Pilih Laila atau Majnun?

Pilih Laila atau Majnun Cover Artikel Dedi Irwansyah 06052026

metrouniv.ac.id – 6/05/2026 – 19 Dzulqo’dah 1447 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan/ Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)

Travel and tell no one. Live a true love story and tell no one.
People ruin beautiful things.
(Khalil Gibran)

Sebelum larut dalam cinta, kita mengenalnya sebagai Qais dan Laila. Setelah cinta membuat Qais menjadi gila, dunia menulisnya menjadi Laila dan Majnun. Nama Majnun ditelakkan setelah Laila. Dunia pun tahu,  Majnun itu artinya gila, dan Laila dikenang sebagai  keindahan yang lahir di malam yang pekat.

Dari tempat kita duduk, Laila dan Majnun menjadi kisah cinta yang datang dari jauh. Dari tanah yang menyimpan debu, kesedihan, doa, dan cermin cinta sejati (true love). Qais mencintai Laila sejak remaja. Cinta itu tumbuh pelan, senyap, menguncang, lalu berubah menjadi sesuatu yang tak bisa lagi disembunyikan. Tetapi, dunia orang dewasa, keluarga, norma, dan adat menjadi sekat penghalang. Dunia sekitarnya tidak merestui Qais untuk memiliki Laila.

Tertampar oleh kenyataan pahit, Qais berubah. Akal sehatnya seolah berhenti bekerja. Ke mana kaki melangkah, terhadap siapa pun ia bicara, topik apa pun yang menjadi bahasan, Qais selalu menyebut nama Laila. Cinta itu menusuknya ke sumsum terdalam, hingga orang-orang memanggilnya Majnun. Si gila.

Laila bukannya tidak menderita karena cinta. Deritanya bertambah perih sejak ia dinikahkan dengan lelaki lain. Pedih itu berlipat-lipat, karena di palung jiwa Laila hanya ada Qais-Majnun.

Majnun dikisahkan pergi menyusuri padang sunyi, hidup bersama angin, air, dan pasir. Majnun mampu berbicara pada binatang dan tetumbuhan. Kepada angin dan dedaunan ia bisikkan kerinduannya pada Laila. Angin lalu menerbangkan dedaunan ke kediaman Laila. Melalui sebuah frekuensi aneh, Laila mendengar rintihan kerinduan Qais yang dititipkannya melalui angin dan daun.

Laila dan Majnun tidak pernah benar-benar bersatu di dunia. Kisah cinta keduanya terlihat sebagai unfinished script, kisah yang tidak selesai. Namun begitu, pembaca telah menangkap sebuah pesan halus, bahwa keduanya mati dalam cinta dan rindu. Keduanya menjelma kisah cinta yang indah, perih, murni, dan abadi.

Kisah Laila dan Majnun seperti mutiara multidimensi. Setiap dimensinya memancarkan keindahan tersendiri. Dan syahdan, salah satu sisi itu adalah mimpi seorang Sufi pada akhir kisah. Dalam mimpinya, ia melihat Allah swt memperlakukan Majnun dengan sangat baik. Sang Sufi bertanya-tanya, “Jika Majnun begitu dikasihi oleh Allah, lalu bagaimana dengan Laila?”

Lalu, sang Sufi diilhami sebuah jawaban, “Laila memiliki kedudukan yang lebih tinggi, karena ia mampu menyembunyikan cintanya. Laila tidak mewartakan setiap liku cintanya kepada dunia.”

Dari masa yang jauh, Laila menjadi simbol cinta yang tumbuh dalam senyap. Dalam sepi nan gelap. Tanpa sharing dan validasi. Laila adalah kecantikan yang lahir dalam malam yang bersendirian, tanpa spotlight, tanpa notifikasi, dan tanpa pewartaan kepada sahabat dan kerabat, di malam yang buta.

Sementara Majnun tetap indah, Laila menjadi lebih utama. Keutamaan untuk bekerja dalam diam tanpa publikasi berlebih. Keutamaan yang dilukis secara halus oleh Khalil Gibran: “Jika engkau bepergian ke tempat-tempat indah, tak perlu kau ceritakan kepada orang lain. Jika engkau berenang di atas lautan cinta sejati, tak perlulah engkau tunjukkan kepada orang lain. Karena, ada kecenderungan gelap dalam diri manusia, yang suka menghancurkan sesuatu yang indah.”

Andai saja Khalil Gibran hidup di jaman ini, mungkin ia akan menggunakan kata oversharing. Sebuah kebiasaan untuk mewartakan informasi pribadi secara berlebihan kepada publik. Jika Qais dan Laila kembali ke zaman ini, Qais mungkin akan mewartakan setiap perasaannya melalui media sosial. Ini bukan tentang benar dan salah, tetapi dari Laila kita belajar bahwa keindahan tetap menjadi keindahan, dan bahkan menjadi lebih indah, ketika tidak diwartakan. Ada Zat yang Mahamelihat. Ia melihat semut hitam yang merayap di atas batu hitam pada malam yang gelap nan pekat. Wallahu a’lam bis-sawab.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.