Lampung Timur, metrouniv.ac.id – Kementerian Agama memiliki peran strategis layaknya imam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pandangan tersebut, sebagaimana dikutip dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, menegaskan bahwa Kementerian Agama bukan sekadar institusi administratif, melainkan penuntun moral, penjaga harmoni, dan benteng nilai kebangsaan di tengah dinamika masyarakat yang terus berkembang.

Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr. H. Andi Salman Maggalatung, S.H., M.H., Staf Ahli Menteri Agama Bidang Hukum dan HAM, saat memberikan pembinaan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan penguatan moderasi beragama di Gedung Academic Centre Kampus II UIN Jurai Siwo Lampung, pada Selasa, 24 Desember. Kegiatan ini dihadiri oleh ASN di lingkungan UIN Jurai Siwo Lampung serta ribuan guru yang tengah mengikuti prosesi pengukuhan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Dalam pemaparannya, Prof. Andi Salman menjelaskan bahwa jika Kementerian Agama diposisikan sebagai imam bangsa, maka seluruh jajarannya—mulai dari pimpinan, ASN, hingga para pendidik dan alumni PPG—harus tampil ke depan sebagai uswatun hasanah, teladan dalam sikap, kebijakan, dan praktik kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia menegaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara terbesar di dunia yang ditakdirkan hidup dalam kemajemukan agama, suku, budaya, dan tradisi. Keragaman tersebut merupakan modal sosial dan kekayaan bangsa yang wajib dirawat dengan kesadaran kolektif. Namun demikian, kemajemukan tidak serta-merta menghadirkan kedamaian tanpa fondasi nilai yang kokoh.

“Kerukunan umat beragama adalah pondasi utama dalam menjaga persatuan bangsa. Tanpa kerukunan, keberagaman justru berpotensi melahirkan konflik sosial,” ujarnya.
Sebagai simbol konkret dari ikhtiar tersebut, Prof. Andi Salman menyinggung terowongan silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta, sebagai penanda kuat persaudaraan lintas iman. Ia juga mengangkat momen bersejarah saat Menteri Agama RI Prof. Dr. Nasaruddin Umar, yang kala itu menjabat Imam Besar Masjid Istiqlal, menyambut kunjungan Paus Fransiskus ke Masjid Istiqlal pada September 2024.
Dalam peristiwa yang berlangsung spontan tersebut, Nasaruddin Umar mencium kening Paus Fransiskus, yang kemudian dibalas Paus dengan mencium tangan Nasaruddin Umar. Momen penuh kehangatan ini terekam kamera, menjadi viral di berbagai media, dan dipandang luas sebagai simbol persahabatan antaragama, dialog peradaban, serta wajah toleransi Indonesia di mata dunia.

Lebih lanjut, Prof. Andi Salman menegaskan bahwa semangat tersebut sejalan dengan Asta Protas (Delapan Program Prioritas) Kementerian Agama, yang menempatkan penguatan kerukunan umat beragama dan moderasi beragama sebagai pilar strategis dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam konteks itu, ia menekankan bahwa ASN Kementerian Agama, sivitas akademika UIN Jurai Siwo Lampung, serta para guru profesional alumni PPG memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan agama sebagai kekuatan pemersatu—agama yang menyejukkan, inklusif, dan berorientasi pada kemanusiaan.

Kegiatan pembinaan ini menjadi momentum penting bagi UIN Jurai Siwo Lampung dalam meneguhkan perannya sebagai ruang intelektual penguatan moderasi beragama, sekaligus memperkokoh komitmen seluruh ASN dan guru profesional untuk merawat Indonesia sebagai rumah bersama yang damai, berkeadaban, dan bermartabat.
(humas)