metrouniv.ac.id – 26/04/2022 _ 24 Ramadhan 1443 H
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)
Salah satu doa yang selalu kita baca dan menjadi doa penutup dari rangkaian doa-doa panjang yang kita panjatkan adalah meminta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta terhindar dari siksa api neraka. Doa itu bunyinya: Rabbanaa aatina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqiinaa ‘adzabannar. Lafadz dari doa ini termaktub dalam Al-qur’an surat Al-Baqarah ayat 201 yang isi intinya adalah ada sebagian orang-orang yang memohon kepada Tuhannya agar diberikan kebaikan hidup di dunia dan kebaikan di akhirat serta dijauhkan dari siksa api neraka.(QS. Al-Baqarah: 201).
Doa tersebut sering disebut dengan doa sapu jagat. Tidak tahu sejak kapan dan siapa yang pertama kali memberi nama demikian. Dinamakan demikian, mungkin karena substansi isi doa tersebut adalah buhul dari semua permintaan atau doa ini merupakan puncak dari semua hal yang kita mintakan kepada Allah Swt. Berpanjang-panjang doa yang selalu dimunajatkan dan dipanjatkan kehadirat Ilahi Rabbi esensi sesungguhnya dirangkum dari doa sapu jagat ini. Apapun keinginan yang kita minta, jika kebaikan dunia dan akhirat didapatkan yang lain secara otomatis akan mengikuti atau menjadi bagian yang terangkum dalam kebaikan dunia dan akhirat tersebut. Ditambah lagi terhindar dari siksa api neraka. Dus, apalagi? Tidak ada. Sudah cukup dengan ini, hidup di dunia diliputi dengan kebaikan dan di akhirat masuk surga.
Ayat suci Al-Qur’an menyebutkan secara berurutan kebaikan yang diminta itu adalah kebaikan dunia dahulu, baru kebaikan akhirat. Bukan sebaliknya kebaikan akhirat baru kebaikan dunia. Hal ini dimaksudkan bahwa jika seseorang menjalani kehidupan duniawinya dengan penuh kebaikan dan kemaslahatan, maka secara otomatis kebaikan akhirat akan diraihnya. Dunia adalah sarana untuk menuju akhirat. Mustahil seseorang yang ketika hidup di dunia diliputi dengan kejahatan dan maksiat akan mendapatkan kebaikan di akhirat. Maka sarana menuju kebaikan di akhirat kuncinya terletak pada kebaikan waktu manusia hidup di dunia. Sebab itu Allah dahulukan kebaikan dunia baru kemudian secara otomatis kebaikan akhirat akan tercapai.
Banyak orang sering lupa akan hal ini. Seolah-olah usahanya mengejar kebaikan akhirat adalah segala-galanya. Lalu kehidupan duniawinya ia abaikan atau kebaikan dunia dilupakannya. Padahal sekeras apapun orang berusaha untuk mendapatkan kebaikan di akhirat namun jika kebaikan hidup di dunia tidak dilakukan maka jauh panggang daripada api. Usahanya akan sia-sia dan tidak berguna.
Lalu apa kebaikan di dunia itu? Kebaikan di dunia adalah segala perilaku baik berdasarkan ketentuan Allah yang dilakukan seorang hamba untuk semata-mata mencari keridhoan-Nya. Dalam hal ini Islam telah mengajarkan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Islam juga mengajarkan kebaikan-kebaikan apa yang harus diperbuat manusia agar kehidupan manusia di dunia diliputi dengan kesejahteraan, kebahagiaan, kedamaian, keamanan dan ketentraman.
Banyak sekali nilai-nilai yang bersumber dari ajaran Islam sebagai pedoman dalam menggapai kebaikan di dunia. Diantaranya, Islam mengajarkan bahwa manusia yang baik adalah yang memberi manfaat bagi orang lain. Pesannya adalah bahwa salah satu kunci kebaikan di dunia adalah berhubungan dan berinteraksi dengan sesama manusia secara baik dan senantiasa menjadi orang yang memberi maanfaat bagi orang lain. Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin adalah orang yang selalu menjaga lisannya, tangannya dan perbuatannya dari perbuatan yang membuat orang lain merasa tidak aman. Jika orang merasa tidak aman dari perbuatan orang lain akibat lisan dan tangannya, itu tandanya ia belum beriman. Maka jaga lisan dan tangan kita dari perbuatan yang tidak terpuji sehingga orang lain merasa aman dan tidak terganggu.
Islam mengajarkan bahwa kebersihan adalah sebagai bagian dari iman. Menjaga lingkungan dengan baik. Juga mengajarkan untuk senantiasa menjaga kesehatan dan kebugaran jasmani. Caranya adalah dengan makan makanan yang halal dan baik serta rajin berolahraga. Nilai-nilai ini mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan di dunia itu akan tercapai jika kita menjadi orang-orang yang suka dengan kebersihan, ramah dengan lingkungan, menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi makanan yang baik dan bergizi serta menjaga kebugaran jasmani dengan berolahraga.
Dalam bermuamalah, Islam mengajarkan tentang tatacara bermuamalah yang baik dan berintegritas. Seorang mukmin tidak boleh melakukan transaksi ekonomi dengan cara curang, tidak jujur atau berbohong atau mengandung unsur penipuan (gharar). Bekerja, berusaha dan beriwirusaha harus dilakukan dengan cara-cara yang baik dan benar serta diliputi dengan penuh kejujuran. Hindari sikap koruptif (riswah) jika diberi amanah jabatan dan kekuasaan serta sikap semena-mena (adigung) terhadap bawahan atau siapapun yang dipimpinnya. Ini juga bagian dari kebaikan dunia.
Dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, Islam mengajarkan agar kita taat kepada para pemimpin yang lurus. Ketaatan kepada para pemimpin itu salah satunya ditunjukkan dengan mematuhi segala aturan dan regulasi yang ada demi kemaslahatan bersama. Maka seorang muslim yang baik adalah orang yang patuh pada hukum dan peraturan yang berlaku. Dalam kehidupan sehari-hari bentuk yang sederhana ketaatan kepada aturan hukum itu ditunjukkan misalnya dalam sikap tertib berlalu lintas, tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain, tidak melakukan tindakan kejahatan, dan lain-lain. Bukankah hukum dibuat untuk kemaslahatan bersama? Maka mentaati hukum berarti menjaga kemaslahan dan untuk kebaikan bersama.
Last but not least, semua nilai kebaikan yang diajarkan Islam itu pengejawantahannya di dunia fana ini. Maka siapapun yang melakukannya maka ia akan mendapatkan kebaikan di dunia (hasanah dunia). Termasuk jika kita melakukan penghambaan diri kepada Allah melalui ibadah-ibadah khassah seperti shalat, puasa, berhaji, dan membayar zakat. Semuanya tempatnya di dunia ini. Tidak di akhirat sana. Kebaikan dunia adalah sebab bagi kebaikan di akhirat. Kebaikan akhirat adalah akibat semata dari sebab kebaikan dunia.
Allah menyebut kepada kaum yang menjaga kebaikan dunia dan akhiratnya dengan julukan khoiro ummah (umat yang terbaik). “Kamu adalah sebaik-baik umat yang diturunkan ke muka bumi yang mengajak kepada manusia untuk melakukan kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah kepada kemunkaran (nahi munkar), serta beriman kepada Allah..” (QS. Ali Imron: 110). Tidak ada lagi yang menjadi tujuan mulia umat manusia di dunia ini kecuali menjadi umat yang terbaik. Allah memberikan garansi itu jika manusia mau melakukan itu dengan kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.
Masih banyak tugas yang harus dilakukan oleh kaum muslimin agar menjadi khoiro ummah. Dalam kenyataan dan beberapa survai yang pernah dilakukan, masyarakat dengan mayoritas muslim atau kelompok negara-negara Islam indeks ke-Islaman-nya masih sangat rendah. Itu artinya, kebaikan hidup di dunia sebagaimana yang dipanjatkan dalam setiap doa belum diterapkan secara baik dan utuh.
Pada survai yang pernah dilakukan tahun 2016 untuk melihat Islamicity Indexs (indek ke-Islaman) terhadap 153 negara, justru ternyata yang masuk dalam 10 negara dengan indeks ke-Islaman yang tinggi diraih oleh negara-negara yang penduduknya bukan mayoritas muslim. Dalam survai itu indeks keislaman yang tertinggi secara berurutan dimiliki oleh Belanda, Swedia, Swiss, Selandia Baru, Denmark, Finlandia, Norwegia, Luxenburg, Australia, dan Kanada. Negara tetangga kita, Singapura berada pada peringkat 17, sementara dari negera Islam yang tertinggi peringkatnya adalah Qatar pada urutan ke 39. Indonesia sendiri berada pada peringkat 88.
Paramater yang digunakan dalam Islamicity Indexs diambil dari nilai-nilai ajaran Islam seperti misalnya praktek muamalah yang baik (kejujuran, hubungan yang baik dengan sesama, keramahan, dan sebagainya), menjaga lingkungan dan kebersihan, taat pada tata kelola dan segala aturan yang berlaku, disiplin, kerja keras, rajin membaca dan mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi. Masalahnya, jika paramaternya sudah diambil dari nilai-nilai Islam, mengapa dalam praktek kehidupan, masyarakat atau negara dengan mayoritas muslim masih tertinggal?. Jawabannya adalah kita tidak memiliki komitmen yang kuat dan istiqomah dalam menjalankan syariat Islam, termasuk kita tidak konsekuen dengan doa kita sendiri yang meminta kebaikan hidup di dunia dan kebaikan di akhirat. Maka dari itu, harus banyak otokritik dan bermuhasabah. Wallahu a’lam bishawab. (mh.26.04.2022).