ABRAHAH

IMG-20260506-WA0039

Oleh : Mukhtar Hadi

Bila mengikuti tragedi perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang dimulai sejak 28 Pebruari 2026 lalu, kita jadi diingatkan  bahwa dalam sejarah kehidupan di dunia ini selalu saja ada manusia yang menampilkan watak pongah, angkuh dan sombong. Rasa angkuh dan sombong itu lahir karena merasa digjaya, paling kuat dan berkuasa, paling kaya raya, dan merasa paling maju dan modern. Potret itu ada pada negara yang sering disebut dengan negara super power seperti Amerika Serikat. Karena kesombongan  itu,  maka Amerika bertindak semena-mena kepada negara lain, dengan cara menyerbu, menyerang, menginvasi  dan menganeksasi negara lain yang dianggap lemah. Aktor yang menjadi potret dari keangkuhan itu adalah Donald Trump, Presiden Amerikat Serikat.

Dahulu ada sosok pemimpin yang memiliki karakter mirip-mirip dengan Donald Trump, namanya Abrahah, berasal dari Yaman. Sebagai pemimpin Yaman, Abrahah merasa Yaman lebih unggul dan maju dibandingkan dengan negara Makah. Namun ia heran mengapa banyak orang dari seluruh penjuru dunia secara rutin datang ke Makah untuk berziarah ke Ka’bah, suatu bangunan bersejarah yang dibangun oleh Ibrahim ‘alahissalam. Makah selalu ramai terus dengan kehadiran para pendatang, sementara Yaman tetap sepi tidak ada yang berminat datang kesana. Ia ingin sekali manusia seluruh dunia tidak berziarah lagi ke Makah, tetapi ke Yaman. Untuk itu, Abrahah membangun sebuah gereja yang sangat megah di kota Sana’a, Yaman.

Pada tahun 571 Masehi, Abrahah membawa tentaranya dengan menunggangi gajah hendak menyerbu Makah dengan maksud menghancur leburkan Ka’bah, bangunan yang paling ia benci. Tahun penyerbuan Abrahah ke kota Mekah ini bertepatan dengan lahirnya Rasul terakhir pilihan Allah swt, Muhammad saw. Karena itu sejarawan sering menyebut tahun kelahiran Rasulullah itu dengan nama tahun gajah atau ‘aam al-fill. Abrahah membawa pasukan dalam jumlah besar untuk menghancurkan ka’bah. Juga disertai sejumlah pasukan khusus yang mengendarai gajah. Abrahah naik gajah paling besar sekaligus memimpin gajah-gajah lainnya.

Peristiwa penyerbuan pasukan bergajah pimpinan Abrahah ini, kemudian diabadikan oleh Allah swt. dalam salah satu surat dalam Al-Qur’an yaitu surat al-Fiil, yang artinya pasukan bergajah. Pada ayat pertama surat al-Fill itu Allah bertanya “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? (QS. Al-Fiil: 1).

Wahbah Az Zuhaili menjelaskan, ayat ini adalah bentuk istifhaam (kalimat tanya) yang bertujuan untuk taqrir (penetapan) dan ta’jib (heran). Allah berfirman kepada Nabi Muhammad, apakah engkau tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah. Namun sesungguhnya ayat ini juga ditujukan kepada setiap orang, siapapun ia, termasuk orang-orang Quraisy karena mereka selamat dari pasukan Abrahah berkat pertolongan Allah.

Beberapa pihak berusaha menghentikan Abrahah. Dzu Nafar yang masih berada di wilayah Yaman memobilisasi kaumnya dan orang-orang Arab untuk menghadang Abrahah. Namun perlawanan mereka seperti tak berarti. Di Kha’sam, Nufail Al Khas’ami dan sukunya juga berusaha menghadang Abrahah. Namun kekuatan mereka sangat tidak berimbang. Dalam waktu singkat pasukan Al Khas’ami tumbang. Dzu Nafar tidak sanggup menghentikan Abrahah. Al Khas’ami setali tiga uang, tidak sanggup menghentikan Abrahah.

Sebagian mufasir menjelaskan, selain motiv menghancurkan Ka’bah, masih ada lagi motiv tersembunyi Abrahah yakni menguasai jalur Makkah dan sekitarnya serta kebenciannya pada masyarakat Arab. Pasukan Abrahah terus melaju menuju Makkah. Hingga ia beristirahat di Al Magmas, tak jauh dari Makah. Di sana prajuritnya melakukan perusakan dan penjarahan. Termasuk merampas 200 ekor unta milik seorang tokoh besar Makah yang bernama Abdul Muthalib. Abdul Muthalib sendiri tidak lain adalah kakek dari Nabi Muhammad saw.

Di waktu istirahat itu Abrahah mengirim utusan ke Makah agar pemimpinnya menghadap dirinya. Abdul Muthalib pun berangkat menemui Abrahah. Sebelumnya ia telah bermusyawarah dan menghasilkan keputusan bahwa penduduk Makah akan menghindar dalam konfrontasi fisik, karena sadar kekuatannya tidak seimbang.

Abrahah menyambut hormat Abdul Muthalib, pemimpin Makah yang gagah, tampan dan berwibawa. “Aku datang untuk menghancurkan Ka’bah dan meratakannya dengan tanah. Jika ingin selamat, jangan halangi pasukanku,” kata Abrahah dengan setengah mengancam. Mendengar ancaman itu, maka Abdul Muthalib menjawab, “Aku dan kaumku tidak akan melawan. Aku ke sini hanya ingin agar kau mengembalikan 200 ekor unta milikku.” Abrahah heran mendengar ucapan Abdul Muthalib. “Aku ingin menghancurkan ka’bah, dan kau hanya ingin aku mengembalikan untamu?” Abdul Muthalib kemudian berkata, “Ya, karena unta itu milikku, aku harus menjaganya. Sedangkan Ka’bah milik Allah. Dialah yang akan melindunginya.”

Abrahah pun mengembalikan unta milik Abdul Muthalib. Ia merasa tujuannya tak terelak lagi karena tidak ada yang akan menghalangi. Ia merasa tipu dayanya sebentar lagi berhasil padahal sesungguhnya Allah akan membuatnya sia-sia. “Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong”(QS. Al-Fiil: 3).  Saat kesombongan Abrahah semakin memuncak karena merasa tak ada yang berani menghadangnya, tiba-tiba datang dari langit kawanan burung seperti walet. Mereka datang berbondong-bondong. Jumlahnya sangat banyak. Burung-burung yang berbondong-bondong itu membawa batu panas. Masing-masing membawa tiga butir; satu di paruh dan dua di kaki. Lantas burung-burung itu menjatuhkan batu panas yang dibawanya. Ada yang terkena kepalanya. Ada yang terkena badannya. Mereka pun kocar-kacir, lari tunggang langgang.

Allah swt berfirman “Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)” (QS. Al-Fill: 5). Siapa yang terkena batu itu pasti binasa. Laksana daun yang dimakan ulat. Ibnu Katsir menuliskan, siapa yang terkena kepalanya, tembus sampai bagian bawah badannya. Mereka yang masih selamat lari tunggang langgang. Termasuk Abrahah. Ia tak langsung mati. Ia terluka lalu lukanya makin parah hingga akhirnya tewas dalam kondisi hina dina.

Melihat sepak terjang Donald Trum di era sekarang ini, nampak perilaku dan gaya pongahnya hampir sama dengan Abrahah. Namun kita patut belajar dalam satu hal, bahwa jika kita ingin menjadi umat yang tidak mudah diremehkan atau menjadi obyek perundungan dari pihak lain, maka jadilah umat yang kuat baik secara ilmu pengetahuan, ekonomi dan politik. Belajar dari perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran, kita patut mengangkat tangan dan hormat kepada negara Iran yang dengan kepala tegak melawan kesombongan dan hegemoni negara kuat seperti Amerika Serikat. Walaupun kita juga yakin, bahwa kesombongan dan angkara murka pada waktunya pasti akan dihancurkan oleh satu-satunya Dzat Yang Maha Agung, Allah SWT. Wallahu a’lam bishawab.

*Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.