Metro, metrouniv.ac.id – Di sela-sela kegiatan Rapat Kerja dan Character Building UIN Jurai Siwo Lampung yang digelar pada Kamis (12/02/2026), Rektor Ida Umami menyambut aksi mahasiswa dengan mengedepankan dialog interaktif dan terbuka.
Diketahui, belasan mahasiswa yang telah mengajukan surat tentang pemberitahuan aksi pada Selasa sore (11/02/2026). Para mahasiswa aksi sebelumnya berkumpul di Kampus II, lokasi berlangsungnya Rapat Kerja dan Character Building. Sejak pukul 07.00 WIB, Rektor telah menunggu untuk berdialog langsung dengan para mahasiswa di Kampus II serta mengutus Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Aria Septi Anggaira, bersama para Wakil Dekan III, beberpa kaprodi dan sekretaris prodi Fakultas untuk mengajak mahasiswa berdiskusi di lokasi tersebut.
“Hari ini para mahasiswa yang telah mengajukan surat aksi sudah kami tunggu. Saya sejak pagi menunggu di Kampus II dan meminta Wakil Rektor III serta Wakil Dekan Fakultas Syariah menjemput mahasiswa yang berkumpul di gerbang Kampus II untuk berdialog dan menyampaikan aspirasi,” ujar Ida Umami.
Namun, mahasiswa memilih bergerak menuju Kampus I. Mengingat kegiatan Rapat Kerja dan Character Building yang diikuti 114 perangkat akademik telah berlangsung sejak Selasa (10/02/2026) dan dijadwalkan hingga Jumat (14/02/2026) di Kampus I dan II, Rektor terlebih dahulu memastikan kegiatan berjalan kondusif sebelum menuju Kampus I untuk menemui mahasiswa.
Setibanya di Kampus I, Rektor langsung menuju Gedung Rektorat dan menemui mahasiswa di selasar lantai II (drop off zone). Ia mengajak mahasiswa duduk bersama agar suasana dialog lebih cair dan setara.
“Mari semua kawan-kawan mahasiswa duduk mendekat agar kita bisa berdiskusi dengan nyaman,” ajaknya.
Dalam dialog tersebut, perwakilan mahasiswa menyampaikan tuntutan agar Rektor mengundurkan diri terkait dugaan persoalan KIP saat menjabat sebagai Rektor di IAIDA pada 2023 serta dugaan pemalsuan dokumen persyaratan petugas haji tahun 2023.
Menanggapi hal itu, Ida Umami memberikan penjelasan secara rinci. Ia menerangkan bahwa program yang dimaksud adalah KIP Aspiratif untuk Perguruan Tinggi Swasta, berbeda dengan KIP reguler. Tawaran program tersebut dibawa oleh salah satu dosen dan telah melalui diskusi internal serta persetujuan Ketua Yayasan melalui Wakil Rektor II saat itu.
Ia juga menegaskan tidak ada pungutan kepada mahasiswa. Biaya akun sebesar Rp300.000 per mahasiswa direncanakan dibayarkan dari dana kupon bonus yayasan. Bahkan, karena dana yayasan belum tersedia saat pembayaran awal, ia menyatakan menggunakan dana pribadi sebesar Rp10.000.000 yang diambil dari dua ATM miliknya.
“Uang tersebut murni dari dana pribadi saya dan kemudian telah diganti oleh yayasan setelah memiliki dana,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa sebelum proses verifikasi program dilakukan, dirinya sudah tidak lagi menjabat sebagai Rektor IAIDA, dan pengelolaan program dilanjutkan oleh pihak yayasan.
Terkait dugaan pemalsuan dokumen, Ida Umami menyampaikan bahwa perkara tersebut telah melalui proses hukum dan dinyatakan selesai. Berdasarkan hasil verifikasi pihak kepolisian, laporan tidak terbukti dan telah diterbitkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) tertanggal 12 Juli 2024.
“Kasus tersebut telah dihentikan karena tidak terbukti, dan saya dinyatakan tidak bersalah,” tegasnya.
Di tengah dialog, sempat terdengar azan zuhur. Rektor meminta waktu untuk menunaikan salat zuhur di masjid kampus, dimana pada kesmepatan tersebut terjadi aksi tahan agar rektor menyelesaikan dialog tersbut. dan selajunya dialog dilanjutkan kembali usai sholat zuhur. Dalam kesempatan itu, mahasiswa meminta Rektor menandatangani pernyataan di atas materai. Namun, Rektor menolak menandatangani karena isi pernyataan dinilai sepihak dan memiliki konsekuensi hukum yang berat.
Usai dialog dengan mahasiswa, Rektor juga membuka ruang diskusi kepada awak media agar memperoleh informasi yang utuh dan berimbang, disertai data serta bukti yang akurat.