Lampung, metrouniv.ac.id – Penelitian sering kali dipahami sebatas aktivitas akademik yang berkutat pada teori, pengumpulan data, hingga penyusunan laporan ilmiah. Kampus dipandang hidup dalam dunia konseptual, sementara masyarakat berada pada realitas praktik kehidupan sehari-hari. Keduanya kerap dianggap memiliki jarak yang cukup lebar.
Namun, penelitian MORA The AIR Fund yang diketuai oleh Prof. Mufliha Wijayati salah satu Dosen UIN Jurai Siwo Lampung, justru menghadirkan wajah penelitian yang berbeda. Melalui riset bertajuk Village-Centered Child Protection Governance: Advokasi Kebijakan Pencegahan dan Penanganan Kawin Anak di Indonesia, penelitian ini membangun “chemistry romantis” antara perguruan tinggi dan masyarakat desa.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti tidak hadir sebagai pihak luar yang membawa teori untuk diuji semata. Sebaliknya, penelitian menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan akademik dan pengalaman hidup masyarakat. Di ruang itulah teori dan praktik saling berdialog, saling memahami, dan saling menguatkan.
Di Desa Rulung Raya, Lampung Selatan, proses penelitian berlangsung hangat, cair, dan penuh kedekatan. Tim peneliti berbaur bersama perangkat desa, kader, satgas desa, tenaga kesehatan, guru, tokoh agama, hingga kelompok orang tua tanpa sekat formalitas yang kaku. Suasana penelitian tidak terasa menegangkan, melainkan seperti ruang silaturahmi yang dipenuhi diskusi ringan, cerita kehidupan, dan tawa bersama.

Penelitian ini membuktikan bahwa pengetahuan tidak hanya lahir dari ruang kelas dan teori akademik, tetapi juga tumbuh dari pengalaman hidup masyarakat. Dari obrolan sederhana, candaan, hingga cerita keseharian warga, para peneliti menemukan banyak perspektif penting mengenai fenomena kawin anak, tekanan sosial, persoalan ekonomi, hingga nilai budaya dan agama yang hidup di tengah masyarakat desa.
Di balik proses pengumpulan data tersebut, terdapat ruang kemanusiaan yang begitu kuat. Ruang untuk berbagi pengalaman, memahami cara berpikir masyarakat, serta merajut pengalaman itu menjadi pengetahuan bersama. Dalam penelitian ini, masyarakat tidak diposisikan sebagai objek penelitian, melainkan sebagai mitra yang memiliki pengalaman hidup berharga untuk membangun solusi bersama.

Kehangatan itu terlihat ketika tim peneliti dan masyarakat berdiskusi santai mengenai bagaimana desa harus merespons fenomena kawin anak dan bagaimana tata kelola desa dapat diarahkan untuk memperkuat perlindungan anak berbasis komunitas.
Diskusi-diskusi tersebut menjadi bagian penting dalam upaya mendorong lahirnya model SOP lintas sektor, Peraturan Desa Ramah Anak, serta perangkat edukasi publik berbasis komunitas yang dapat direplikasi di berbagai wilayah di Indonesia. Suara masyarakat menjadi fondasi utama dalam penyusunan kebijakan desa sehingga kebijakan yang lahir tidak sekadar normatif, tetapi benar-benar sesuai dengan kebutuhan sosial masyarakat.
Kehadiran penelitian ini juga memperlihatkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat. Penelitian MORA The AIR Fund tidak hanya memperkuat kolaborasi antarperguruan tinggi seperti UIN Ponorogo, UIN Walisongo Semarang, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, IAI Darul Fattah Lampung, dan UIN Jurai Siwo Lampung, tetapi juga memperkuat sinergi emosional dan sosial antara kampus dan masyarakat.

Kerja-kerja penelitian di wilayah Lampung yang dilakukan oleh Mufliha Wijayati, Elfa Murdiana, dan Yesi Agustina Sari bersama mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah UIN Jurai Siwo Lampung semakin memperlihatkan bahwa riset dapat menjadi ruang pembelajaran bersama antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat.
Keterlibatan mahasiswa secara langsung di tengah masyarakat menjadi pengalaman penting untuk memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya dipelajari di ruang kuliah, tetapi juga di tengah kehidupan sosial masyarakat.
Momen kebersamaan ini juga dimanfaatkan sebagai ruang sosialisasi yang alami untuk memperkenalkan UIN Jurai Siwo Lampung kepada masyarakat.
“Ayok kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung, kampusnya nyaman, ramah, dan slow living,” ujar salah satu mahasiswa di sela-sela obrolan santai bersama warga.
Ajakan sederhana tersebut mendapat respons hangat dari masyarakat. Beberapa warga bahkan antusias bertanya mengenai biaya kuliah dan jurusan yang dapat dipilih untuk anak-anak mereka. Momen itu menjadi bukti bahwa kerja kolaboratif tridarma perguruan tinggi tidak harus selalu hadir dalam ruang akademik yang kaku, tetapi dapat tumbuh melalui bincang santai, kedekatan sosial, dan kebersamaan yang penuh makna.

Pada akhirnya, penelitian MORA The AIR Fund menghadirkan pesan penting bahwa penelitian bukan sekadar aktivitas akademik untuk menghasilkan data dan publikasi ilmiah. Penelitian juga merupakan ruang untuk menghadirkan kemanusiaan, membangun kedekatan sosial, dan mempertemukan dunia teoritik kampus dengan realitas praktik masyarakat dalam hubungan yang saling menghidupkan. Dari desa, penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan terbaik lahir ketika kampus dan masyarakat berjalan bersama.
Kontributor : Elfa Murdiana