Lesson
Learnt from Academic Journey to Monash University-Melbourne (Part 1)
Perjalanan ke
Melbourne-Victoria di awal September ini, buat saya sangatlah spesial. Pertama,
ini adalah perjalanan ilmiah saya yang pertama di Australia, untuk mengunjungi
kampus selain Australian Nasional University. PIES Program memang luar biasa,
setelah Agustus lalu meng-arrage
acara diskusi lintas kampus dengan menghadirkan Ph. D students dari kampus UNSW
dan ANU untuk duduk bersama saling ‘curhat’ research
project masing-masing, September ini PIES students diterbangkan ke sisi
lain benua Australia di Victoria menjumpai dedicated professor Monash
University. Berjumpa untuk ngangsu
kaweruh ragam intellectual
achievement yang mereka torehkan tentang menulis buku, artikel jurnal,
riset kolaboratif post-doctoral, dan
tentu di forum ini kami diberi panggung untuk ‘unjuk’ riset masing-masing.
Bulan depan, giliran Sydney dan November kembali ke Melbourne lagi. Semoga
diridhai.
Kedua, saat menjadi
pembelajar ‘unyu-unyu’, Monash adalah satu-satunya kampus Australia yang saya
kenal. Saya tidak tau UNSW, UC, Western
University, Queensland University, Melbourne university, bahkan ANU pun sebagai
salah satu kampus terbaik di Australia baru saya kenal melalui program PIES.
Namanya juga pembelajar ‘unyu-unyu’, suka merasa mencukupkan diri dengan
pengetahuan yang di depan mata, padahal dunia ini terhampar begitu luas untuk
menjadi sumber pengetahuan. Maka mengunjunginya buat saya seperti mimpi yang
mewujud di siang bolong. Bisa jumpa dan duduk satu meja dengan Gus Nadir yang
biasanya hanya nge-like atau nge-share kuliah-kuliahnya melalui jagad
medsos facebook. Dan tentu, mengunjungi Monash tiga hari membuat saya mengenal
lebih dekat bahwa kampus ini adalah kampus yang memiliki jumlah mahasiswa
terbanyak di Australia (70.000an) dan menjadi salah satu kampus rujukan paling
otoritatif tentang kajian Indonesia di Australia di samping ANU. Dan hebatnya
lagi, ada banyak scholars asal
Indonesia yang mendedikasikan dirinya di Monash University, yang tak kalah
terang dan bersinarnya bersanding dengan scholars
lainnya. Beruntung, saya bisa menjumpai mereka untuk sejenak membersamai
menyambungkan sanad pengetahuan dengan orang-orang hebat. Terimakasih Gus
Nadir, Prof Ariel, Ibu Yacinta, Ibu Anita, dan Mba Rheny. Tak lupa para Ph. D students yang keren-keren juga.
Ketiga, Kunjungan ini
mempertemukan saya dengan kolega satu ruang kerja saat di kampung halaman, yang
sedang menyelesaikan Ph. D nya di Monash. Terimakasih untuk Prof. Ervan dan mba
Wilda yang sudah menjadi tuan rumah yang luar biasa. Saya tak pernah
membayangkan bisa berjumpa orang baik seperti mereka di benua ini, terlebih Prof.
Ervan dan Supervisornya Prof. Julian Millie sendiri yang menjadi host kunjungan
kami.
Ada tiga kata kunci yang
terekam dari rihlah ilmiah ke Monash University; black swan,
kerja-kerja-kerja, dan kolegialitas. Kata kunci kedua tak ada hubungannya
dengan copras capres, karena kata kunci ini konteksnya adalah how become a good scholar.
Kata ‘black swan’ saya dengar
dari Prof. Julian Millie saat memberikan feedback kritis terhadap presentasi riset
PIES Students di hari ketiga. Bahwa
riset yang dilakukan oleh pembelajar harus ada bedanya dengan researchers
sebelumnya. What is the novelty, apa
kontribusimu, apa distingsimu? Kalau kemudian hanya sama dan mengulang apa yang
sudah dilakukan orang lain, so what? “So what?” adalah pertanyaan paling
‘menyakitkan’ bagi seorang peneliti setelah berdarah-darah melakukan penelitian
selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, dan tiba-tiba ada yang
bertanya, so what?? Maka, peneliti
harus bisa menjadi ‘black swan’ di
antara swan yang umumnya berwarna
putih. Memberi warna lain, agar banyak mata tertuju padamu.
Gus Nadir di sessi “Transition from Study to Career” juga
menyebut hal yang sama dengan Bahasa yang berbeda. “Orang tidak akan melirik
kamu kalau kamu itu ‘sama’. Ya, harus punya comparative
advantages, yang kreatif lah”, begitu tutur gus Nadir saat memberi wejangan
pada kami. Kalau hanya biasa-biasa saja,
kita hanya akan mengulang sejarah dan tak ada hal baru yang bisa ditorehkan
sebagai bagian dari sejarah.
Logika ‘black swan’ ini digunakan dalam proses
transformasi STAIN-IAIN-UIN. Bahwa masing-masing institusi harus memiliki
distingsi yang menjadikannya berbeda dan unggul di antara kampus yang lainnya.
Pilihan menjadi kampus peradaban, kampus pengabdian, kampus inklusif, kampus
hijau, kampus enterpreunership, atau apapun tentu harus mempertimbangkan
potensi sumberdaya, local value, dan kebermanfaatannya sebagai center of excellent. Tentu distingsi ini
tidak hanya indah di atas kertas, namun harus bisa terbaca dalam realitas.
Dibutuhkan kerja…kerja kerja…. Sebagai kata kunci yang kedua.
Hampir semua narasumber
dalam kunjungan kami mensupport untuk bekerja keras. Hidup itu harus diperjuangkan. Ibu Yacinta
dengan semangat membara menularkan virus “kerja…kerja….kerja”. Gus Nadir juga
menekankan bahwa menjadi ‘berbeda’ itu meniscayakan kommitmen untuk kerja
keras, yang bisa jadi tiga kali lipat atau sepuluh kali lipat dari yang
dilakukan orang lain. 1 artikel terbit di jurnal international, yang dianggap
sebagai pencapaian bisa jadi itu adalah artikel ke 99 yang kita kirim ke
redaksi jurnal dan 98 nya semuanya ditolak. Butuh kerja keras dan jangan pernah
menyerah untuk kebaikan. Dalam perjalanannya, harus ada peningkatan bahwa hari
ini harus lebih baik dari hari kemaren, dan esok harus lebih cemerlang dari
hari ini. Saya teringat kata bijak yang sudah kubatinkan sejak sekolah di
asrama Solo, “Sebesar keinsyafanmu sebesar itu pula pencapaianmu”.
Ketiga adalah tentang
kolegialitas. Menjadi unggul dan berbeda tentu butuh orang lain. Ada
‘tangan-tangan’ yang bergerak yang menghantarkan seseorang pada sebuah
pencapaian. Jangan pernah merasa bahwa menjadi yang terbaik itu karena kedirian
kita semata. Tak kan menjadi terbaik, jika yang biasa-biasa itu tidak ada.
Tidak menjadi yang terharum jika bau busuk itu tidak ada. Maka bermitralah
dalam bekerja. Harus ada keinsyafan dan
kerelaan untuk saling mendukung dan berbagi. Enyahkan rasa ‘keakuan’ dan
batinkan menjadi rasa ‘kita’ untuk ‘saling’; mengasihi, mengayomi, menghormati,
dan saling mendukung dalam kebaikan. Aku
bukanlah siapa-siapa tanpa kamu dan kamu, iya….kamu….hey, iyaa kamu.
Terakhir, masuk area
Monash University kampus Clayton (baca: Klaten), terutama di seputaran Meinzis
Building, saya merasa berada di kampus Biru UGM. Ada aroma lembah-lembah UGM
gitu. Tapi sayang, saya mau cari bonbin sastra di Monash, ga ketemu (Hanya anak
yujiem yang tau). Maka tidak berlebihan
kalau kolega saya menyebut Melbourne sebagai ‘jogjanya’ Australia, dan Monash
adalah yujiemnya Melbourne. Itu rasaku, bagaimana rasamu, boleh beda.
Spring in Canberra.