MENGAPA MANUSIA SUKA BERPERANG?

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 1/04/2026 – 12 Syawal 1447 H
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Ketua Senat/Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)

Sejarah manusia adalah sejarah konfrontasi dan peperangan. Betulkah begitu? Tentu bisa benar bisa juga salah, tergantung pada sisi mana kita melihatnya. Jika melihat sejarah manusia dari sudut pandang kasih sayang dan kemanusiaan maka akan banyak ditemukan sisi-sisi cinta kasih dan sikap penyayang manusia. Namun, jika mencari dan melihat sisi gelap sejarah manusia, maka kita akan menemukan perang, kekerasan dan pertumpahan darah. Manusia memang makhluk multidimensi, tidak bisa tunggal memahaminya.

Beberapa pekan ini, kita disuguhkan peristiwa geopolitik yang menyesakkan dada, menghentak kemanusiaan, apalagi kalau bukan perang asimetris antara Amerika dan Israel di satus sisi dan Iran di sisi lain. Hanya tiga negara yang berseteru, tapi dampaknya dirasakan oleh seluruh negara di dunia ini. Perang ini mengakibatkan krisis energi, krisis ekonomi dan keuangan di berbagai negara.

Perang di era sekarang ini seperti sebuah paradoks. Disatu sisi semua orang dan negara berbicara soal nilai-nilai demokrasi, Hak Asasi Manusia, penghormatan terhadap kedaulatan suatu negara, namun disisi lain ada negara yang mengangkangi dan melanggar nilai-nilai itu. Perang menjadi jalan keluar menyelesaikan persoalan. Tidak jelas apakah perang ini untuk menyelesaikan persoalan atau hanya melepaskan dorongan instink manusia yang ingin berkuasa atas yang lain, sikap egoistik, ataukah bentuk keangkuhan dan kesombongan manusia belaka.

Sejarah purba konfrontasi manusia dengan manusia lainnya dapat ditemukan dalam peristiwa dua anak keturunan Nabi Adam, yaitu Qabil dan Habil. Inilah peristiwa pertumpahan darah pertama yang terjadi dimuka bumi. Qabil membunuh saudaranya yang bernama Habil. Pembunuhan ini dilatarbelakangi oleh rasa iri dan dengki, yaitu ketika kurban Habil diterima oleh Allah SWT, sementara kurban Qabil ditolak. Perseteruan ini diperparah dengan latar belakang asmara, dimana Qabil menolak menikahi saudara kembarnya sendiri dan ingin menikahi pasangan Habil. Qabil seharusnya menikahi Iqlima dan Habil dengan Labuda. Qabil menolak karena ingin menikahi Labuda yang lebih cantik. Demikian Allah SWT mengabadikan kisah itu dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 27-30.

Pertumpahan darah Habil oleh Qabil adalah peristiwa kekerasan individual. Pertanyaannya, Sejak kapan manusia telah terlibat kekerasan secara kelompok, antar golongan, antar suku, bahkan antar negara dan imperium? Jawabannya sejak pra-sejarah, yaitu sejak manusia belum mengenal baca tulis. Menurut catatan sejarah peperangan yang terorganisir dalam skala besar diyakini mulai terjadi pada zaman Neolitikum. Pergeseran dari gaya hidup berburu dan meramu serta nomaden ke pemukiman menetap dan pertanian memicu perebutan sumber daya, tanah, wilayah, dan kekuasaan yang terstruktur.

Zaman neolitikum adalah masa dimana manusia mulai hidup menetap dan menekuni pertanian. Sebelumnya atau Pra-Neolitikum, konflik antara kelompok kemungkinan besar bersifat kecil, tidak terorganisir dan terdesentralisasi atau terpencar dimana-mana. Pada masa neolitikum itulah pertempuran antar kelompk terjadi dengan lebih terorganisir, terstruktur dan berkesinambungan. Motivnya lebih banyak karena faktor ekonomi, yaitu perebutan sumber-sumber ekonomi, tanah dan hasil panen.

Ketika manusia memasuki Zaman Perunggu, peperangan yang terjadi semakin canggih, yaitu dengan adanya pemimpin formal, tentara professional, dan senjata logam. Bukti-bukti sejarah pada peradaban awal seperti di Mesopotamia dan Mesir menujukkan hal tersebut. trauma tulang dan kuburan masal menunjukkan konflik bersenjata sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Sejak itulah manusia suka berperang antara yang satu dengan yang lain, antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, antar negara dengan negara lainnya. Perang yang selalu menimbulkan luka dan duka, kematian sia-sia, perpecahan antar negara, seolah-olah telah menjadi kegemaran manusia hingga sampai sekarang ini, di era yang disebut dengan era digital.

Secara umum penyebab utama manusia suka berperang adalah karena perebutan sumber daya, terutama sumber daya ekonomi. Itulah sebabnya, ketika Donald Trump, Presiden Amerika, menculik presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan memenjarakannya motivnya adalah penguasaan sumber energi minyak yang ada di Venezuela. Secara terang-terangan Trump juga mengatakan alasan yang sama ketika menyerang Iran sekarang ini, apalagi kalu bukan minyak. Perang dapat menjadi alat untuk mencapai tujuan ekonomi dan politik, mengontrol sumber daya bahkan untuk memperluas wilayah.

Di luar motiv itu, perang biasanya berkelit kelindan dengan motiv-motiv ikutan seperti instink kelompok yaitu rasa solidaritas kelompok (termasuk di dalamnya negara)  yang kuat yang membuat mereka merasa perlu melindungi dan mempertahankan kelompoknya sendiri. Ikutan lainnya adalah ideologi dan agama, yaitu keyakinan akan nilai-nilai agama dan ideologi tertentu yang menyebabkan mereka berperang untuk mempertahankan atau menyebarkan agama atau ideologi tersebut. Tidak kalah pentingnya adalah motivasi ingin berkuasa dan mendominasi. Manusia memiliki naluri untuk berkuasa dan mendominasi manusia lainnya. Dorongan untuk berkuasa dan mengendalikan orang lain juga menjadi satu alasan mengapa manusia suka berperang.

Sungguh sangat membingungkan, manusia banyak berbicara tentang kasih sayang, toleransi dan keadilan, menjunjung tinggi kemanusiaan, dan mengecam pertumpahan darah. Namun pada saat yang sama mereka melakukan yang sebaliknya, bersikap keji saling membunuh antar sesama, mengeliminasi  bayi, anak-anak dan wanita. Sebagian manusia mengelus dada menyaksikan sebagian manusia lainnya yang menunjukkan kepongahan. Perang adalah pertarungan antara kebaikan dan keburukan. Wallahu a’lam.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.