Lampung Timur, metrouniv.ac.id – Pascasarjana menyelenggarakan Rapat Koordinasi strategis yang memfokuskan pembahasan pada akselerasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) serta transformasi mutu akademik sebagai pilar utama penguatan daya saing institusi. Rapat yang digelar pada Selasa (13/1) di ruang rapat pascasarjana UIN Jusila ini menargetkan peningkatan jumlah pendaftar PMB sebesar 15% pada tahun akademik mendatang, seiring dengan komitmen Pascasarjana untuk membangun kualitas pendidikan tinggi yang berkelanjutan dan berorientasi global.

Rapat yang juga diawali dengan serah terima jabatan dari manajemen lama ke manajemen baru tersebut menjadi forum konsolidasi kelembagaan dalam merespons dinamika pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, adaptif, dan menuntut diferensiasi mutu.

Pada sesi awal, Direktur PPs yang baru, Prof Dr. Akla sebagai pimpinan rapat memaparkan evaluasi komprehensif pelaksanaan PMB tahun sebelumnya, mencakup tren pendaftar, rasio penerimaan, hingga faktor-faktor determinan yang memengaruhi minat calon mahasiswa. Tantangan utama yang mengemuka antara lain ketatnya persaingan antarperguruan tinggi, persepsi publik terhadap mutu program studi, serta efektivitas strategi sosialisasi PMB. Evaluasi ini menegaskan perlunya pergeseran paradigma dari pendekatan promosi konvensional menuju strategi PMB yang lebih sistematis, kolaboratif, dan berbasis mutu akademik.
Lebih jauh, rapat menekankan bahwa peningkatan PMB tidak dapat dipisahkan dari penguatan kualitas akademik dan kelembagaan. Dalam konteks ini, penguatan Tridharma Perguruan Tinggi berbasis kolaborasi internasional menjadi agenda strategis utama. Internasionalisasi diposisikan bukan sekadar sebagai instrumen promosi, melainkan sebagai strategi substantif untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sekaligus memperluas rekognisi global Pascasarjana.

Sebagai bagian dari penguatan identitas dan citra kelembagaan, rapat menyepakati penataan ulang papan nama Pascasarjana dengan desain yang lebih representatif, modern, dan berwibawa. Penataan ini dipandang sebagai simbol profesionalisme institusi serta cerminan kesiapan Pascasarjana dalam berkompetisi di tingkat nasional dan internasional.

Rapat juga membahas pengajuan program penerbitan buku antologi sebanyak 3–5 judul tematik yang melibatkan dosen lintas program studi. Program ini dirancang untuk memperkuat budaya akademik, meningkatkan produktivitas dosen, serta menghasilkan luaran Tridharma Perguruan Tinggi yang berdampak nyata, khususnya dalam penguatan publikasi ilmiah dan rekognisi keilmuan.

Dalam upaya konkret internasionalisasi, rapat mengevaluasi dan mengapresiasi implementasi keterlibatan dosen internasional yang telah berjalan, yakni Reza Shaker (Universiteit Leiden, Belanda), Shahril (Malaysia), dan Ivory (Queensland, Australia). Kehadiran dosen internasional tersebut dinilai berhasil memperkaya atmosfer akademik, memperluas perspektif keilmuan mahasiswa, serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap kualitas Pascasarjana.

Agenda strategis lainnya adalah peninjauan ulang pemetaan dosen homebase untuk memastikan keselarasan keilmuan dengan program studi, efektivitas pembelajaran, serta pemenuhan standar akreditasi. Penataan ini dipandang krusial dalam menjaga mutu akademik sekaligus memperkuat kesiapan program studi dalam menghadapi proses akreditasi berkelanjutan.
Untuk mendukung target peningkatan PMB, rapat merumuskan penguatan strategi sosialisasi yang lebih adaptif dan berbasis jejaring, melalui optimalisasi media digital, pemberdayaan alumni sebagai duta institusi, serta pengembangan kerja sama dengan mitra strategis di tingkat nasional dan internasional. Strategi ini diarahkan agar sosialisasi PMB lebih tepat sasaran dan mampu menjangkau segmen calon mahasiswa potensial secara lebih luas.
Selain itu, rapat menegaskan kembali pentingnya evaluasi dan penguatan akreditasi program studi sebagai indikator utama mutu akademik dan fondasi kepercayaan publik. Akreditasi diposisikan bukan semata sebagai kewajiban administratif, melainkan sebagai instrumen strategis peningkatan kualitas berkelanjutan yang berdampak langsung pada reputasi dan minat pendaftar.
Dalam arahannya, Prof. Akla menegaskan bahwa seluruh agenda yang dirumuskan merupakan satu kesatuan kebijakan yang saling terintegrasi. “Target peningkatan PMB sebesar 15% tidak dapat dicapai hanya melalui promosi. Ia harus ditopang oleh akreditasi yang kuat, mutu akademik yang terjaga, serta internasionalisasi yang terencana. Komitmen kita adalah membangun kualitas secara konsisten agar Pascasarjana semakin dipercaya dan diminati,” tegasnya.

Melalui Rapat Koordinasi ini, Pascasarjana menyepakati langkah strategis terpadu yang mengintegrasikan peningkatan PMB, penguatan akreditasi, dan internasionalisasi sebagai arah kebijakan jangka menengah dan panjang. Kesepakatan ini diharapkan mampu mendorong transformasi Pascasarjana menuju pusat keunggulan akademik yang berdaya saing tinggi di tingkat nasional dan global.
(Ak)