Sehari penuh, berbagai aktivitas mewarnai gelaran tersebut, mulai dari ekspo dan bazar UMKM, aneka perlombaan, pentas seni pemuda, hingga diskusi panel yang mempertemukan mahasiswa, akademisi, pemerintah, dan kalangan pengusaha muda. Tidak sekadar menjadi ajang unjuk kreativitas, kegiatan ini juga menghadirkan ruang interaksi lintas generasi dan latar belakang untuk saling menyapa, bertukar gagasan, serta membangun jejaring kolaborasi.

Wakil Rektor Bidang I UIN Jurai Siwo Lampung, Prof. Dedi Irwansyah, yang hadir mewakili Rektor, Prof. Ida Umami, M.Pd., Kons., dalam sambutannya ia memulai dengan memperkenalkan nilai dan identitas kampus melalui tagline BERIMAN, akronim dari Berintegritas, Moralitas, Akhlakul Karimah, dan Nasionalitas. Nilai tersebut, menurutnya, menjadi landasan penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas dan tanggung jawab kebangsaan.
Untuk mengajak peserta merefleksikan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama, Prof. Dedi menyampaikan sebuah cerita hikmah tentang seorang pemuda yang skeptis terhadap keberadaan Tuhan. Dalam ceritanya, seorang pemuda yang sedang mencukur rambut mempertanyakan mengapa Tuhan, jika benar ada, tidak menciptakan semua manusia dalam keadaan baik dan sempurna.

Keesokan harinya, pemuda itu kembali menemui tukang cukur dengan perasaan marah setelah melihat seseorang dengan rambut yang tidak terurus. Tukang cukur kemudian menjawab bahwa mungkin orang tersebut tidak datang atau tidak cukup dekat dengannya untuk mendapatkan pelayanan. Analogi itu menjadi pintu refleksi bahwa keberadaan sesuatu tidak serta-merta dapat disimpulkan dari apa yang tidak kita temui atau alami.
Namun, pesan tentang sikap skeptis juga dapat dibaca dari sudut pandang yang berbeda dalam kehidupan sosial. Pemuda, misalnya, boleh bersikap kritis dan mempertanyakan apakah masih ada pejabat yang benar-benar jujur, apakah ruang publik masih memberi tempat bagi integritas, serta apakah perubahan dapat diwujudkan. Sikap kritis tersebut justru perlu dirawat agar tidak berhenti sebagai kecurigaan, tetapi berkembang menjadi keberanian untuk mengambil peran dan menghadirkan perubahan.
“Inti dari kegiatan ini adalah bagaimana kita bisa duduk bersama, saling menyapa, bertutur salam, dan membangun komunikasi. Dari perjumpaan sederhana seperti inilah kepercayaan dan kolaborasi dapat tumbuh,” demikian pesan yang mengemuka dalam sambutan tersebut.

Semangat perjumpaan itu terasa sepanjang gelaran Nusantara Youth Expo 2026. Bahkan, panggung musik tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga simbol kolaborasi melalui penampilan bersama band DKM dan IMPAS. Perbedaan komunitas dan latar belakang justru dipertemukan dalam ekspresi seni yang cair dan penuh energi.

Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Wali Kota Metro, Staf Ahli Wakil Gubernur Lampung, anggota DPRD Provinsi Lampung, pengusaha muda Lampung, serta para akademisi. Kehadiran berbagai unsur tersebut menciptakan suasana dialog yang lebih egaliter. Para tokoh dan peserta tidak hanya hadir dalam forum seremonial, tetapi juga duduk bersama, berbincang, dan berdiskusi dalam suasana santai tanpa sekat formalitas yang kaku.

Melalui Nusantara Youth Expo 2026, UIN Jurai Siwo Lampung menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda tidak cukup diperingati melalui seremoni dan slogan. Semangat itu perlu dihidupkan melalui ruang-ruang perjumpaan yang mempertemukan gagasan, merawat perbedaan, memperkuat solidaritas, serta membuka peluang kolaborasi nyata.

Pada akhirnya, kekuatan pemuda bukan hanya terletak pada keberanian menyuarakan kritik, melainkan juga pada kesediaan membangun komunikasi, merawat kepercayaan, dan mengambil bagian dalam perubahan. Dari ruang sederhana untuk saling menyapa, tumbuh kemungkinan besar bagi masa depan bangsa. ( )