuan lagi sebelum semester berakhir. Di kelas, hari itu kami membicarakan tema yang menarik: Krisis iklim, etika dan analisis berbagai persoalan ekologis kontemporer.
Diskusi mengalir dari satu isu, ke isu lain. Almas salah satu mahasiswa di kelas berbicara dengan gegap gempita. Mengulas Isu-isu besar mulai dari perubahan iklim, keadilan ekologis, pencemaran, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga bencana yang datang semakin sering dan semakin sulit diprediksi.
Namun di tengah percakapan itu, dari ujung barisan belakang muncul sebuah pertanyaan sederhana, tapi mengganggu: “Mengapa embah eyang kita yang hidup dalam masyarakat dengan teknologi terbatas justru tampak hidup lebih harmonis dan mampu menjaga hubungan dengan alam dibandingkan kita yang hidup di zaman serba modern?”
Pertanyaan itu perlahan membawa diskusi kami pada konsep yang sering disebut sebagai “kearifan lokal”.
Di banyak komunitas adat, hutan tidak semata-mata dipandang sebagai kayu yang bisa ditebang. Sungai bukan sekadar saluran air yang dapat dieksploitasi. Tanah bukan hanya aset ekonomi yang bisa diperjualbelikan. Alam adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Karena itu ia dihormati, dijaga, dan diwariskan.
Masyarakat adat mengenal kawasan yang tidak boleh ditebang, mata air yang harus dilindungi, serta aturan pemanfaatan sumber daya yang mempertimbangkan keseimbangan alam. Mereka mungkin tidak mengenal istilah sustainability, tetapi mereka mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah pengetahuan yang lahir bukan dari ruang seminar atau laporan penelitian, melainkan dari pengalaman panjang hidup bersama alam.
Ironisnya, ketika teknologi berkembang semakin maju, hubungan manusia dengan alam justru semakin renggang.
Kita hidup di zaman ketika bumi dipetakan dengan satelit, hutan dipantau dengan kecerdasan buatan, dan emisi karbon dihitung dengan presisi. Tetapi pada saat yang sama, hutan terus menyusut, sungai tercemar, udara memburuk, dan suhu bumi terus meningkat. Pengetahuan bertambah, tetapi kebijaksanaan sering kali tertinggal.
Alam perlahan direduksi menjadi angka-angka dalam laporan investasi. Pohon dihitung sebagai carbon credit. Sungai dinilai berdasarkan potensi bisnisnya. Gunung dipandang sebagai cadangan material yang menunggu untuk ditambang. Kita berbicara tentang pertumbuhan, tetapi sering lupa bertanya: pertumbuhan untuk siapa, dan dengan biaya ekologis sebesar apa?
Di tengah diskusi itu, entah kenapa pikiran saya tiba-tiba melayang, dan teringat kata “tiwul” yang sempat disinggung oleh Prof Ida saat upacara Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni 2026 yang lalu.
Barangkali terdengar sepele.
Namun sering kali kita memang mendapatkan pelajaran paling penting justru dari hal-hal yang dianggap biasa dan remeh temeh.
Setiap pekan, sivitas akademika gotong royong membersihkan lingkungan kampus. Pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa berbaur merawat halaman, menanam pohon, dan membersihkan ruang-ruang publik. Tidak ada yang spektakuler dalam kegiatan itu. Juga tidak ada jargon besar tentang penyelamatan bumi.
Tapi di tengah budaya yang semakin individualistis, kegiatan sederhana itu mengingatkan kita bahwa lingkungan tidak akan terjaga hanya oleh kebijakan atau petugas kebersihan. Ia membutuhkan keterlibatan, kepedulian, dan rasa memiliki dari kita semua.
Nah tentang tiwul tadi, ini yang menarik. Ternyata kalau meminjam istilah research yang biasa kita dengar, ada hubungan yang “signifikan” antara tradisi makan tiwul, green campus dan sustainabilty. Salah satu IKU yang penting bagi sebuah perguruan tinggi.
Mari kita bahas hubungan itu. “Hehehe…ini terasa seperti bercanda, tapi asli ini serius!”
Setelah bersih-bersih dan tanam-tanam selesai, semua berkumpul dan menikmati hidangan sederhana, salah satunya tiwul hangat, campur mangut, tambah sambal terasi, lauknya tempe goreng, dan lalapannya daun singkong.
Di hamparan makanan itu, di dalam tiwul itu saya menemukan sebuah kritik yang “sunyi” terhadap cara hidup kita di dunia yang serba modern ini.
Kita hidup dalam dunia yang memuja kecepatan. Makanan harus instan. Pola konsumsi semakin bergantung pada produk yang diproduksi massal dan didatangkan dari pabrikan. Kita terbiasa mengonsumsi produk yang menempuh ribuan kilometer sebelum tiba di meja makan kita semua. Kita jarang bertanya berapa energi yang digunakan, berapa emisi karbon yang dihasilkan, atau berapa banyak sumber daya yang dikorbankan.
Dan dari tiwul yang kita santap ini, ada cerita berbeda yang dihadirkan.
Dibuat dari singkong, tanaman yang selama ini sering dipandang sebelah mata. Padahal singkong memiliki daya tahan yang tinggi terhadap kekeringan, dapat tumbuh di berbagai kondisi lahan, dan membutuhkan input budidaya yang relatif rendah. Dalam konteks perubahan iklim, karakteristik ini menjadikannya salah satu sumber pangan yang penting di masa depan.
Tetapi persoalannya bukan hanya soal singkongnya.
Tiwul mengingatkan kita pada sesuatu yang lebih mendasar: kedekatan antara manusia dan sumber pangannya.
Bahan-bahan yang tersaji berasal dari lingkungan yang tidak jauh. Rantai distribusinya pendek. Proses produksinya sederhana. Jejak ekologisnya relatif kecil. Dalam dunia yang semakin terhubung sekaligus semakin rapuh, pilihan terhadap pangan lokal sesungguhnya bukan sekadar nostalgia budaya. Ia adalah tindakan dan pilihan ekologis.
Di tempat makan yang sederhana itu, teori tentang keberlanjutan terasa lebih nyata daripada banyak presentasi akademik.
Orang-orang duduk bersama tanpa sekat yang kaku. Percakapan mengalir. Ide-ide muncul. Keluhan disampaikan. Solusi dicari. Tidak ada podium. Tidak ada formalitas yang berlebihan. Yang ada hanyalah kebersamaan.
Barangkali di situlah makna lain dari tiwul.
Ia bukan sekadar makanan tradisional.
Ia menjadi medium yang mempertemukan orang-orang dalam ruang yang egaliter. Ia menghubungkan semua warga kampus dalam hubungan yang setara, dosen dengan mahasiswa, menghubungkan gagasan dengan praktik. Dalam kesederhanaannya, ia menghadirkan sesuatu yang sering hilang dalam institusi modern: kedekatan manusiawi.
Karena itu, ketika berbicara tentang green campus, saya merasa kita sering terjebak pada pengertian yang terlalu teknokratis.
Kita berbicara tentang gedung hemat energi, panel surya, pengelolaan sampah, penghijauan, atau berbagai indikator keberlanjutan lainnya. Ya, semua itu penting. Tetapi keberlanjutan tidak hanya dibangun oleh infrastruktur.
Ia juga dibangun oleh budaya.
Oleh cara kita memperlakukan lingkungan.
Oleh cara kita mengonsumsi pangan.
Oleh cara kita membangun relasi dengan sesama.
Oleh kemampuan kita menghargai pengetahuan lokal yang selama ini dianggap kuno.
Sebab krisis ekologis yang kita hadapi hari ini pada dasarnya bukan semata-mata krisis teknologi. Ia adalah krisis cara pandang. Kita terlalu lama memosisikan diri sebagai penguasa alam, bukan bagian darinya.
Mungkin karena itulah semangkuk tiwul terasa lebih bermakna daripada yang tampak di permukaan.
Di dalamnya ada cerita tentang kesederhanaan melawan budaya konsumsi berlebihan. Ada penghormatan terhadap pangan lokal di tengah homogenisasi selera global. Ada kebersamaan yang melawan individualisme. Ada pelajaran tentang keberlanjutan yang hadir tanpa perlu banyak slogan.
Menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia, saya teringat kembali pada pertanyaan yang muncul di kelas saya beberapa hari lalu: mengapa masyarakat masa lalu tampak lebih mampu hidup berdampingan dengan alam?
Mungkin jawabannya bukan karena mereka memiliki pengetahuan yang lebih banyak.
Tapi karena mereka memiliki “batas” dan mengerti arti kata “cukup”.
Mereka tahu kapan harus mengambil dan kapan harus berhenti. Mereka memahami bahwa alam bukan benda mati yang bisa dieksploitasi tanpa akhir. Mereka sadar bahwa kehidupan manusia bergantung pada keseimbangan yang rapuh.
Hari ini kita mengetahui lebih banyak hal tentang bumi dibandingkan generasi mana pun sebelumnya. Tetapi pengetahuan itu tidak selalu membuat kita lebih bijaksana.
Karena itu tantangan terbesar kita bukanlah menemukan konsep baru tentang keberlanjutan. Tantangan terbesar kita adalah menghidupkan kembali kebijaksanaan yang telah lama kita abaikan.
Kearifan itu mungkin tidak selalu hadir dalam buku-buku tebal atau konferensi internasional. Tapi sering kali hadir dalam gotong royong kecil membersihkan kampus. Kadang ia hadir dalam percakapan sederhana di bawah pohon. Kadang ia hadir dalam sepiring tiwul yang disantap bersama.
Dan mungkin, justru dari hal-hal kecil itulah perubahan besar selalu bermula.
Selamat memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2026
Semoga kita tidak hanya menjadi generasi yang pandai berbicara tentang keberlanjutan, tetapi juga generasi yang mampu mempraktikkannya. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukanlah seberapa banyak yang berhasil kita ambil dari bumi, melainkan seberapa baik kita menjaganya agar tetap layak dihuni oleh mereka yang akan datang setelah kita. (Hdy: 03/06/2026)