Mengukur Perbuatan Dosa

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 20/02/2023 – 29 Rajab 1444 H

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

 

Sebagian kita mungkin pernah berdoa agar kiranya Allah menghapus atau memaafkan segala dosa yang pernah kita perbuat baik disengaja atau tidak disengaja. Sangat sering bahkan untaian doa mohon ampunan seperti ini dilakukan. Dosa yang disengaja tentu semua tahu yaitu perbuatan-perbuatan yang melanggar syariat yang sudah diketahui ketentuannya tetapi masih saja dilakukan oleh manusia. Lantas dosa yang tidak disengaja? Mungkin maksudnya seseorang melakukan perbuatan tertentu tetapi yang melakukan tidak sadar bahwa perbuatannya melanggar ketentuan syariat.

Bagaimana cara mengetahui bahwa perbuatan yang kita lakukan merupakan perbuatan dosa atau tidak? Sebenarnya ada cara sederhana dan mudah untuk mengetahuinya. Resep dan cara ini bersumber dari Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Umamah al-Bahili ra, “Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW: Apa itu Iman? Beliau menjawab:  Jika kebaikanmu menggembirakanmu dan keburukanmu membuatmu sedih, maka engkau adalah mukmin. Kemudian dia bertanya: “Apa itu dosa?’ Beliau menjawab: “Jika suatu perkara singgah di dadamu kemudian engkau menolaknya.” Dalam  riwayat lain dengan kalimat yang berbeda Rasulullah mengatakan dosa adalah: “Jika engkau melakukan suatu perbuatan dan hatimu menjadi tidak nyaman”.

Sangat sederhana dan mudah untuk dipahami cara Nabi menggambarkan tentang orang yang  beriman dan perbuatan dosa. Orang-orang yang kalau melakukan perbuatan baik lalu ia merasa senang dan gembira, merasa ada kepuasan tersendiri setelah berbuat baik maka orang itu tandanya memiliki iman. Pun demikian, jika seseorang melakukan perbuatan yang tidak baik lalu ia menyesali dan bersedih karena perbuatan yang dilakukan itu, maka orang itu memiliki iman. Lalu dosa, dijelaskan oleh Nabi, jika seseorang melakukan suatu perbuatan kemudian membuat hatinya tidak nyaman atau perbuatan itu ditolak oleh hati nuraninya, maka itu tanda perbuatan yang dilakukan merupakan perbuatan dosa.

Dalam setiap hari manusia sangat sering melakukan perbuatan-perbuatan atau amaliah-amaliah. Sesuai dengan sunatullah, memang manusia seharusnya demikian. Beraktivitas, berusaha, bertebaran ke muka bumi adalah kodrat kemanusiaan. Selama menjalankan aktivitas duniawi itulah ada kemungkinan manusia melakukan kesalahan-kesalahan atau melakukan perbuatan dosa. Kunci untuk mengukur suatu perbuatan apakah masih dalam kebaikan atau sudah keluar dari kebaikan (perbuatan dosa) adalah jujur dengan hati nurani. Seseorang yang mengingkari hati nuraninya maka ia tidak akan dapat mengukur perbuatannya, apakah merupakan perbuatan baik ataukah perbuatan dosa. Namun siapa yang bisa membohongi apa yang ada dalam hatinya? Tentu tidak ada, kecuali ia pura-pura tidak tahu.

Aktivitas duniawi memang sangat memungkinkan manusia berbuat dosa. Para ahli sufi menggambarkan dunia itu ibarat madu. Siapa yang saja yang mandi madu, maka jangan berharap tidak dikerumuni oleh semut atau serangga-seranga yang menyukai manisnya madu. Semut dan serangga-serangga itu adalah perumpamaan dosa yang menempel pada tubuh manusia akibat bergelut dengan aktivitas duniawi. Artinya, sedikit atau banyak, disengaja atau tidak, jika manusia beraktivitas dalam kehidupan duniawi maka ia akan tetap terkena dosa. Begitulah kehidupan duniawi menurut para sufi. Manusia yang baik bukan yang tidak pernah berdosa, tetapi mereka yang ketika berbuat dosa segera melakukan pertaubatan atau memohon maghfiroh dari Allah SWT.

Untuk mengetahui apakah perbuatan yang kita lakukan merupakan perbuatan dosa atau tidak, maka dibutuhkan kejujuran terhadap hati nurani sendiri. Sebagaimana yang dinyatakan Rasulullah jika suatu perbuatan membuat hati tidak nyaman itu tanda bahwa yang kita lakukan adalah perbuatan dosa. Karena itu hati adalah pusat dari segala sumber kontrol dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan manusia. Siapa yang jujur dengan hatinya, maka ia akan dapat mengontrol perbuatan-perbuatannya untuk terus kearah kebaikan. Namun mereka yang mengingkari hati nuraninya atau tidak jujur dengan hatinya maka ia akan terjerumus terus dalam perbuatan dosa.

Hati sebagai pusat kontrol perbuatan manusia sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi SAW. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim Rasulullah SAW bersabda: “Ingatlah, bahwa di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi bila ia rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati (qalbu)”.

Dus, dengan demikian manusia harus senantiasa menjaga hatinya supaya tidak terkena penyakit. Dari sekian banyak penyakit hati, yang sangat berbahaya adalah berbohong atau mengingkari hati nurani. Penyakit hati seperti ini akan membuat manusia tidak mampu mendeteksi segala perbuatan dosa yang dilakukan. Bukan tidak tahu, tetapi keberadaan dosa-dosa itu diingkarinya. Akibat dari mengingkari hati nurani adalah hilangnya kedamaian dan ketentraman serta kehidupan yang selalu diliputi dengan keluh kesah, gundah gulana dan kemrungsung. Sekali lagi untuk mengukur satu perbuatan itu dosa atau tidak adalah jika satu perbuatan membuat hatimu tidak nyaman, maka itu artinya dosa.  Wallahu a’lam bishawab. (mh.19.02.23), (Posting ss_humas).

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.