Takkan Berat Jika Mencintai

59sufri.jpg

 

Berseragam celana gelap, baju biru dengan sepatu hitam bahkan sering pula menggunakan kaos tebal dan ketat yang berlogo salah satu Institusi. Terlihat setiap hari di pos tempatnya bekerja, pagi hari dalam cuaca seperti apapun ia terjun di pinggir jalan depan kampus menggerakkan tangan dengan penuh aturan demi keamanan pengguna jalan. Lalu lalang kendaraan mengharuskan matanya untuk melihat dengan jeli dan berkonsentrasi ekstra. Supri, bapak dengan perawakan tinggi, dengan rambut yang nyaris gundul ini memiliki dua orang anak dan satu istri yang menjadi tanggung jawabnya kini bekerja sebagai penjaga keamanan disalah satu Institusi agama di Kota Metro.
 

Kampus IAIN Metro yang ia jaga terletak di Jalan Ki Hajar Dewantara 15a Kota Metro, tidak terlalu jauh dari tempatnya bermukim. Tinggal di Desa Pekalongan Lampung Timur membuatnya perlu menggunakan kendaraan untuk menuju ketempat pengabdian sekaligus tempat mencari rezeki. Motor butut selalu menemani perjalanan hidupnya, rasa malu bukan menjadi penghalang untuknya berjihad menjaga keamanan. “Berat tidak berat, tapi saya selalu mencintai apapun pekerjaannya,” ujar Supri saat berada di pos sembari menulis sesuatu di buku besar bersampul hijau saat di temui hari Sabtu lalu (9/9). Bekerja selama 4 tahun bukanlah waktu yang singkat, apalagi setiap hari ia harus bekerja selama 12 jam. Suasana kampus yang ramai, hiruk pikuk mahasiswa serta kebisingan berbagai kendaraan sudah menjadi hal biasa baginya. Menjadi pengaman kampus besar memang memiliki konsekuensi dan tanggung jawab yang besar. “Saya tak pernah merasa keberatan dengan pekerjaan ini, saya mencintainya,” tambah Supri disela-sela obrolan kami.

Ia bukan Tuhan yang menjadi penjaga yang tak terkalahkan, tetapi ia juga manusia yang memiliki berbagai macam kekurangan dan keraguan seperti yang lain. Menjadi penjaga keamanan bukan berarti tempat ia berjaga sepenuhnya aman, ia pernah bercerita bahwa di kampus ini pernah terjadi kehilangan helm bahkan sepeda motor. Ketika hal tersebut terjadi, sontak membuat fikiranya terasa kacau dan mengharuskan ia untuk bertindak dan berupaya lebih ekstra. Meskipun pimpinan kampus tidak menyalahkan dan menuntutnya, tapi hati nuraninya berkata bahwa ia telah gagal mewujudkan keamanan.

Berada di sebuah ruang petak ia tak sendiri, bersama beberapa teman seperjuangannya ia membagi keluh kesah tentang bagaimana kehidupannya. Anak pertamannya yang sudah menempuh pendidikan sekolah dasar tentu membutuhkan biaya untuk keberlangsungan proses pencarian ilmunya. Sedang anak kedua yang sudah masuk pendidikan TK, tentun perlu biaya untuk mencari ilmu dan menjadi generasi penerus bangsa. Ia berharap anak yang telah ia jaga dan ia banggakan kelak menjadi generasi penerus yang mampu membawa perubahan baik bagi orang lain. Ia juga selalu berpesan kepada anaknya agar selalu mencintai apapun pekerjaanya kelak.

 

Penulis: Elsa Putri

 

 

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.