Tim Peneliti MORA The AIR Fund Dosen UIN Jusila Soroti Tata Kelola Perlindungan Anak Berbasis Desa

Penelitian MoRA

Lampung, metrouniv.ac.id – Dua dosen UIN Jurai Siwo Lampung yang tergabung dalam tim peneliti program MORA The AIR Fund terus memperkuat upaya advokasi kebijakan pencegahan dan penanganan kawin anak melalui riset bertajuk Village-Centered Child Protection Governance: Advokasi Kebijakan Pencegahan dan Penanganan Kawin Anak di Indonesia. Penelitian tersebut diketuai oleh Prof. Dr. Mufliha Wijayati bersama Elfa Murdiana dan melibatkan sejumlah dosen dari berbagai perguruan tinggi keagamaan negeri maupun swasta di Indonesia.

Penelitian dilaksanakan di beberapa wilayah, yakni Ponorogo, Lampung Selatan, dan Lampung Timur sebagai bagian dari upaya memetakan praktik sosial, budaya, serta tata kelola perlindungan anak berbasis desa.

Di wilayah Lampung, proses pengumpulan data diawali dengan kegiatan koordinasi bersama Pemerintah Desa Rulung Raya, Lampung Selatan. Sambutan hangat Kepala Desa Rulung Raya, Winyoto, menjadi pintu awal yang memperlancar seluruh aktivitas penelitian di lapangan. Dukungan pemerintah desa tampak melalui keterbukaan akses informasi serta keterlibatan aktif masyarakat selama proses penelitian berlangsung.

Sejak 11 hingga 18 Mei 2026, tim peneliti Lampung melakukan pengumpulan data dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat sebagai informan, mulai dari kelompok orang tua, kader desa, satgas desa, aparatur pemerintahan desa, tenaga kesehatan, guru, hingga tokoh agama. Antusiasme masyarakat dalam memberikan informasi menunjukkan bahwa isu kawin anak masih menjadi persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat desa.

Berdasarkan hasil penelusuran data sementara, praktik kawin anak di masyarakat tidak dapat dilepaskan dari konstruksi sosial tentang kehormatan keluarga, faktor ekonomi, pendidikan, hingga cara pandang masyarakat terhadap norma agama dan moralitas sosial. Salah satu informan menyampaikan bahwa dalam kasus kehamilan di luar nikah, masyarakat cenderung menganggap pernikahan sebagai solusi tercepat untuk menjaga nama baik keluarga.

“Kalau sudah hamil duluan, biasanya keluarga langsung menikahkan supaya tidak jadi omongan tetangga. Masyarakat di sini masih menganggap itu jalan terbaik,” ungkap salah seorang informan.

Temuan lain menunjukkan adanya pergeseran cara pandang antargenerasi terkait usia ideal pernikahan. Generasi tua cenderung lebih menerima praktik perkawinan usia muda sebagai hal yang lumrah, sedangkan generasi muda mulai memandang pentingnya pendidikan, kesiapan ekonomi, dan kematangan psikologis sebelum menikah.

Menariknya, sejumlah informan dari unsur satgas desa dan aparatur pemerintah desa juga mengungkapkan bahwa dorongan menikah pada usia anak dalam beberapa kasus justru datang dari anak itu sendiri.

“Di sini ini yang kepingin nikah justru si anaknya, orang tua yang selalu memenuhi keinginan anaknya untuk menikah,” ujar salah seorang informan.

Pandangan serupa juga diperkuat oleh informan lain yang melihat pernikahan sebagai jalan untuk menghindari perilaku yang dianggap melanggar norma agama.

“Mosok sudah mau menikah, pakai dilarang. Daripada melakukan hal-hal yang dilarang agama kan lebih berbahaya lagi, Mbak,” tuturnya.

Sementara itu, kader desa menegaskan bahwa persoalan kawin anak juga sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan rendahnya akses pendidikan. Ketika keluarga tidak lagi mampu membiayai pendidikan anak, pernikahan sering kali dianggap sebagai pilihan paling realistis.

Beragam temuan tersebut memperlihatkan bahwa praktik kawin anak bukan semata persoalan hukum, melainkan persoalan multidimensional yang dipengaruhi oleh budaya, ekonomi, pendidikan, relasi keluarga, hingga konstruksi sosial-keagamaan di masyarakat. Karena itu, pendekatan perlindungan anak berbasis desa dinilai penting untuk memperkuat sistem pencegahan dan penanganan yang lebih responsif terhadap konteks sosial masyarakat setempat.

Dalam pelaksanaannya di wilayah Lampung, kerja-kerja penelitian yang dilakukan oleh Elfa Murdiana dan Yesi Agustina Sari juga melibatkan mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah UIN Jurai Siwo Lampung. Keterlibatan mahasiswa dalam proses penelitian lapangan menjadi bentuk nyata kolaborasi antara dosen dan mahasiswa dalam penguatan budaya akademik berbasis riset dan pengabdian kepada masyarakat.

Dukungan penuh dari UIN Jurai Siwo Lampung terhadap seluruh aktivitas penelitian ini menunjukkan komitmen kampus dalam menghadirkan riset yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat. Melalui keterlibatan aktif sivitas akademika, kampus terus menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang hadir bersama masyarakat dalam menjawab berbagai persoalan sosial, khususnya terkait perlindungan perempuan dan anak.

Riset MORA The AIR Fund yang diketuai oleh Prof. Dr. Mufliha Wijayati bersama tim peneliti dari berbagai perguruan tinggi, seperti UIN Ponorogo, UIN Walisongo Semarang, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, IAI Darul Fattah Lampung, dan UIN Jurai Siwo Lampung menjadi wujud nyata kolaborasi antarperguruan tinggi dalam membangun tata kelola perlindungan anak yang lebih kuat, partisipatif, dan berbasis kebutuhan masyarakat desa di Indonesia.

Kontributor : Elfa Murdiana

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.