Film “Repdeman” Dirilis, JSC Gelar Nonton Bersama

58foto-nobar.jpg

Metro, metrouniv.ac.id – Bertempat di Gedung Munaqosyah lantai 3, Rabu (11/4) komunitas diskusi  Jurai Siwo Corner (JSC) kembali menggelar nonton film bersama. Kali ini, film yang diputar berjudul “Repdeman,” produksi Watchdoc Documentary. Film ini berdurasi 1 jam 2 menit. Latar film yang diambil berlokasi di Kepulauan Mentawai.

Hadir sebagai pembicara Yerri Noer Kartiko (Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Metro) dan Drs. Zahdi Taher, M.H.I (Kepala Biro IAIN Metro). Acara nonton bersama ini dihadiri oleh Mahasiswa IAIN Metro dari berbagai jurusan dan masyarakat umum. Menurut keterangan Panitia JSC, acara-acara diskusi dan nonton bersama yang digelar di JSC memang tidak hanya diperuntukan bagi kalangan internal kampus saja, tetapi terbuka untuk umum, agar manfaat dan pencerahannya bisa dirasakan oleh banyak orang.

Dalam uraiannya mengomentari film “Repdeman” Drs. Zahdi Taher, M.H.I mengatakan, bahwa film tersebut mengandung pelajaran berharga bagi manusia agar tetap peka membaca fenomena alam. “Di film ini tadi ditampilkan tentang bagaimana kejadian alam dapat dibaca melalui tanda-tandanya. Misalnya jika terlihat banyak burung beterbangan, hewan-hewan melata seperti jangkrik dan katak berhenti bersuara, maka masyarakat sudah bersiap-siap menghadapi kemungkinan akan adanya bencana alam yang terjadi,” jelasnya.

Masih menurut Drs. Zahdi Taher, bahwa sebenarnya teknologi sangat terbatas dalam memberikan penjelasan mengenai fenomena alam. Masih ada kemungkinan ketidak-akuratan yang bisa mengakibatkan bencana alam membawa korban. “Berdasarkan pengalaman pribadi saya tahun 2017 yang lalu, di Bengkulu punya banyak sirine tanda gempa, tetapi saat ada bencana gempa betulan, sirine baru menyala setelah dua jam kemudian dan  sudah banyak ‘menelan’ korban,” tutur Pejabat Kampus ini mengenang peristiwa beberapa tahun silam.

Selaras dengan penjelasan di atas, Yerri Noer Kartiko mengatakan bahwa tidak ada bencana yang terjadi atau datang secara mendadak atau tiba-tiba, termasuk bencana alam. “Kebaikan Tuhan tercurahkan melalui kejujuran alam, yang selalu mengirimkan sinyal atau tanda melalui elemen-elemennya, namun gagal ditangkap, dibaca sekaligus dipahami oleh manusia,” jelasnya.

Menurut Yerri, kesalahan manusia adalah melenyapkan tanda-tanda alam tersebut, akhirnya tidak ada indikator alamiah yang bisa dibaca. “Alam biasanya memberikan tanda lewat perilaku hewan, sebelum terjadinya bencana. Keserakahan manusia menghancurkan ekosistem Flora dan Fauna sebagai indikator biologis alamiah, yang kemudian hilang atau punah, digantikan mesin yang bernama early warning system,” tandasnya.

Film “Repdeman” sendiri merupakan inisiatif project yang dilakukan secara independen dan swadaya oleh Tim Watchdoc. Hasil kerja kolaborasi dari para praktisi, kebencanaan, video jurnalis, dan peneliti geologi & kelautan, serta peneliti sosial. Film ini mendokumentasikan ‘aset pengetahuan’ dari pengalaman hidup masyarakat Mentawai dalam menyikapi bencana alam, menyelamatkan diri dari bencana tsunami, bertahan hidup di Huntap (kampung pengungsian) dengan segala kesulitannya, atau kembali mendekati kampung halaman di dekat laut, tentu dengan segala trauma yang mereka rasakan. Sementara itu, Mentawai masih menyimpan energi besar di bawah bumi yang mengendap selama ratusan tahun, yang sewaktu-waktu bisa memicu bencana gempa bumi berskala besar. (TN)

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.