… لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ …
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, ….
(QS Ibrahim (14): 7)
metrouniv.ac.id – 7/06/2026 – 21 Dzulhijah 1447 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan/ Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)
Ayat di atas kerap kami baca sebagai janji. Janji tentang mereka yang bersyukur, lalu beroleh tambahan nikmat. Tetapi, barangkali ayat itu juga boleh dibaca sebagai sebuah pelajaran tentang proses dan hasil. Bersyukur adalah prosesnya, tambahan nikmat adalah hasilnya. Proses dulu, hasil kemudian.
Namun begitu, merayakan hasil terasa lebih mudah daripada menelusuri proses. Hasil lebih gampang dipamerkan. Ia dapat dihitung, difoto, dan dipajang di medsos atau ditautkan dalam laporan periodikal. Ia hadir dalam bentuk angka, sertifikat, piala, atau publikasi. Terhadapnya, orang lalu bertepuk tangan, mengucap selamat, dan mengagumi apa yang tampak di permukaan.
Tetapi, hasil hanyalah bagian paling ujung dari sebuah cerita. Di belakangnya ada lorong proses yang panjang. Yang tampak di permukaan, misalnya, adalah postingan jurnal ilmiah. Yang kurang tersorot, adalah malam-malam panjang untuk membaca; riset yang menguras tenaga; naskah yang kembali dengan status tertolak (declined) dan hati yang tercabik karenanya; dan naskah yang harus direvisi mayor sebelum akhirnya published. Di hadapan kolega, semua itu mungkin diringkas dalam satu kalimat: congratulations on your publication. Kalimat yang, tentu saja, menggembirakan.
Ketika hasil menghadirkan kebahagiaan, proses-lah yang diam-diam mendewasakan. Proses-lah yang mengajarkan ketekunan tanpa sorak-sorai. Yang memberikan daya tahan tanpa sorotan kamera. Dan, yang menyajikan kebijaksanaan untuk terus tumbuh meski hasil belum datang sesuai ekspekstasi.
Karenanya, berorientasi pada proses adalah semacam keyakinan bahwa kerja yang sungguh-sungguh, tidak pernah sia-sia. Ia mungkin tidak selalu berbuah segera, tetapi mengajarkan keteguhan pada diri yang mengerjakannya. Pada keyakinan semacam itu, seorang Muslim yang bersyukur, mendapatkan tambahan nikmat dari Tuhannya. Seorang pekerja yang mencurahkan pelayanan terbaiknya, mendapatkan upah dan penghidupan yang layak. Seorang mahasiswa yang mengerjakan tugasnya, karena mengormati pengetahuan dan integritas akademik, mendapatkan nilai terbaik.
Mereka yang mendahulukan proses sebelum hasil, tampak sedang menulis hidup dengan urutan yang rasional. Bukan hasil-proses, melainkan proses-hasil. Mereka menyerupai petani yang paham bahwa musim tidak dapat dipercepat oleh kegelisahan. Mereka tidak bisa merayu padi agar lebih cepat menguning. Yang dapat dilakukan hanyalah mengolah tanah, menanam benih, menghilangkan gulma, dan menunggu dalam sabar. Tiba masanya panen, mereka tidak hanya memetik bulir-bulir padi, melainkan juga menuai ketekunan yang telah ikut tumbuh sebagai karakter inherent dalam dirinya.
Terkait ini, ada sebuah pribahasa Inggris lama yang tampaknya sederhana, namun memenangkan proses di atas hasil. Dikatakan, if you give a person a fish, you feed them for a day. Jika memberikan ikan, yang diberi akan kenyang sehari saja. Di konteks ini, ikan bukan lagi sekedar makanan, melainkan lambang dari hasil yang cepat habis. Lebih lanjut, if you teach a person to fish, you feed them for a lifetime. Jika yang diberikan bukanlah ikan, melainkan keterampilan memancing, maka yang diberi akan bisa kenyang sepanjang hayat. Memancing (to fish) adalah proses yang menghasilkan ikan (fish).
Untuk keperluan darurat dan jangka pendek, orang bisa memberikan ikan. Namun, untuk perkara keberlanjutan, orang sebaiknya memberikan keterampilan memancing. Dengan begitu, mengutamakan proses lebih menjanjikan daripada sekedar mengejar hasil.
Di ruang pendidikan, berorientasi pada proses, alih-alih berorientasi pada hasil atau angka, menjadi semakin penting. ‘Proses’ melatih pemelajar mengatur diri, berpikir jernih, menumbuhkan motivasi instrinsik, dan terus mencintai belajar meskipun ruang kelas dan kampus telah ditinggalkan. Karena itu, para sarjana berbicara tentang growth mindset, sebuah keyakinan bahwa keberhasilan sejati sepatutnya tidak melulu diukur dari hasil akhir, tetap dari usaha, latihan, dan ketekunan di baliknya. Growth mindset adalah pola pikir yang lebih menghargai usaha daripada hasil akhir. Orang yang memiliki growth mindset tidak terlalu silau pada kemenangan sesaat. Ia lebih tertarik pada perbaikan kecil yang diulang, pada kegagalan yang dijadikan pelajaran, dan pada usaha yang tidak segera terlihat hasilnya.
Akhirnya, berfokus pada proses bukan berarti menafikan hasil. Hasil tetap penting. Tetapi ia bukan satu-satunya ukuran. Sebab hasil yang lahir terlalu cepat kadang cepat pula menghilang. Dan, pertumbuhan yang dibangun melalui proses perlahan, cenderung tinggal lebih lama dalam diri manusia. Alaa kulliy haal, berfokus pada proses berarti beryukur dulu, lalu nikmat ditambahkan. Bukan, agar nikmat bertambah, orang harus bersyukur. Karena syukur-nikmat adalah sebuah proses, yang jika dilatih terus-menerus, bisa bermuara pada nikmat-syukur. Wallahu a’lam.