Oleh:
Mukhtar Hadi*
Banyak humor yang sering kita dengar atau baca. Salah satunya humor yang berjudul “Kalah Cepat” berikut ini.
Seorang kusir delman datang ke dokter hewan, “Begini Pak Dokter, Kuda saya ini sudah tiga hari tidak mau makan.” Jawab dokter, “Gampang itu sih. Kasih saja obat ini, pasti kudanya mau makan lagi.” “Tapi bagaimana ngasihnya, kan kudanya juga tidak mau makan?” Tanya Pak Kusir kritis. Jawab dokter, “Itu juga gampang, Begini, tabletnya masukkan ke dalam pipa kecil, ujungnya masukkan ke mulut kuda, lalu jangan ragu-ragu tiup keras-keras ‘puh,’ pasti pilnya masuk ke mulut kuda.” Tiga hari kemudian Pak Kusir datang lagi ke dokter. Dengan ceria dokter bertanya: “Sukses, Bang?” Pak Kusir dengan wajah muram menjawab: “Kudanya belum sembuh, masih tidak mau makan.” “Bagaimana mungkin?” Tanya dokter penasaran. “Begini, Pak Dokter,” Pak Kusir menjelaskan, “seperti anjuran Pak Dokter, tablet itu saya masukkan ke dalam pipa kecil dan ujungnya saya masukkan ke mulut kuda. Tapi waktu saya mau tiup, kuda itu mendahului meniup ‘puh’ dan tablet itu masuk mulut saya dan ketelan sama saya. Akibatnya saya jadi nafsu makan sama sayuran. Pucuk alang-alang pun nikmat rasanya.
Sebelum diteruskan tulisan ini, para pembaca boleh tersenyum dulu. semoga paham isi humor di atas. Humor yang berjudul ‘Kalah Cepat’ di atas dinukil dari bukunya Hana Djumhana Bastaman yang berjudul Logoterapi (2007). Bastaman adalah seorang Psikoterapis dan dosen pada program studi Psikologi Universitas Indonesia. Logoterapi sendiri adalah metode psikoterapi yang berfokus pada pencarian makna hidup sebagai motivasi utama manusia.
Menurut Bastaman Humor adalah pengalaman yang menimbulkan rasa lucu dan tertawa. Definisinya masih debatable. Para pakar tidak ada kata sepakat bukan hanya soal definisi humor tetapi juga tak sepakat mengenai hal-hal yang dapat menimbulkan rasa lucu dan tertawa. Terlepas dari itu ternyata humor dapat dijadikan sebagai teknik terapi untuk membantu pasien-pasien yang menghadapi persoalan kejiwaan. Dalam kasus-kasus fobia (takut yang berlebihan kepada sesuatu) misalnya, humor bisa mengubah sikap penderita yang semula takut menjadi ‘akrab’ dengan obyek yang justru ditakutinya. Sementara pada kasus obsesi dan kompulsi – yang biasanya penderita mengendalikan ketat dorongan-dorongannya agar tak tercetus – justru diminta secara sengaja memacu agar dorongan itu benar-benar muncul. Usaha ini mustahil terlaksana bila dilakukan tanpa sikap humoristis pasien atas dirinya.
Humor dalam psikologi juga dihubungkan dengan kecerdasan. Orang-orang yang cerdas biasanya memiliki selera humor yang baik. Humor adalah bukti otentik dari kecerdasan verbal dan kognitif. Untuk bisa melucu seseorang harus mampu mengolah data secara cepat, menemukan pola tak terduga dan menyampaikannya lewat punchline, yaitu kalimat atau kesimpulan tak terduga dalam sebiah lelucon (jokes) yang berfungsi sebagai pemecah ekspektasi. Karena itulah orang cerdas sangat cepat melihat dari berbagai sudut pandang, memungkinkan mereka mengubah situasi tegang menjadi bahan tertawaan. Humor yang baik dapat meredakan stres dan membaca suasana dengan tepat, serta menunjukkan empati yang tinggi.
Rasa humor adalah salah satu kualitas insani, artinya hanya manusia yang dapat merasakan humor. Manusia mampu melihat segi-segi lucu dari kelakuan orang-orang dan berbagai peristiwa tertentu yang biasanya netral, tidak lucu, bahkan mungkin tragis. Dalam humor kita tidak hanya melihat hal-hal lucu dari orang lain atau kejadian tertentu, tetapi juga dapat menertawakan diri sendiri. Sebab itu dalam kehidupan, sebenarnya kita subyek yang menertawakan dan obyek yang ditertawakan. Selain itu, melalui humor kita dapat mengubah sudut pandang, misalnya dari sesuatu yang dihayati berat membeban menjadi ringan dan lucu. Betulkah begitu? Coba saja.
Untuk merasakan kelucuan sebuah cerita humor terkadang diperlukan pengetahuan mengenai kondisi dan latar belakang humor yang disampaikan. Humor yang disampaikan Abu Nawas dalam kisah 1001 malam hanya dapat dipahami kelucuannya jika seseorang memahami dengan baik masa kehidupan Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad dan pengetahuan tentang tasawuf. Anekdot tentang politik dan kehidupan bangsa dan negara-negara hanya dapat dirasakan lucunya jika seseorang sedikit banyak tahu tentang kondisi politik dan keadaan negara-negara tersebut. Mau dibuktikan, berikut disampaikan sebuah anekdot. Silahkan tertawa jika lucu. Tetapi mohon maaf, sedikti “saru”.
Dalam suatu pertemuan yang dihadiri banyak negara, ada tiga negara saling pamer kekayaan dan keindahan bunga yang jadi kebanggaan masing-masing. Tiga negara itu adalah Jepang, Belanda dan Satu negara dari Jazirah Arab. Delegasi Jepang dengan bangganya mengenalkan satu bunga yang sangat indah dan terkenal yang dimiliki negara Jepang yaitu bunga Sakura. Ia bawa dan tunjukkan bunga sakura itu kepada semua delegasi yang hadir dengan penuh kebanggaan. Para hadirin kagum dan bertepuk tangan. Delegasi Belanda tidak mau kalah. Bunga Tulip yang merupakan bunga terindah dan merupakan bunga identitas negeri Belanda diangkat dan dipamerkan kepada semua yang hadir. Betapa bangganya delegasi Belanda ini dengan bunga Tulip yang sangat terkenal di seluruh dunia itu. Para hadirin pun kagum dan tepuk tangan menggema. Giliran delegasi dari satu negara dari Jazirah Arab. Dia bingung mau menampilkan bunga apa. Negaranya yang terdiri dari padang pasir yang tandus hampir-hampir tidak ada bunga yang mau tumbuh. Namun atas nama kehormatan negara ia pantang malu. Tiba-tiba secara spontan ia angkat jubahnya dari bawah ke atas sehingga terbuka, dan dia bilang dengan bangga “ Bunga Kaktus”. (mh.19.05.26).
*Dosen UIN Jurai Siwo Lampung