Tanggal 10 Dzulhijjah merupakan moment penting bagi umat Islam di seluruh dunia, yakni sebuah perayaan akbar Hari Raya Idul Adha yang juga dikenal dengan Hari Raya Kurban atau Hari Raya Haji. (Kanwil Kementerian Agama ProvinsiKalteng, 2017 : 2). Momen ini bukanlah sekedar rutinitas ibadah belaka, namun menjadi momen penting sebagai perwujudan puncak ketaatan dan pengorbanan seorang hamba di hadapan Allah SWT, Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih.
metrouniv.ac.id – 28/05/2026 – 11 Dzulhijah 1447 H
Prof. Dr. Siti Nurjanah, M.Ag. (Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)
Idul Adha berakar dari kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS sebagai kisah yang menjadi standar kesempurnaan iman, yakni dengan meletakkan kehendak Allah di atas segala cinta dan kepentingan sendiri. Melalui perayaan ini, Allah mengajarkan kepada hamba-Nya bahwa pengorbanan tulus adalah jalan mendekat kepada-Nya, dan kasih sayang-Nya senantiasa meliputi ketaatan yang mereka lakukan di hadapan Allah SWT.
Idul Adha juga menjadi bukti perjalanan spiritual kepatuhan seorang hamba kepada Allah dengan sesungguh hati, tanpa peduli dengan kepentingannya sendiri. Artinya, jika Allah sudah menghendakinya, maka jangan sekali-kali seorang hamba mengingkarinya. Pengorbanan Nabi Ibrahim AS sungguh sangat pahit jika dipandang kasat mata, karena harus menyembelih putranya satu-satunya yang sudah dinantikan begitu lama, hanya karena mendapat perintah melalui mimpi. Juga Nabi Ismail AS telah melakukan pengorbanan yang sama dengan mempercayai mimpi ayahnya dan menerima pesan mimpi dengan ikhlas dan berharap termasuk menjadi golongan orang-orang yang sabar.
Dekat Melalui Pengorbanan Dalam Makna Dasar yang Kuat
Menilik kata Adha adalah bahasa Arab yang berarti penyembelihan, dan Qurban bermakna mendekatkan diri. Secara bahasa dan syariat, Idul Adha adalah hari yang diperingati umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah shalat dan penyembelihan hewan ternak yang telah dituntunkan. Sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur’an Surat As-Shaffat ayat 102-107, yang menceritakan ujian terberat bagi Nabi Ibrahim AS Diperintahkan menyembelih putra kesayangan semata wayangnya, Ismail AS, sebagai bukti kepatuhan mutlak. Ketika Nabi Ibrahim AS menyampaikan maksudnya kepada Ismail AS putranya yang telah dinanti kehadirannya dalam waktu yang sangat lama. Namun melalui mimpi yang dialami Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putranya Ismail AS harus dilakukan dan harus disampaikan dengan tegar dan kuat kepada putra satu-satunya Ismail AS. Reaksi Ismail AS kecil sungguh luar biasa, ia tidak gentar dan tidak ragu setelah mendengarkan penjelasan ayahnya dan bahkan berkata kepada ayahnya untuk melaksanakannya sesuai perintah Allah dalam mimpi tersebut seraya berdoa semoga kita termasuk golongan orang-orang yang sabar.
Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan baik Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS kecil berserah diri di hadapan Allah SWT, dan Nabi Ibrahim AS telah meletakkan wajah Nabi Ismail AS ke tanah untuk disembelih, Allah berfirman :
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ …
Artinya : “Hai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu”. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan (Kementerian Agama RI, 2019: 753). Kemudian Allah menebusnya dengan sembelihan yang besar, yakni seekor domba dari surga.
Menurut Al-Qurthubi dalam tafsirnya dijelaskan, bahwa yang diterima Allah SWT bukanlah daging atau darah hewan kurban, melainkan ketaqwaan dan keikhlasan hati yang melaksanakannya, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 37 :
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ
Artinya : “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (Kementerian Agama RI, 2019 : 834)
Ayat tersebut di atas menjadi landasan utama bahwa berkurban adalah simbol penyerahan diri, melepaskan apa yang kita cintai demi kecintaan kita dan ketaatan kita kepada Allah Sang Maha Pencipta yang Maha Memberi dan Maha Mengganti dengan yang jauh lebih baik. Aktualisasi dalam kehidupan kita di dunia adalah jangan memberikan yang tidak baik atau tidak berguna kepada sesama, namun berikanlah yang terbaik menurutmu dan disenangi sesama sebagai pemberian yang sebaik-baiknya.
Pengorbanan: Esensi Iman dan Kasih Sayang Allah SWT.
Pengorbanan dalam momen Idul Adha memiliki makna yang berlapis yang penting untuk diketahui dan diresapi serta dilaksanakan oleh umat Islam. Pertama, pengorbanan kepentingan dan keinginan diri. Nabi Ibrahim AS mengorbankan rasa sayang orang tua, harapan masa depan, dan kasih sayang kepada anak yang sangat dicintainya demi satu tujuan yaitu Ridha Allah semata. Selanjutnya, Nabi Ismail AS juga berkorban sepenuh hati dengan segenap jiwa raga dan keikhlasan serta kerelaan hati seraya berkata sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat As-Shaffat ayat 102 yang berbunyi :
قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ … الصّٰبِرِيْنَ
Artinya : “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Kementerian Agama RI, 2019: 753).
Sikap tersebut menunjukkan bahwa posisi hamba adalah menerima segala ketentuan Allah dengan ikhlas, karena Dialah Yang maha Mengetahui, Maha Mengasihi, dan Maha Pemurah. Maha Mengetahui, Maha Pengasih, dan Maha Pemurah Allah SWT tiada yang dapat menandinginya meski dibayar dengan segunung uang yang dimiliki seorang hamba.
Kedua, pengorbanan harta demi berbagi dan peduli. Ibadah kurban mensyariatkan pembagian daging: sepertiga untuk keluarga, sepertiga untuk kerabat, dan sepertiga untuk fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. (Al-Qurthubi, 1996:124). Pemahaman yang dapat kita ambil adalah bahwa sifat Allah Yang maha Pemurah tercermin dengan jelas, bahwa apa yang kita berikan, Allah akan kembalikan dalam bentuk keberkahan, persaudaraan, dan kesejahteraan sosial. Pengorbanan harta mengikis sifat kikir, egois, dan melatih jiwa menjadi dermawan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya pemberian tidaklah mengurangi harta”. (HR. Muslim, no. 2558, Shahih Muslim, 1991: 1978)
Ketiga, pengorbanan hawa nafsu dan kemaksiatan. Menurut Imam Al-Ghazali, bahwa makna hakiki kurban adalah menyembelih keinginan buruk dan kesombongan diri di hadapan Allah. (Al-Ghazali, 1982: 132). Binatang yang disembelih menjadi lambang bahwa kita mematikan sifat-sifat tercela agar tumbuh sifat terpuji, menjadi hamba yang tunduk dan rendah hati di hadapan Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih, serta Maha Pemurah.
Simbol dan Ibadah: Cermin Kasih Sayang Allah
Peristiwa Idul Adha berlangsung selama empat hari 10 Dzulhijjah dan 11-13 Dzulhijjah sebagai hari tasyriq serta menjadi puncak ibadah Haji di Tanah Suci Makkah. Selama empat hari tersebut umat Islam diharamkan berpuasa dan penyembelihan hewan kurban dapat dilaksanakan dalam waktu empat hari tersebut. Di Padang Arafah terlihat jutaan umat bersimpuh di hadapan Allah dengan berbagai cara ibadah yang dilakukan dengan khusyu. Ada yang membaca Al-Qur’an, ada yang melaksanakan shalat, ada yang berdzikir dan amalan ibadah lainnya yang mampu dilaksanakan para jamaah. Semua jamaah berseragam putih yang digunakan sebagai simbol kesucian tanpa membedakan jabatan, ekonomi, dan semua kondisi kehidupan selama di tanah air masing-masing. Mereka semua sama tujuannya di hadapan Allah SWT untuk mengharap ampunan dan keridhaanNya serta diterima amalan hajinya, sehingga rukun Islam yang kelima yang dilaksanakan telah terpenuhi sebagai seorang muslim. Semua simbol ibadah tersebut menyiratkan sifat Allah Yang Maha Pemurah, yakni Dia menerima semua amalan hambaNya tanpa pandang bangsa, kekayaan, atau jabatan. Dia memberi jalan untuk mendapatkan ampunan dan kedekatan bagi siapa saja yang mau datang dengan hati bersih dan berkorban.
Penyembelihan hewan kurban bukanlah ritual kematian, melainkan perayaan kehidupan yang diberkahi. Allah mengganti pengorbanan Nabi Ibrahim AS dengan hewan sembelihan, dan mengganti usaha hamba dengan pahala yang tak terhingga. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
مَا عَمِلَ آدَمِىٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِى فَرْثِهِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ فِى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
Artinya : “Tidak ada amal yang dikerjakan manusia pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya darahnya sampai di tempat yang dicintai Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka berbahagialah jiwa yang ikhlas menyembelihnya”(HR. At-Tirmidzi no. 1943, 1998:217).
Antara simbol dan ibadah yang tampak dalam pelaksanaan Hari Raya Idul Adha/ Hari Raya Qurban/ Hari Raya Haji terdapat relevansi yang sangat kuat yang mencerminkan Kasih Sayang Allah kepada hambaNya tanpa batas. Allah berjanji kepada hambaNya yang berdoa hanya kepadaNya, maka Ia akan mengabulkannya, sebagaimana disebutkan dalam Surat Ghafir ayat 60 yang berbunyi : وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ …
Artinya : “Tuhanmu berkata, ”Memohonlah kepadaKu, niscaya Aku kabulkan permohonanmu” (Kementerian Agama RI, 2019 : 474 )
Demikian cara Allah mengabulkan doa-doa hambaNya sebagaimana cara hamba memohon kepadaNya. Ayat tersebut di atas hanya bagian dari banyak ayat Allah yang memberikan petunjuk atas Maha Pemurahnya Allah SWT kepada hambanya yang pandai bersyukur dan selalu memohon kepadaNya
Relevansi Peristiwa Pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dengan Kehidupan Modern
Di tengah kehidupan modern di mana kondisi kehidupan urban mulai mementingkan kehidupan diri sendiri, maka peristiwa Idul Adha menjadi penyeimbang dan pengingat sebuah kebersamaan, keikhlasan, dan ketaatan kepada Allah SWT. Pengorbanan bukan hanya penyembelihan hewan, tetapi juga meluangkan waktu untuk bersillaturrahim kepada orang tua, kepada kerabat saudara, dan memberi sebagian rezeki kepada sanak kerabat yang kekurangan, mengalah demi kedamaian bersama, dan menahan diri dari hal yang dilarang Allah. Hal tersebut menjadi penanda nyata pengorbanan hamba yang sadar bahwa segala apa yang dimiliki adalah titipan dari Allah Yang Maha Pemurah dan semua akan dikembalikan kepadaNya. Hal tersebut menjadi bukti bahwa semua yang ada di muka bumi ini akan rusak, kecuali Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Agung.
Allah Yang Maha Pemurah tidak menuntut yang berat di luar kemampuan hamba, tetapi Dia menginginkan hati yang ikhlas dan mau berbagi. Al-Qur’an Surat Al-Fatihah ayat : 5 mengajarkan kepada kita umat Muslim seluruh dunia yang berbunyi :
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ
Artinya : “Hanya Kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” ( Kementerian Agama RI, 2019: 1)
Sebagai bentuk penghambaan yang sesungguhnya dalam tindakan nyata, dengan berkorban, berbagi dan bersatu dalam iman serta terus menjaga sillaturrahim agar tercipta suasana harmonis, bahagia lahir dan batin, selamat dunia dan akhirat.
Penutup
Hari raya Idul Adha adalah perayaan cinta dan ketaatan, pertemuan janji antara hamba dan Sang Pencipta. Sebuah pembelajaran penting, bahwa pengorbanan yang tulus tidak akan hilang, melainkan akan diganti oleh Allah SWT Yang Maha Pemurah dengan pahala yang setimpal, kedamaian, dan kasih sayang yang melimpah. Semoga semua pengorbanan yang telah dilakukan melalui cara berkorban hewan ternak yang mampu dijalankan, menjadi sarana bagi kita termasuk golongan yang mampu melaksanakan makna kurban secara hakiki, dan selalu berusaha mendekat kepada Allah, serta menjadi hamba yang taat menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Kasih sayang kepada sesama terus bisa dilaksanakan dengan baik sebagai wujud cinta kepada Allah dan Rasulnya. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd. Wallahu A’lam bi shawwab