metrouniv.ac.id – 07/04/2022 _ 05 Ramadhan 1443 H
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)
Ramadhan adalah bulan kawah candradimuka, yaitu bulan penempaan, pelatihan dan pembentukan spiritualitas. Selama satu bulan penuh, orang-orang yang berpuasa ditempa, dilatih dan dibentuk spiritualisnya agar menjadi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang bertakwa sendiri dimaknai sebagai orang senantiasa mengerjakan semua perintah-perintah Allah dan meninggalkan segala hal yang di larang-Nya. Sebuah definisi yang sederhana tetapi memiliki makna substantif yang dalam. Definisi takwa ini mencakup secara keseluruhan dari puncak sipritualitas manusia. Puncak sipiritualitas itu adalah jika manusia secara sadar dan ikhlas melaksanakan semua ketentuan Allah dari hal-hal yang diperintahkan dan menjauhi semua hal yang menjadi larangan Allah SWT.
Salah satu sifat dan sikap yang ditempa dan dilatihkan oleh Allah dalam bulan Ramadhan adalah sifat jujur. Jujur terhadap diri sendiri, orang lain, dan jujur kepada Sang Maha Benar atau Sang Maha Jujur. Sifat Jujur adalah puncak dan induk dari akhlak seseorang. Ketika seseorang memiliki sifat jujur maka akan mengalir dan lahirlah dari dirinya sikap kesederhanaan, ketawadh’uan dan kebaikan-kebaikan. Dus, dengan sendirinya kejujuran itu akan menghindarkan seseorang dari sikap munafik (kepura-puraan/hipokrit), sikap dusta atau pembohong, dan sikap takabur.
Rasulullah Saw. menyebut orang-orang yang jujur dengan sebutan shidiq atau orang yang benar. Dan sikap shidiq jika dimiliki seseorang akan membawanya kepada kebaikan dan dicatat disisi Allah sebagai Shidiqun. Sebaliknya orang-orang pendusta atau orang yang tidak jujur akan dicatat disisi Allah sebagai pendusta. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya:
“Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi SAW bersabda; sesungguhnya kejujuran itu membawa pada kebaikan dan kebaikan itu membawa (pelakunya) ke surga dan orang yang membiasakan dirinya berkata benar(jujur) sehingga ia tercatat disisi Allah sebagai orang yang benar, sesungguhnya dusta itu membawa pada keburukan (kemaksiatan) dan keburukan itu membawa ke neraka dan orang yang membiasakan dirinya berdusta sehingga ia tercatat disisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengingatkan manusia agar bersikap jujur dan berkata dengan perkataan yang benar, sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar…” (QS. Al-Ahzab: 70).
Dalam ayat lain Allah SWT juga berfirman agar orang-orang yang beriman senantiasa bertakwa kepada Allah dan bergaul bersama orang-orang yang jujur:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar. (QS. At-Taubah: 119).
Hadits dan ayat di atas menunjukkan kepada kita betapa pentingnya kejujuran dan memiliki sikap jujur, karena sikap ini bisa mengantarkan manusia ke surga dan begitu juga sebaliknya jika manusia tidak memilikinya maka dapat mengantarkannya ke dalam neraka. Berdasarkan ayat-ayat di atas pula, maka ada tri matra (tiga matra) yang harus menjadi perhiasan kepribadian utama manusia yaitu beriman, bertakwa dan kejujuran.
Kejujuran Membawa Kemujuran
Banyak yang dengan pesimis mengatakan bahwa manusia yang jujur di zaman ini adalah jenis yang langka. Rasa pesimis itu misalnya muncul dalam ungkapan “ jujur hancur, tidak jujur mujur”. Ungkapan ini sebenarnya bentuk refleksi dari rasa putus asa betapa sifat-sifat kejujuran sekarang ini semakin mahal dan semakin sukar ditemui. Kehidupan yang serba pragmatis dan oportunis membawa banyak orang berusaha menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dan pada akhirnya mengabaikan kejujuran. Jika ini terjadi begitu masif, maka lama kelamaan ketidakjujuran menjadi lumrah dan kejujuran justru dianggap suatu keanehan. Barangkali dari situasi itulah ungkapan “jujur hancur dan tidak jujur mujur” itu awal mula muncul dan menjadi olok-olok manusia zaman ini.
Beberapa orang merasa bahwa ungkapan di atas ada benarnya bila melihat kenyataan yang di rasakan dan mereka saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap saat selalu saja ada berita penangkapan para birokrat dan pejabat yang tersandung kasus korupsi. Budaya korup yang bersumber dari sikap ketidakjujuran dalam mengelola amanah terjadi dimana-mana. Pungli dalam pelayanan juga terjadi dimana-mana. Belakangan ramai dibicarakan, bisnis yang berbasis aplikasi digital ternyata memgandung unsur penipuan. Para pelakunya kemudian ditangkap dan dipenjarakan. Plagiasi karya akademik secara massif terjadi dalam dunia pendidikan dari tingkat paling bawah yaitu mencontek dalam ujian yang dilakukan anak-anak sekolah sampai budaya copy paste dalam membuat karya ilmiah. Yang lainnya lagi? Ah..terlalu banyak untuk disebutkan.
Benarkan kejujuran membawa kepada kehancuran dan sikap dusta membawa kepada kemujuran? Tentu jawabannya, tidak! Sampai kapanpun sifat-sifat kebaikan pasti akan menang melawan sifat-sifat keburukan. Itu sunatullah. Meskipun pada kondisi dan situasi tertentu terkadang kebaikan-kebaikan itu seperti kalah dengan keburukan-keburukan. Seolah-olah kejujuran kalah dengan kebohongan. Justru disinilah tugas kita untuk terus mengajak kepada kebaikan dan menunjukkan terus kebaikan-kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Muhammad muda dahulu mencontohkan kepada kita semua, yaitu ketika orang-orang Mekah menggelarinya dengan sebutan al-Amin atau orang yang paling dapat dipercaya. Gelar ini Beliau dapatkan bukan atas permintaan dirinya atau keluarganya, tetapi gelar yang disematkan oleh kaumnya atas sikap jujur yang ia miliki. Semua orang memiliki trust kepada Muhammad sehingga dalam semua urusan apa yang menjadi perkataan, perbuatan dan keputusannya tidak ada orang yang meragukan, semua percaya seratus persen.
Sampai suatu hari ketika batu hitam di sudut ka’bah pernah bergeser posisinya karena terkena banjir hampir-hampir terjadi perselisihan antar suku karena semua merasa berhak untuk mengembalikan batu itu ke tempat semula. Hingga mereka sepakat untuk menyelesaikan persoalan ini kepada kebijaksanaan al-Amin. Apa yang Muhammad muda lakukan? Ia minta semua perwakilan suku untuk memegang dan membentangkan kain lalu Beliau meletakkan batu hitam itu di atasnya, lalu bersama-sama mengangkatnya dan kemudian Beliau meletakkan batu itu di sudut ka’bah, tempat semula batu hitam itu ditempatkan. Selesailah persoalan dan masyarakat terhindar dari perpecahan. Semua itu terjadi karena sifat jujur yang dimiliki Muhammad, dimana kejujuran itu melahirkan kepercayaan dan keyakinan orang kepada dirinya.
Dalam catatan sejarah keberhasilan Muhammad dalam bisnis dan perdagangan dibangun olehnya atas kejujuran. Karena kejujuran itulah, seorang janda muda kaya raya yang bernama Khadijah mempercayakan bisnisnya untuk dijalankan oleh Muhammad, dan bisnis itu berjalan sukses serta meraup keuntungan besar. Sikap baik, sederhana dan jujur itu juga yang kemudian hari membuat Khodijah bersedia menjadi pendamping hidup Muhammad.
Betapa pentingnya oang memiliki kejujuran dalam segala lini kehidupan, maka setelah menjadi Rasul sikap ini tidak pernah berhenti ia tekankan kepada para pengikutnya. Suatu hari ketika Beliau berkunjung ke pasar ia mendapati seorang padagang buah yang menjajakan dagangannya dengan cara disusun bertumpuk sedemikian rupa di dalam sebuah keranjang. Lalu Rasulullah memasukkan tanganya ke dalam tumpukan buah tersebut, dan ia merasakan dengan tangannya buah yang berada di tumpukan bawah sudah mulai membusuk dan tidak baik kondisinya. Lalu Rasulullah meminta kepada pedagang itu untuk menaikkan dan menampakkan buah yang dalam kondisi tidak baik itu supaya bisa dilihat oleh pembeli. Beliau ingin memberikan pesan, jika berniaga maka berniagalah dengan jujur dan menghindari gharar atau menipu.
Puasa Membentuk Sikap Jujur
Puasa sejatinya bukan sekedar menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, tetapi inti puasa adalah pada pengendalian diri (imsak). Mengendalikan diri dari hal-hal yang dapat merusakkan pahala puasa seperti berghibah, iri dengki, berbicara yang keji dan kotor, berbuat onar, berseteru, berbuat maksiat dan sebagainya. Disamping itu puasa juga melatih rohani untuk menjadi pribadi yang baik dan unggul.
Latihan rohani selama menjalankan ibadah puasa ini salah satunya adalah membentuk sikap jujur. Seseorang yang sedang menjalankan ibadah puasa sesungguhnya bisa saja berbohong dihadapan banyak orang; di keluarganya, di tempat kerjanya atau di tempat keramaian. Siapa yang akan tahu jika ia diam-diam masuk ke dalam kamar, lalu menguncinya, kemudian ia makan di dalamnya. Lalu keluar kamar, berlagak seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ketika orang letih dan susah payah, ia bersikap yang sama. Bahkan ketika semua orang berbuka, diapun ikut sibuk berbuka. Siapa yang tahu? Tidak ada yang tahu, jika ada yang mau melakukan itu.
Namun, ketika berpuasa, orang tidak melakukan itu. Karena seberapa pandainya ia menutupi kebohongannya; berpura-pura puasa padahal tidak; berpura-pura letih padahal baru saja ia makan secara sembunyi-sembunyi; orang itu yakin dengan hati sanubarinya bahwa Allah pasti mengetahui dan melihatnya. Mungkin ia bisa menutupi kebohongannya dari manusia, namun ia sadar sesadar-sadarnya bahwa ia tidak bisa berbohong dari Allah SWT. Siapa yang bisa berbohong dari hatinya dan dari Allah SWT? Tidak ada. Meskpiun manusia berusaha untuk itu, ia tidak akan bisa melakukannya. Demikianlah cara puasa melatih sikap jujur pada diri sendiri, pada orang lain dan lebih-lebih kepada Allah SWT.
Sikap jujur yang dilatih dan ditempa saat orang berpuasa ini, jika kemudian melekat dan dibawa dalam kehidupan sehari-hari di luar bulan Ramadhan, baik dalam kehidupan sosial, bermuamalah dan dalam setiap pekerjaan yang diberikan tanggungjawabnya kepada kita, maka akan membawa kepada kebaikan dan keberkahan bagi diri dan semesta. Kehidupan ini menjadi hancur dan lancung sesungguhnya karena hilangnya sifat kejujuran dari para aktornya. Dengan rasa optimisme yang tinggi, kita percaya masih banyak orang-orang jujur yang mewarnai kehidupan. Kita percaya ini karena Allah selalu menghadirkan Ramadhan dan puasa sebagai madrasah yang melahirkan secara terus menerus para shiddiqun (orang-orang yang jujur). Wallahu a’lam bishawab. (mh.05/04/2022)