Abstract dan Repository Kampus

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 22/06/2024 – 15 Dzulhijjjah 1445 H

Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Dekan 3 FUAD/Guru Besar Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di IAIN Metro)

 “If content is king, abstract is queen”

Jika sebuah karya ilmiah adalah ibarat raja dalam permainan catur, abstract adalah perdana menterinya. Orang berkata, tidak ada rumus pasti untuk memenangkan permainan catur. Namun, peluang kemenangan akan besar jika pemain masih memiliki perdana menteri. Thus, abstract  yang solid, memperbesar peluang sebuah karya ilmiah untuk dibaca dan disitasi.

Sementara itu, artikel yang bagus tidak selalu ditulis dalam bahasa Inggris. Namun, kebanyakan artikel bagus, yang ditulis dalam bahasa selain Inggris, memuat abstrak berbahasa Inggris (abstract). Karenanya, setelah judul, abstract menjadi aspek penting dari sebuah karya ilmiah. Abstract adalah semacam ‘ringkasan’ karya ilmiah yang memuat informasi padat, namun relatif utuh.

Seberapa padat? Seberapa utuh? Orang berkata, semua data adalah informasi. Tetapi, tidak semua informasi adalah data. Terkait karya ilmiah dan abstract-nya, kita bisa berkata: semua kalimat dari bagian introduction hingga conclusion adalah informasi. Namun, tidak semua informasi tersebut dapat dimasukkan ke dalam abstract. Berdasar pengalaman terbatas penulis, ada, paling tidak, delapan poin yang sebaiknya muncul dalam sebuah abstract. Kedelapan poin berikut masing-masing, seyogyanya, ditulis dalam 1-2 kalimat untuk mendapatkan tingkat kepadatan dan keutuhan yang baik.

Pertama, problem statement atau permasalahan penelitian.  Kedua, research focus atau semacam pertanyaan penelitian. Di sini ada perbedaan subtil (baca: halus) antara permasalahan penelitian dan pertanyaan penelitian. Permasalahan penelitian lebih ‘luas’ dari pertanyaan penelitian. Dengan kata lain, pertanyaan penelitian lebih ‘spesifik’ dari permasalahan penelitian. Sehingga, satu permasalahan penelitian bisa diturunkan menjadi beberapa pertanyaan penelitian. Ketiga, research inquiry atau jenis penelitian semisal studi kasus, survei, dan sebagainya. Keempat, sources of evidence yang merujuk pada sumber data seperti tes, wawancara, kuesioner, wa ghoiru dzaalik (baca:dan sebagainya).

Kelima, analysis atau informasi terkait teknik analisis data. Keenam, findings yang mengacu pada temuan penelitian. Ketujuh, implications atau informasi terkait bagaimana hasil penelitian dapat digunakan oleh pihak lain. Kedelapan, keywords yang memuat 3-5 konsep atau isitilah kunci yang bertalian dengan topik penelitian. Keywords sebaiknya disajikan secara alfabetis. Delapan komponen abstract tersebut, tentu bukan harga mati. Namun lebih kepada sebuah praktik baik (best practice) yang penulis dapatkan dari sebuah pembimbingan kepenulisan untuk publikasi internasional.

Akhirnya, penulis percaya bahwa karya ilmiah yang baik tidak harus ditulis dalam bahasa Inggris. Namun begitu, ditulis dalam bahasa apapun, sebuah karya ilmiah yang baik, perlu dilengkapi dengan abstract. Karena dengan begitu, karya ilmiah dapat menjangkau audiens pembaca yang lebih luas. Syahdan, mungkin sudah saatnya ada kebijakan (policy) terkait pencantuman abstract berbahasa Inggris untuk semua skripsi mahasiswa IAIN Metro yang disimpan dalam repository kampus. Dengan begitu, karya mahasiswa dapat diakses secara lebih masif. Jika belum sekarang, mungkin saja suatu hari nanti. Jika tidak sekarang, mari kita main catur dulu seraya meresapi adagium buatan: if content is king, abstract is queen.

Tabiik.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.