Oleh :
Haris Setiaji
Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah konten kreator asal Indonesia yang sedang berbelanja di California, Amerika Serikat. Bukan harga rumah, bukan harga mobil, bukan pula harga barang elektronik yang membuat saya terkejut. Yang membuat saya berhenti menggulir layar justru sesuatu yang sangat akrab bagi kita: daun pisang.
Di klip video itu terlihat satu lembar daun pisang beku dijual sekitar dua dolar. Sementara daun pisang segar harganya bisa mencapai empat dolar per lembar. Saya sempat tersenyum sendiri dan menggelengkan kepala.
Di Indonesia, daun pisang sering kali dianggap biasa saja. Bahkan kadang hanya menjadi limbah kebun yang dibiarkan mengering. Di kampung-kampung, pohon pisang tumbuh hampir tanpa diminta. Daunnya berlimpah. Mudah didapat. Nyaris tidak pernah terpikir sebagai komoditas bernilai tinggi. Karena itu pikiran pertama saya sederhana: “Memangnya ada yang mau beli daun pisang di Amerika?”
Ternyata ada. Bahkan cukup banyak. Daun pisang dibutuhkan oleh masyarakat Asia yang tinggal di sana. Restoran Asia juga menggunakannya untuk berbagai jenis makanan tradisional. Bagi sebagian orang, daun pisang bukan sekadar pembungkus makanan. Ia menghadirkan aroma, pengalaman, dan rasa yang tidak bisa digantikan plastik atau kertas modern. Di situlah saya mulai berpikir.
Masalahnya ternyata bukan pada daun pisangnya. Masalahnya ada pada cara saya memandang nilai dari daun pisang tersebut. Karena sesuatu yang terlihat biasa di satu tempat, bisa menjadi sangat berharga di tempat lain. Fenomena sederhana itu mengingatkan saya pada tantangan yang sedang dihadapi banyak program studi keagamaan.
Hari ini kita sering melihat prodi-prodi umum menjadi pilihan utama calon mahasiswa. Informatika, Sistem Informasi, Bisnis Digital, Data Science, dan berbagai program studi lainnya terus mendapatkan perhatian besar.
Sementara itu, banyak program studi keagamaan menghadapi tantangan yang berbeda. Bahkan tidak sedikit calon mahasiswa dari madrasah atau sekolah berbasis agama yang akhirnya lebih memilih program studi umum.
Padahal pertanyaannya bukan: apakah prodi keagamaan dibutuhkan? Tetapi: apakah masyarakat sudah memahami identitasnya? “Tidak semua yang kurang diminati berarti tidak dibutuhkan. Kadang ia hanya belum menemukan cara untuk menjelaskan nilai dirinya.”
Saya kembali teringat daun pisang di California. Nilai daun pisang tidak muncul karena seseorang memasang harga tinggi. Nilai itu muncul karena identitas dan fungsinya dipahami dengan jelas oleh orang yang membutuhkannya. Begitu pula program studi.
Sebelum berbicara tentang promosi, pemasaran, atau branding, sebuah program studi terlebih dahulu harus memahami identitasnya sendiri. Apa keunggulan utamanya? Masalah apa yang ingin diselesaikannya? Kontribusi apa yang bisa diberikannya kepada masyarakat? Lulusan seperti apa yang ingin dihasilkannya?
Karena branding tanpa identitas yang jelas ibarat menjual daun pisang tanpa tahu untuk apa daun itu digunakan. Mungkin bisa menarik perhatian sesaat, tetapi sulit membangun kepercayaan dalam jangka panjang. Sebaliknya, ketika identitasnya jelas, branding menjadi lebih mudah dilakukan.
Masyarakat akan memahami mengapa sebuah program studi penting. Calon mahasiswa dapat melihat keterkaitannya dengan masa depan mereka. Dunia kerja dapat memahami kontribusi yang ditawarkan.
Di sinilah saya melihat bahwa tantangan banyak program studi keagamaan hari ini bukan semata-mata persoalan promosi. Tantangan yang lebih mendasar adalah menemukan, merumuskan, dan menjelaskan identitas keilmuannya dalam bahasa yang relevan dengan kebutuhan zaman. Karena pada akhirnya, branding yang kuat selalu berawal dari identitas yang jelas.
Video singkat tentang daun pisang di California itu mengajarkan saya satu hal sederhana: bahwa nilai tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak sesuatu dimiliki, tetapi oleh seberapa jelas kita memahami manfaat, identitas, dan maknanya bagi orang lain.
Dan mungkin, seperti daun pisang yang menemukan nilainya jauh dari tempat asalnya, banyak program studi hari ini tidak membutuhkan identitas baru. Mereka hanya perlu membantu masyarakat melihat kembali nilai yang selama ini sudah mereka miliki. ( )
*Pranata Komputer pada UIN Jurai Siwo Lampung