Lampung Timur, metrouniv ac.id – Penguatan peran pesantren kembali ditegaskan dalam kegiatan Penguatan Direktorat Jenderal Pesantren yang berlangsung di Gedung Academic Centre (GAC) Kampus 2 UIN Jurai Siwo Lampung, Sabtu (16/5). Di hadapan 1500 peserta yang terdiri atas ASN UIN Jusila, mahasiswa, alumni, jajaran Kantor Kementerian Agama, santri dan pimpinan pesantren, Direktur direktorat Pesantren Kementerian Agama RI, Basnang Said, menyampaikan penguatan sekaligus refleksi mengenai posisi strategis pesantren dalam kehidupan bangsa.

Dalam paparannya, direktur mengulas perjalanan panjang perjuangan pesantren hingga akhirnya memiliki posisi kuat di struktur pemerintahan melalui Direktorat Jenderal Pesantren. Menurut dia, sebelum era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, urusan pesantren masih berada pada level eselon III. Seiring waktu kelembagaan tersebut kemudian meningkat menjadi eselon II hingga akhirnya pada era Presiden Prabowo Subianto resmi menjadi Direktorat Jenderal Pesantren sebagai eselon I di lingkungan Kementerian Agama.

Ia menegaskan, capaian tersebut bukan sekadar perubahan struktur birokrasi, melainkan bentuk pengakuan negara terhadap peran historis pesantren dalam perjuangan kemerdekaan, pendidikan umat, serta pembinaan moral masyarakat.
“Pesantren sejak awal telah menjadi bagian penting dalam menjaga bangsa dan membangun karakter masyarakat,” ujarnya.
Di sela penyampaiannya, direktur sempat melontarkan apresiasi terhadap penataan dan upaya penghijauan lingkungan Kampus UIN Jusila yang dinilainya asri dan tertata baik.

“Kalau rektornya perempuan, biasanya kampusnya jadi lebih asri. Dan itu terlihat di UIN Jusila,” ungkapnya disambut tepuk tangan hadirin.
Sementara itu, Rektor UIN Jurai Siwo Lampung, Ida Umami, menyampaikan apresiasi atas dukungan direktorat Jenderal Pesantren melalui kuota beasiswa santri bagi UIN Jusila.

Usai memberikan penguatan, direktur meninjau langsung kondisi Kampus 2 UIN Jusila serta progres pembangunan Gedung Laboratorium Terpadu. Peninjauan dilakukan bersama rektor dan jajaran wakil rektor sebagai bagian dari perhatian terhadap pengembangan sarana akademik kampus.

Sementara itu, agenda di dalam Gedung Academic Centre tetap berlanjut melalui bedah buku tokoh besar Nahdlatul Ulama, Abdul Wahab Hasbullah. Diskusi menghadirkan penulis buku, Abdul Munim, serta Bupati Lampung Timur yang hadir sebagai praktisi.

Kegiatan tersebut terasa semakin bermakna dengan hadirnya beberapa anggota keluarga almarhum KH Abdul Wahab Hasbullah. Kehadiran keluarga besar pendiri NU itu menghadirkan nuansa historis sekaligus memperkuat ikatan emosional dalam pembahasan pemikiran, perjuangan, dan warisan intelektual sang ulama bagi bangsa Indonesia. ( )